
Surabaya (Trigger.id) – Sarapan kerap disebut sebagai fondasi energi di awal hari. Namun di Indonesia, perdebatan soal pilihan menu sarapan sering mengerucut pada dua kubu utama: nasi atau roti. Keduanya sama-sama sumber karbohidrat, tetapi memiliki karakter gizi dan dampak kesehatan yang berbeda.
Kandungan Gizi: Sama-sama Karbohidrat, Beda Karakter
Nasi—terutama nasi putih—merupakan sumber karbohidrat sederhana dengan indeks glikemik relatif tinggi. Artinya, nasi cepat diubah menjadi gula darah dan memberi energi dengan cepat, tetapi juga lebih cepat menimbulkan rasa lapar bila dikonsumsi tanpa lauk pendamping yang tepat.
Sementara itu, roti memiliki variasi yang lebih luas. Roti putih cenderung mirip dengan nasi putih dari sisi indeks glikemik. Namun roti gandum utuh (whole wheat) mengandung serat lebih tinggi, vitamin B, serta mineral yang membantu rasa kenyang bertahan lebih lama.
Menurut dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, ahli gizi klinik dan dosen gizi, perbedaan utama bukan semata nasi atau roti, melainkan jenis dan cara mengonsumsinya.
“Karbohidrat tetap dibutuhkan tubuh saat sarapan. Yang menentukan sehat atau tidak adalah kualitas karbohidrat dan kombinasinya dengan protein, lemak sehat, serta serat,” ujarnya.
Dampak pada Gula Darah dan Energi
Nasi putih yang dikonsumsi sendirian berpotensi menyebabkan lonjakan gula darah. Kondisi ini bisa membuat tubuh cepat lelah dan lapar kembali. Sebaliknya, nasi merah atau nasi dengan lauk berprotein seperti telur, ikan, dan sayur dapat memperlambat penyerapan gula.
Roti gandum utuh dinilai lebih stabil dalam menjaga kadar gula darah karena kandungan seratnya. Namun, roti dengan tambahan gula, mentega berlebih, atau selai manis justru bisa menjadi tinggi kalori dan rendah zat gizi.
Prof. Hardinsyah, PhD, pakar gizi masyarakat dan Guru Besar Ilmu Gizi, menekankan pentingnya keseimbangan.
“Baik nasi maupun roti tidak otomatis tidak sehat. Masalah muncul ketika sarapan hanya berisi karbohidrat tanpa protein dan serat, sehingga tidak memenuhi prinsip gizi seimbang,” jelasnya.
Mana yang Lebih Cocok untuk Sarapan?
Pilihan terbaik sangat bergantung pada kebutuhan dan kondisi masing-masing individu:
- Aktivitas fisik tinggi: Nasi dengan lauk lengkap dapat memberi energi cepat dan cukup.
- Sedang menjaga berat badan atau gula darah: Roti gandum utuh atau nasi merah dengan protein dan sayur lebih dianjurkan.
- Masalah pencernaan atau lambung: Nasi cenderung lebih mudah dicerna, asalkan tidak berlebihan.
Tidak ada jawaban tunggal soal mana yang lebih sehat antara nasi atau roti. Keduanya bisa menjadi pilihan sarapan yang baik jika dipilih dengan tepat dan dikombinasikan secara seimbang. Kunci sarapan sehat bukan pada “nasi atau roti”, melainkan pada kualitas bahan, porsi yang sesuai, serta kelengkapan gizi di dalamnya. (ian)



Tinggalkan Balasan