
Surabaya (Trigger.id) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak lagi dipandang sekadar kebijakan sosial, melainkan peluang besar bagi dunia akademik untuk turun langsung ke medan nyata. Badan Gizi Nasional (BGN) mengajak perguruan tinggi di seluruh Indonesia menjadikan program ini sebagai “laboratorium hidup” — ruang belajar konkret yang menghubungkan teori dengan praktik, riset dengan dampak sosial.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa MBG membuka pintu kolaborasi luas lintas disiplin ilmu. Baginya, program ini bukan hanya urusan kesehatan atau pangan, tetapi juga menyentuh aspek sosial, ekonomi, hingga kebijakan publik.
“Semua fakultas bisa terlibat. Ini adalah laboratorium nyata bagi kampus,” ujarnya.
Di balik semangat itu, tersimpan persoalan mendasar yang ingin dijawab: masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan akses makanan bergizi. MBG hadir sebagai respons atas realitas tersebut, sekaligus menjadi wadah pembelajaran langsung bagi mahasiswa dan peneliti.
Melalui keterlibatan aktif kampus, BGN berharap implementasi MBG dapat terus disempurnakan. Mahasiswa, khususnya melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), didorong untuk terjun langsung ke masyarakat, terutama dalam bidang kesehatan dan edukasi gizi.
Tak hanya itu, kolaborasi juga diperluas hingga sektor industri. BUMN diharapkan ikut ambil bagian melalui program tanggung jawab sosial (CSR), khususnya dalam pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Salah satu contoh nyata datang dari Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar. Kampus ini menjadi pionir dalam mendirikan SPPG, sekaligus menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat berperan aktif dalam mendukung program nasional. Fasilitas laboratorium yang dimiliki Unhas bahkan dinilai siap membantu investigasi jika terjadi kasus terkait keamanan pangan.
Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, menegaskan bahwa MBG bukan program sektoral yang hanya melibatkan satu bidang keilmuan. Ia melihatnya sebagai gerakan besar lintas disiplin yang mampu menyatukan seluruh elemen kampus.
“Ini bukan program satu fakultas. Semua harus terlibat,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai MBG sebagai peluang strategis bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi langsung dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
Dengan pendekatan ini, kampus tidak lagi hanya menjadi menara gading yang jauh dari realitas sosial. Melalui MBG, ruang kelas diperluas hingga ke masyarakat, menjadikan ilmu pengetahuan lebih relevan, aplikatif, dan berdampak nyata.
Pada akhirnya, MBG bukan sekadar program makan bergizi. Ia menjelma menjadi jembatan antara dunia akademik dan kebutuhan masyarakat — sebuah laboratorium hidup yang mengajarkan bahwa ilmu terbaik adalah yang mampu memberi manfaat langsung bagi kehidupan.. (ian)



Tinggalkan Balasan