• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Perspektif Ilmiah Manfaat dan Mudarat Babi

7 Maret 2025 by admin Tinggalkan Komentar

Oleh: Ari Baskoro*

Bulan Ramadan selalu membangkitkan memori indah kehidupan masa kecil di kampung. Suasana riang menyambut Ramadan, selalu dinantikan kami semua teman sepermainan. Saat bulan suci itulah, kami mendapatkan pembelajaran agama dan keimanan dengan lebih intens. Surau kampung (lazim disebut “langgar”), merupakan tempat pendidikan ekstra kurikuler yang menyenangkan. Sesuai jaman, pola pekerti yang ditanamkan saat itu, lebih dominan bersifat dogma. Minim sekali mengaitkannya dengan basis ilmiah.

Makanan halal dan haram, merupakan ilustrasi bahasan yang paling sering disampaikan ustaz. Babi adalah salah satu contoh makanan yang diharamkan bagi umat Islam. Potensi menyebabkan beberapa penyakit, khususnya cacing pita, menjadi argumennya saat itu. Perlahan tapi pasti, perkembangan ilmu pengetahuan semakin mampu menguak tabir di balik diksi pengharaman konsumsi babi.

Beda genom manusia dan genom babi

Setiap manusia diperkirakan memiliki 20 ribu hingga 25 ribu gen. Semuanya tersimpan dalam suatu untaian molekul panjang yang disebut DNA (Deoxyribonucleic acid). Berbagai unsur kimiawi dalam DNA, mengandung informasi genetik. Ibarat kita membaca suatu kalimat yang tertera dalam suatu halaman buku, di situ tersirat adanya pesan tertentu. DNA menggunakan “bahasa” yang disebut kode genetik. Itu dapat “dibaca” oleh sel-sel hidup, untuk menghasilkan sifat-sifat tertentu.

Ilmu genetika telah banyak menjelaskan peran gen seseorang (genotipe), dalam membentuk tampilan (fenotipe) keturunannya. Ringkasnya, fenotipe seseorang merupakan hasil interaksi antara struktur gen yang dimiliki dan pengaruh lingkungan. Ada beberapa contoh yang mudah dipahami. Langkah kaki seorang anak, hampir tidak bisa dibedakan dengan ayahnya. Cara berbicara, hobi, hingga model rambutnya pun, sangat mirip. Kata orang bagaikan pinang dibelah dua. Peribahasa mengatakan, buah kalau jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.

Apabila gen-gen dan semua materi genetik dikumpulkan, jadilah suatu genom. Ternyata genom manusia sangat mirip dengan genom babi. Kemiripan itu tidak serta merta membawa pengaruh pada sifat dan kesamaan bentuk (fenotipe). Tingkat kemiripan genom manusia dan babi, sekitar 90 persen. Bagaimanakah implikasinya ? Ada beberapa contoh soal manfaat dan mudaratnya.

Sisi manfaat

Diabetes sering kali disebut sebagai ibu dari segala penyakit. Pasalnya, dapat memicu berbagai komplikasi/penyulit pada berbagai organ tubuh. Penyakit jantung koroner, strok, gagal ginjal kronik, penyakit pembuluh darah, dan pelemakan hati, bisa merupakan dampak diabetes dalam jangka panjang. Risiko mengalami kebutaan dapat meningkat hingga 25 kali lipat, dibanding orang yang sehat.

Menilik sejarahnya, riset cikal bakal insulin dilakukan oleh Frederick Banting dan Charles Best pada tahun 1922. Temuan itu merupakan tonggak sejarah tata laksana diabetes. Semula, insulin diekstrak dari pankreas hewan. Selanjutnya dimurnikan. Insulin manusia merupakan protein yang terdiri dari 51 rangkaian asam amino. Perbedaannya dengan insulin babi, hanya pada satu asam amino yang terletak di posisi 30. Sedangkan insulin sapi, berbeda tiga asam amino pada posisi 8,10, dan 30. Semakin banyak perbedaan asam amino, semakin meningkat pula risiko sebagai antigen/alergen. Artinya, berpotensi besar memantik respons imun dan menginduksi reaksi alergi yang bisa membahayakan jiwa. Kini insulin babi dan sapi tidak digunakan lagi. Bentuk sediaannya telah digantikan sepenuhnya oleh insulin manusia, melalui teknologi rekombinan dan pemurnian.

