
Surabaya (Trigger.id) – Lonjakan gula darah setelah makan diduga berkontribusi pada meningkatnya risiko penyakit Alzheimer. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Diabetes, Obesity and Metabolism, menambah bukti bahwa hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dan resistensi insulin berperan dalam penurunan fungsi kognitif.
Dr. Arman Fesharaki-Zadeh, asisten profesor psikiatri dan neurologi di Yale School of Medicine, menekankan pentingnya deteksi dini gangguan metabolik. Menurutnya, pemantauan kesehatan metabolik secara rutin dapat membantu mencegah risiko jangka panjang terhadap kesehatan otak.
Hasil Penelitian
Penelitian dilakukan oleh tim dari University of Liverpool bersama institusi lain dengan menganalisis data genetik 357.883 orang dewasa berusia 40–69 tahun yang terdaftar di UK Biobank.
Peneliti meninjau beberapa indikator metabolik, termasuk:
- Kadar glukosa puasa
- Kadar insulin
- Kadar gula darah dua jam setelah makan
Dengan menggunakan metode analisis genetik bernama Mendelian randomization, mereka meneliti apakah indikator tersebut berkaitan dengan risiko demensia.
Hasilnya menunjukkan bahwa hiperglikemia postprandial (lonjakan gula darah setelah makan) berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko demensia Alzheimer. Individu dengan kadar gula darah tinggi setelah makan tercatat memiliki risiko Alzheimer 69% lebih besar dibandingkan mereka yang kadar gulanya lebih stabil.
Salah satu penulis studi, Dr. Vicky Garfield, menyatakan bahwa temuan ini membuka peluang pendekatan baru dalam menurunkan risiko demensia, khususnya pada penderita diabetes. Meski demikian, ia menegaskan perlunya penelitian lanjutan pada populasi dan latar belakang genetik yang berbeda untuk memastikan konsistensi hasil.
Mengapa Gula Darah Bisa Berdampak pada Otak?
Hubungan antara metabolisme gula dan kesehatan otak memang sudah lama diteliti, meski mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami.
Menurut Dr. Marilyn Tan dari Stanford Medicine, beberapa teori menjelaskan kemungkinan kaitannya:
- Akumulasi Beta-Amiloid
Hiperglikemia diduga meningkatkan penumpukan protein beta-amiloid di otak, yang merupakan ciri khas utama penyakit Alzheimer. - Stres Oksidatif
Kadar gula tinggi dapat memperburuk stres oksidatif, yaitu kondisi ketika radikal bebas merusak sel-sel tubuh, termasuk sel otak. - Peradangan dan Gangguan Neuron
Gula darah yang tidak terkontrol bisa memicu peradangan kronis dan mengganggu fungsi neuron serta mitokondria—bagian penting dalam produksi energi sel. - Gangguan Pembuluh Darah
Diabetes yang tidak terkontrol sering berkaitan dengan penyakit jantung, stroke, dan gangguan pembuluh darah lainnya. Kerusakan sistem vaskular ini juga berdampak pada suplai darah ke otak, sehingga meningkatkan risiko demensia vaskular maupun Alzheimer.
Fesharaki-Zadeh menambahkan bahwa disfungsi neurovaskular dan gangguan sistemik pada pembuluh darah kemungkinan menjadi penghubung utama antara gangguan metabolik dan kerusakan otak jangka panjang.
Pentingnya Mengontrol Gula Darah
Temuan ini mempertegas pentingnya menjaga kadar gula darah tetap stabil, terutama setelah makan. Pemeriksaan metabolik rutin—biasanya dilakukan saat medical check-up tahunan—meliputi evaluasi kadar gula darah, profil lipid, dan tekanan darah.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, dokter dapat merekomendasikan:
- Perubahan pola makan (mengurangi karbohidrat sederhana dan gula tambahan)
- Aktivitas fisik teratur
- Penurunan berat badan bila diperlukan
- Obat-obatan untuk mengontrol gula darah
Menjaga kestabilan gula darah bukan hanya penting untuk mencegah diabetes, tetapi juga berpotensi melindungi fungsi kognitif di usia lanjut. Dengan meningkatnya angka harapan hidup global, upaya pencegahan dini menjadi kunci dalam mengurangi beban penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Penelitian ini menjadi pengingat bahwa kesehatan metabolik dan kesehatan otak saling terkait erat—apa yang terjadi pada kadar gula darah hari ini bisa berdampak pada daya ingat dan fungsi kognitif di masa depan. (ian)
Sumber: Health



Tinggalkan Balasan