
Surabaya (Trigger.id) – Langkah Neymar mungkin tak lagi secepat dulu, namun mimpinya tetap berlari kencang—menuju satu panggung terbesar: Piala Dunia FIFA 2026.
Di usia 34 tahun, ketika banyak pemain mulai meredup, Neymar justru memilih bertahan dalam keyakinan. Ia sadar, jalannya tak lagi mudah. Namanya bahkan tidak tercantum dalam daftar skuad Timnas Brasil untuk jeda internasional akhir Maret, yang kini ditangani pelatih anyar, Carlo Ancelotti.
Keputusan itu jelas menyisakan luka. Namun Neymar tidak menutupinya.
“Saya tidak bisa diam. Tentu saja saya sangat sedih,” ungkapnya dalam wawancara. Tapi kesedihan itu tidak mengubah arah langkahnya. Ia tetap datang ke lapangan latihan, tetap bermain, tetap percaya.
Antara Cedera dan Harapan
Kembalinya Neymar ke klub masa kecilnya, Santos, sempat menjadi sinyal kebangkitan. Ia mulai kembali merumput, merasakan ritme pertandingan, dan membangun ulang kepercayaan diri yang sempat terkikis oleh cedera panjang.
Namun realitas belum sepenuhnya berpihak. Kondisi fisiknya dinilai belum mencapai titik ideal. Di saat yang sama, lini depan Brasil terus berkembang dengan wajah-wajah baru yang lapar dan konsisten.
Dua tahun tanpa seragam kuning-hijau bukan waktu yang singkat. Sepak bola terus bergerak, dan tempat di tim nasional bukan lagi sekadar soal nama besar.
Persaingan dan Waktu
Kembalinya Neymar ke skuad bukan hanya soal performa individu, tetapi juga soal dinamika tim. Memanggil kembali pemain senior setelah lama absen bisa menghadirkan tantangan tersendiri—baik secara taktik maupun psikologis.
Namun Neymar bukan sosok yang asing dengan tekanan. Ia telah mencatatkan 128 penampilan bersama Brasil dan mengukir 79 gol—menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah tim nasional.
Sebuah pencapaian yang tidak datang begitu saja.
Mimpi yang Masih Menyala
Bagi Neymar, mimpi itu belum selesai. Piala Dunia 2026 bukan sekadar turnamen, tetapi mungkin menjadi bab terakhir dari perjalanan panjangnya bersama Brasil.
“Kami masih punya satu kesempatan sebelum pengumuman skuad resmi. Mimpi itu masih ada,” ujarnya penuh harap.
Kalimat itu sederhana, namun sarat makna. Ia bukan hanya berbicara tentang peluang, tetapi tentang keyakinan—bahwa selama usaha belum berhenti, harapan tetap hidup.
Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Kisah Neymar hari ini bukan hanya tentang seorang pemain yang ingin kembali ke tim nasional. Ini adalah cerita tentang ketekunan, tentang menghadapi penolakan tanpa kehilangan arah, dan tentang keberanian untuk terus bermimpi di tengah keterbatasan.
Di dunia yang sering kali menilai dari hasil instan, Neymar memilih jalan yang lebih sunyi: bekerja, menunggu, dan percaya.
Karena pada akhirnya, bukan hanya mereka yang selalu berada di puncak yang dikenang—tetapi juga mereka yang terus berjuang untuk kembali ke sana. (ian)



Tinggalkan Balasan