Tingkat kemiripan genom babi yang tinggi, bermanfaat pula bagi riset medis. Misalnya sebagai media yang paling sesuai untuk uji klinis obat, toksikologi, dan model biomedis penyakit pada manusia (terutama penyakit genetik/”keturunan”). Riset cangkok jaringan/organ antar spesies/xenotransplantasi (misalnya dari babi ke manusia), telah banyak dilakukan. Tingkat keberhasilannya cukup tinggi, meski masih berisiko memicu reaksi imun. Modalitas tersebut dilakukan, terkait sulitnya mendapatkan donor organ (contohnya ginjal, jantung) antar manusia.

Sisi mudarat

Ada terminologi yang mungkin tidak terlalu dipahami awam, tetapi penting untuk diketahui. Virus influenza memiliki banyak struktur. Namun yang krusial dan berdampak langsung pada manifestasi penyakit, diberi kode H/HA (hemaglutinin) dan N/NA (Neuramidase). Hingga kini setidaknya ada 16 subtipe H dan sembilan subtipe N. Virus influenza memiliki tingkat evolusi tertinggi, di antara semua mikroba. Artinya setiap saat mampu bertukar materi genetik di antara subtipe H dan N. Contoh yang paling fenomenal adalah virus influenza A subtipe H1N1. Virus tersebut bertanggungjawab atas pandemi flu Spanyol tahun 1918.

Virus influenza terdiri dari tiga “marga” (genus), yaitu influenza A,B, dan C. Di antara ketiganya, virus influenza A paling ganas bila menginfeksi manusia. Namun juga bisa menyerang hewan, khususnya unggas dan babi. Genus B secara eksklusif hanya menyerang manusia, sedangkan genus C bisa menginfeksi manusia, anjing, dan babi. Infeksi oleh genus C sangat jarang terjadi. Biasanya hanya menimbulkan penyakit ringan pada anak.

Flu babi disebabkan oleh virus influenza tipe A. Dalam laporan epidemiologi, flu babi sering memicu terjadinya wabah pada hewan ternak tersebut. Sejatinya tidak terlalu mudah bagi virus tersebut “meloncat”, menginfeksi manusia. Bila mampu memantik penularan pada manusia, dikategorikan sebagai virus influenza varian. Misalnya virus influenza A(H3N2) yang secara primer menyerang babi. Namun bila “meloncat” menginfeksi manusia, disebut dengan “varian H3N2”. Secara virologi, diberi kode “H3N2v”.

Lagi-lagi virus influenza A H1N1 menimbulkan wabah pada tahun 2009. Meski diberi kode tipe A H1N1, tetapi sedikit berbeda dengan virus “nenek moyangnya” yang asli (virus flu Spanyol). Virus “keturunan” itu, disebut dengan strain virus H1N1/pdm09 yang bersumber dari babi. Pdm 09 mengartikan pandemi tahun 2009. Oleh karena itu, peristiwanya lebih dikenal dengan pandemi flu babi.

Contoh galur virus lainnya, bersumber dari unggas/burung. Terminologinya adalah H5N1. Jenis flu tersebut, pernah memicu wabah di Indonesia.

Inang alamiah

Sejauh ini, inang paling ideal untuk virus influenza adalah manusia, unggas (terutama burung liar), dan babi. Virus influenza yang menyerang babi, mendapatkan perhatian khusus. Potensi bahayanya sangat tinggi, bila ada dua jenis virus menyerang secara bersamaan. “Perkawinan” keduanya pada babi, bisa “melahirkan” virus influenza jenis baru yang berbeda dengan kedua “induknya”. Perubahannya bisa hanya sebagian, tetapi bisa juga total. Virus “keturunan” baru itulah yang bisa sangat berbahaya.

Sejatinya hampir seluruh penduduk dunia sudah pernah terpapar oleh virus influenza. Hal itu bisa dibuktikan melalui deteksi keberadaan antibodi. Meski antibodi tersebut dapat bertahan lama, tetapi sifatnya parsial/tidak lengkap. Artinya, apabila “lahir” jenis virus influenza strain baru, antibodi yang sudah terbentuk tidak mampu memberi proteksi lagi. Akibatnya berisiko menyebar dengan cepat, bahkan memantik epidemi musiman dan pandemi berkala.

