

Publik memang kreatif. Mereka “mengungguli” Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam menyematkan gelar “super flu”, pada jenis influenza terbaru. Padahal, baik WHO maupun Pusat Pengendalian dan Penyakit (CDC) AS, masih mempelajari “tingkah laku” varian virus influenza yang kini marak. Banyak negara di dunia yang telah melaporkan peningkatan insidennya. Amerika Serikat (AS) adalah negara pertama yang mengawali laporan epidemiologinya. Pihak berwenang setempat menyatakan, “super flu” mencapai puncak rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Sedikitnya ada 34 negara lainnya yang melaporkan fenomena serupa. Terutama Inggris, Jepang, Kanada, Australia, dan beberapa negara di Eropa. Mungkin negara kita relatif “terlambat” merilisnya. Kementerian Kesehatan RI telah mendeteksi sebaran “super flu”, sejak 25 Desember 2025. Sedikitnya telah melaporkan sebanyak 62 kasus. Sangat mungkin angka itu akan terus melonjak, seperti halnya yang terjadi di negara-negara lainnya. Pasalnya saat ini tengah dalam liburan tahun baru 2026. Masyarakat cenderung berkerumun di area destinasi wisata. Kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pengenaan masker, sudah “terlupakan”. Sebab, pola penularan “super flu”, serupa dengan transmisi Covid-19.
Bersamaan dengan mulai meningkatnya “super flu” di tanah air, terdeteksi pula strain influenza A (H1N1Pdm09) dan influenza B (Victoria).
“Super flu”
Entah siapa yang mengawali, sebutan “super flu” bukanlah terminologi resmi dari lembaga yang berkompeten. “Super flu” hanya sebutan informal atau julukan, terhadap “keturunan” virus Influenza yang kini mewabah. Prinsipnya agar mempermudah komunikasi dan relatif gampang diingat publik.
Mengamati perilaku netizen, penulis jadi teringat saat pandemi Covid-19. Ketika itu publik dunia juga aktif memberi sebutan pada beragam varian Covid-19 yang sedang melonjak kasusnya. Padahal WHO sebagai otoritas kesehatan tertinggi dunia, belum memberikan identitasnya secara resmi. Sebut saja ada penamaan varian Arcturus, Kraken, Centaurus, hingga FLiRT. Sejatinya semuanya itu hanya merupakan virus “turunan” dari varian Omicron Covid-19.
Kini giliran virus influenza varian terbaru yang mendapat “gelar” dari publik. Memang bila dipelajari, sangat tidak mudah mengingat sebutan angka-angka untuk mengidentifikasi “turunan” virus influenza. Istilah “turunan” juga bertujuan mempermudah komunikasi belaka. Pasalnya di antara berbagai macam mikroba, virus influenza memiliki hierarki tingkat mutasi tertinggi. Laju mutasinya, jauh melampaui SARS-CoV-2 (virus penyebab Covid-19).
Dalam terminologi resmi virologi, “super flu” adalah H3N2 subclade K yang tergolong dalam influenza A. Ada tata nama yang tidak terlalu dipahami awam, tetapi penting diketahui. Virus influenza memiliki banyak struktur. Komponen terpenting yang berefek langsung pada manifestasi penyakit, dikode H/HA (Hemaglutinin) dan N/NA (Neuramidase). Hingga kini, setidaknya ada 16 subtipe H dan sembilan subtipe N. Karena laju mutasinya yang luar biasa cepat, setiap saat mampu bertukar materi genetik di antara subtipe H dan N. Hasilnya “melahirkan” virus “keturunan” baru. Telah terjadi sebanyak tujuh substansi mutasi pada “super flu”, dibanding “induknya” H3N2. Dampaknya lebih menular, meski tingkat fatalitasnya masih dalam penelitian (Gavi/The Vaccine Alliance, 2025).
