
Dokter Apolonia Berenika Badu, Sp.An-TI (kanan) dan Dekan FK Unair, Prof. Dr. dr. Eighty Mardiyan Kurniawati, Sp.OG., Subsp. Urogin-RE.
Surabaya (Trigger.Id) – Di tengah duka bencana alam yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah berita baik berembus dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR).
Kampus kedokteran tertua di Jawa Timur ini resmi melantik 136 dokter dalam Pelantikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Angkatan ke-158 di Aula FK Unair, Selasa, 8 September 2026.
Berita baik ini karena salah satu lulusannya adalah putri daerah NTT yang akan kembali karena telah dilantik sebagai dokter spesialis anestesi.
Dokter Apolonia Berenika Badu, Sp.An-TI merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) klinisi di RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, NTT.
Ia merupakan penerima beasiswa utusan Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada. Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya di Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unair.
Keahliannya di bidang penanganan pasien kritis (Intensive Care Unit/ICU), resusitasi, hingga manajemen nyeri. Ia siap kembali ke NTT memperkuat pelayanan kesehatan di RSUD Bajawa.
Menjawab Tantangan Asta Cita dan Ketimpangan Medis
Dekan FK Unair, Prof. Dr. dr. Eighty Mardiyan Kurniawati, Sp.OG., Subsp. Urogin-RE., menegaskan bahwa kelulusan para dokter spesialis ini merupakan langkah konkret institusi dalam mendukung program Asta Cita Presiden, khususnya pada sektor pemerataan layanan kesehatan nasional.
“Persoalan bangsa kita salah satunya ada di bidang kesehatan. Dalam agenda Asta Cita, Presiden menekankan tantangan kekurangannya jumlah dokter spesialis dan belum optimalnya pemerataan. Kelulusan hari ini menjadi jawaban langsung atas persoalan tersebut,” ujar Prof. Eighty.
Skema beasiswa utusan daerah dinilai sebagai strategi yang efektif untuk memangkas jurang ketimpangan fasilitas medis antara Pulau Jawa dan luar Jawa.
Dari Ruang Kuliah ke Medan Bencana Flores
Dalam momen pelantikan tersebut, dr. Apolonia menyampaikan rasa syukur atas kesempatan belajar di salah satu pusat pendidikan kedokteran terbaik di Indonesia.
“Saya sangat bersyukur atas kemurahan Tuhan yang memberikan kesempatan hingga bisa berada di sini pada Pelantikan Dokter Spesialis Angkatan ke-158. Merupakan suatu kebanggaan bagi kami yang berasal dari luar Jawa diberikan ruang untuk menimba ilmu di FK Unair,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak keluarga serta para pengajar yang terus mendampingi dan memberikan kepercayaan selama masa studi. Harapan dan doa mendalam turut disampaikannya bersama dukungan penuh keluarga.
Ayahanda dr. Apolonia, Yohanis Badu, berpesan kepada putrinya, “Jadilah dokter yang memberikan pelayanan pada pasien tanpa pandang bulu, dengan penuh kasih, ketulusan, dan kerendahan hati.”
Bagi dr. Apolonia, selama menjalani masa pendidikan, ia tidak hanya berfokus pada aktivitas akademik dan pelayanan klinis struktural. Ia juga aktif mendarmabaktikan keahliannya sebagai relawan medis dalam tim penanggulangan bencana kolaborasi RSUD Dr. Soetomo dan FK UNAIR.
Salah satu aksinya adalah terjun langsung memberikan pelayanan medis kegawatdaruratan bagi masyarakat terdampak bencana di Flores, NTT.
“Di balik rasa syukur atas kelulusan ini, ada duka atas tragedi bencana yang merenggut nyawa serta menyisakan duka bagi saudara-saudara kita di Flores. Namun, saya percaya setiap dinamika dan beban hidup baik dalam proses pendidikan maupun musibah yang dihadapi masyarakat adalah cara Tuhan membentuk kita agar menjadi pribadi yang bermanfaat,” tambah dr. Apolonia.
Pengalaman terjun ke medan bencana di Flores kian mengasah empati dan kesiapannya untuk kembali bertugas. Setelah menyelesaikan pendidikan spesialisnya di FK UNAIR, dr. Apolonia akan kembali mengabdi sebagai klinisi di RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada. (zam)



Tinggalkan Balasan