Allah menciptakan kehidupan bagi semua makhluk-Nya lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Di balik penciptaan babi, pasti ada hikmah yang tidak sepenuhnya dapat ditangkap oleh akal manusia. Wallahu A’lam Bishawab (Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran sesungguhnya).

—–o—–

*Penulis:

  • Staf pengajar senior di Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya
  • Magister Ilmu Kesehatan Olahraga (IKESOR) Unair
  • Penulis buku:
    – Serial Kajian COVID-19 (tiga seri)
    – Serba-serbi Obrolan Medis
    – Catatan Harian Seorang Dokter
Share This :

Ditempatkan di bawah: Kesehatan, update, wawasan Ditag dengan:Ari Baskoro, Babi, Ilmiah, Manfaat, Mudarat, Perspektif

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Serangan Israel Berlanjut, Iran Ancam Tutup Kembali Selat Hormuz

9 April 2026 By admin

Liga Champions: PSG Unggul, Liverpool Masih Berpeluang

9 April 2026 By admin

Gencatan Senjata AS–Iran, Israel Siap Lanjutkan Perang

9 April 2026 By admin

Kenaikan Avtur Tak Bebani Jamaah Haji

9 April 2026 By admin

Gencatan Senjata Tercapai, Selat Hormuz Dibuka Dua Pekan

9 April 2026 By admin

Biaya Haji Berpotensi Naik, Presiden: Jangan Bebani Jamaah

8 April 2026 By admin

Pemkot Surabaya Larang Siswa SMP Mengendarai Motor

8 April 2026 By admin

Madrid Kembali Tersungkur, Bayern Munich Bawa Pulang Keunggulan

8 April 2026 By admin

Avtur Melonjak, Pemerintah Pastikan Biaya Haji Tak Membebani Jamaah

8 April 2026 By admin

Jangan Tunggu Gagal Panen, DPRD Jatim Alarm Keras Ancaman Kekeringan

8 April 2026 By admin

Kontroversi Kesehatan Mental Pemimpin Lansia: Antara Biologi Penuaan dan Dampak Kebijakan

8 April 2026 By admin

Rusunami Gen Z Surabaya: Hunian Modern Bagi Pasangan Muda

7 April 2026 By zam

Inggris Batasi AS Gunakan Pangkalan untuk Serang Iran

7 April 2026 By admin

Saat Parkir Tak Lagi Tunai: 600 Jukir Surabaya Tersingkir di Era Digitalisasi

7 April 2026 By admin

Sumpah Balas IRGC di Tengah Gugurnya Jenderal Intelijen

7 April 2026 By admin

Taylor Swift Digugat Soal Merek “Showgirl”

7 April 2026 By admin

Awan Gelap Tenaga Medis di Hari Kesehatan Sedunia

7 April 2026 By admin

Obat Penurun Berat Badan: Harapan Baru, Tapi Bukan Jalan Pintas

6 April 2026 By admin

Dana Haji Rp180 Triliun, Amanah Besar yang Dikelola Transparan

6 April 2026 By admin

Inter Libas Roma 5-2, Makin Kokoh di Puncak

6 April 2026 By admin

Trump Ancam Iran, Singgung Nama Allah

6 April 2026 By admin

WFH Rabu atau Jumat, Mana Lebih Efektif? Ini Kata Pakar dan ASN Jatim

5 April 2026 By zam

Dikunjungi Amsal Sitepu, Menteri Ekraf Tegaskan Peran Penting Pegiat Ekonomi Kreatif Daerah

5 April 2026 By zam

Ronaldo Ucap “Bismillah” Sebelum Cetak Gol Penalti?

5 April 2026 By admin

Selena Gomez, Dari Salah Diagnosis hingga Berdamai dengan Bipolar

5 April 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Mar    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Wajah Baru Birokrasi Surabaya, Jumat Kerja dari Rumah Kinerja Tetap Dikejar
  • Operasi Senyap KPK di Jawa Timur: Alarm Keras bagi Moral Kepemimpinan Daerah
  • Wamenhaj Ungkap Skema “War Ticket” Haji untuk Pangkas Antrean
  • Perempuan Dominasi Pengguna Medsos, IKWI Jatim Dorong Literasi Digital Keluarga
  • Dari Tepuk Tangan Penonton ke Lagu Legendaris, Kisah di Balik “We Will Rock You”

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.