Ada contoh sejarah paling fenomenal, terkait virus influenza A subtipe H1N1. Virus tersebut bertanggungjawab atas pandemi flu Spanyol tahun 1918. Kala itu memicu kematian 20-100 juta penduduk dunia. Tahun 2009, terjadi wabah H1N1 lagi. Pemicunya virus “keturunannya”, yakni strain virus H1N1/pdm09. Sumbernya dari babi. Pdm 09, mengartikan pandemi tahun 2009. Karena itulah peristiwanya dikenal dengan sebutan pandemi flu babi. Angka kematian resmi yang dilaporkan, mencapai 284 ribu penduduk dunia. Disinyalir, realitas di lapangan jauh melampaui catatan tersebut.
Galur virus yang pernah mewabah di Indonesia, bersumber dari unggas/burung (H5N1). Pada tahun 2005, tercatat 20 kasus. Sebanyak 13 orang dilaporkan meninggal. Wabah terakhir, terjadi tahun 2017. Dari 200 kasus yang terpapar, sebanyak 168 orang di antaranya meninggal. Tingkat fatalitasnya tergolong sangat tinggi.
Virus influenza terdiri dari tiga “marga” (genus), yaitu influenza A,B, dan C. Virus influenza A, paling ganas bila menginfeksi manusia. Tetapi juga bisa menyerang hewan, khususnya unggas dan babi. Genus B secara eksklusif hanya menyerang manusia, sedangkan genus C bisa menginfeksi manusia, anjing, dan babi. Paparan genus C, sangat jarang terjadi. Biasanya hanya menimbulkan penyakit ringan pada anak.
Jika virus influenza menyerang babi, perlu mendapatkan atensi khusus. Pasalnya potensi bahayanya sangat tinggi, bila dua jenis virus menyerang secara bersamaan. “Perkawinan” keduanya, berpotensi “melahirkan” virus influenza jenis baru yang berbeda dengan kedua “induknya”. Perubahannya bisa hanya sebagian (antigenic drift), tetapi bisa juga total (antigenic shift). Virus “keturunan” baru inilah yang berpotensi berbahaya dan memantik terjadinya pandemi.
Gejala
Influenza sering dianggap sama dengan selesma. Padahal mikroba penyebabnya sangat berbeda. Meski mirip, dampak influenza berpotensi lebih berat dan berbahaya.
Gejala semua virus influenza relatif sama, meski masing-masing berbeda tingkat gradasinya. Misalnya batuk, pilek, demam, sakit kepala, nyeri otot, dan sesak napas. Secara prinsip, dapat sembuh sendiri (self limiting disease). Sistem imunitas yang kompeten pada seseorang, mampu mengeliminasinya. Tetapi pada individu rentan dan gangguan imunitas (imunokompromi), berisiko mengakibatkan penyakit yang lebih berat, bahkan fatal. Misalnya pada perempuan hamil, balita, lansia, dan individu yang memiliki komorbid atau penyakit kronis. Khususnya pada orang dewasa yang memiliki penyakit dasar asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau perokok.
Sejatinya mayoritas penduduk dunia sudah pernah terpapar influenza. Hal itu dibuktikan dengan melacak jejak antibodinya masing-masing. Apabila “lahir” virus influenza strain baru, antibodi yang sudah terbentuk tidak mampu memproteksinya lagi. Akibatnya berisiko menyebar dengan cepat, bahkan memantik pandemi. Situasi inilah yang kini terjadi pada “super flu”.
Pencegahan
Seperti halnya pada Covid-19, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), efektif mencegah paparan influenza. Khususnya pengenaan masker, sangat dianjurkan. Saat mobilitas, sebaiknya menghindari kerumunan, terutama dalam ruangan tertutup. Pencegahan spesifik berupa vaksin influenza, diindikasikan terutama pada individu imunokompromi dan balita. Vaksin influenza trivalen (mengandung komponen dari dua galur subtipe A dan satu galur subtipe B), efektif mencegah penularan. Karena potensi evolusinya tinggi, vaksin influenza harus diperbarui setiap tahun.
—–o—–
*Penulis :
- Pengajar senior di :
- Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya
- Magister Ilmu Kesehatan Olahraga (IKESOR) Unair
- Penulis buku :
- Serial Kajian COVID-19 (tiga seri)
- Serba-serbi Obrolan Medis
- Catatan Harian Seorang Dokter
- Sisi Jurnalisme Seorang Dokter (dua jilid)



Tinggalkan Balasan