

Di balik meningkatnya usia harapan hidup masyarakat Indonesia, tersimpan kenyataan yang jauh dari ideal: banyak orang memasuki masa tua tanpa kesiapan yang memadai—baik secara mental maupun ekonomi. Pensiun, yang seharusnya menjadi fase menikmati hasil kerja, justru berubah menjadi fase bertahan hidup.
Data terbaru menunjukkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan. Survei regional yang dirilis pada 2026 mengungkap bahwa sekitar 77% masyarakat Indonesia memperkirakan tetap harus bekerja setelah usia pensiun. Angka ini bukan sekadar pilihan gaya hidup aktif, melainkan cerminan tekanan ekonomi yang belum terselesaikan.
Lebih dalam lagi, sekitar 71% responden menyatakan mereka membutuhkan penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di masa tua. Ini menegaskan bahwa sebagian besar masyarakat belum memiliki fondasi finansial yang cukup kuat untuk benar-benar berhenti bekerja.
Jika melihat kondisi lansia saat ini, realitasnya bahkan lebih keras. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hanya sekitar 5% rumah tangga lansia yang hidup dari jaminan pensiun. Sebaliknya, mayoritas—sekitar 83,74%—masih bergantung pada penghasilan dari anggota keluarga yang bekerja, termasuk diri mereka sendiri.
Artinya, sebagian besar lansia Indonesia belum benar-benar “pensiun”. Mereka tetap bekerja karena harus, bukan karena ingin.
Fenomena ini semakin diperparah oleh rendahnya cakupan sistem pensiun nasional. Secara keseluruhan, kepesertaan program pensiun di Indonesia masih terbatas, hanya menjangkau sebagian kecil angkatan kerja. Bahkan, di sektor informal—yang mencakup sekitar 60% tenaga kerja—partisipasi dalam program pensiun nyaris tidak signifikan.
Dampaknya terlihat jelas di lapangan. Banyak lansia tetap bekerja di sektor informal dengan penghasilan rendah dan tanpa jaminan stabilitas. Data menunjukkan sekitar 84,69% lansia yang bekerja berada di sektor informal, dengan kondisi kerja yang fleksibel namun rentan.
Masalah kesiapan ini tidak hanya soal uang, tetapi juga mental. Sebagian masyarakat masih memandang anak sebagai “jaminan hari tua”, sementara perencanaan keuangan jangka panjang sering kali ditunda. Di sisi lain, biaya hidup yang terus meningkat membuat target dana pensiun semakin sulit dicapai—bahkan bisa mencapai miliaran rupiah untuk hidup layak selama masa pensiun.
Indonesia kini menghadapi dua realitas yang kontras. Sebagian kecil masyarakat telah mempersiapkan pensiun dengan matang dan melihatnya sebagai fase kebebasan. Namun, mayoritas lainnya justru menghadapi ketidakpastian, bahkan kecemasan.
Jika tidak ada perubahan signifikan—baik dalam literasi keuangan, sistem perlindungan sosial, maupun kesadaran individu—maka masa depan pensiun di Indonesia berpotensi menjadi krisis senyap: generasi yang menua, tetapi tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.
—000—
*Jurnalis Senior dan Dewan Redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan