
Madinah (Trigger.id) – Madinah Al-Munawwarah menghadirkan pengalaman spiritual yang selalu meninggalkan kesan mendalam bagi setiap jemaah. Di salah satu sudut paling istimewa Masjid Nabawi, Raudhah Asy-Syarifah, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendapat kesempatan untuk beribadah dan sejenak menghayati jejak sejarah yang melekat kuat di tempat suci tersebut.
Pada Rabu, 23 September 2026, Khofifah menuturkan rasa syukurnya karena memperoleh waktu yang cukup untuk beribadah di Raudhah. Baginya, kawasan yang dikenal sebagai salah satu tempat yang banyak diharapkan menjadi lokasi terkabulnya doa itu bukan hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menyimpan begitu banyak kisah sejarah Islam.
Salah satu yang menarik perhatiannya adalah Tiang Aisyah atau Ustuwanah Aisyah, salah satu pilar bersejarah yang berada di kawasan Raudhah.
Keberadaan tiang tersebut membawa ingatan Khofifah kepada sosok Sayyidah Aisyah RA, perempuan yang tidak hanya dikenal sebagai istri Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai salah satu sumber penting pengetahuan keislaman bagi umat.
“Di tempat mulia ini kita diingatkan kembali bagaimana Rasulullah begitu memuliakan dan mencintai Sayyidah Aisyah RA,” ujar Khofifah.
Dalam pandangannya, Sayyidah Aisyah merupakan sosok perempuan dengan penguasaan ilmu yang luar biasa. Pengetahuan yang dimilikinya kemudian menjadi rujukan bagi umat Islam, terutama melalui periwayatan hadis dan penjelasan mengenai kehidupan Rasulullah SAW.
Khofifah juga mengutip ungkapan yang populer dinisbatkan kepada Rasulullah SAW tentang mengambil ilmu agama dari Sayyidah Aisyah. Menurutnya, pesan tersebut menjadi pengingat betapa besar kedudukan keilmuan dan kontribusi Sayyidah Aisyah dalam sejarah Islam.
Bagi Khofifah, berada di Raudhah bukan sekadar kesempatan untuk menunaikan ibadah. Tempat tersebut juga menjadi ruang untuk melakukan perenungan tentang bagaimana ilmu diwariskan dari generasi ke generasi dan bagaimana perempuan memiliki peran penting dalam menjaga serta menyampaikan pengetahuan agama.
Kenangan Dua Tahun SilamKunjungan Khofifah ke Raudhah kali ini juga membawa kembali sebuah kenangan dari perjalanan umrahnya dua tahun lalu.
Saat itu, seorang syarifah menunjukkan kepadanya Tiang Aisyah. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan tersendiri karena sang syarifah bahkan memberikan tempat salatnya kepada Khofifah.
Tidak berhenti di situ, keduanya kemudian berdoa bersama untuk orang tua, memohon agar mereka mendapatkan tempat terbaik dan masuk surga tanpa hisab.
Kenangan sederhana tersebut kembali hadir dalam ingatan Khofifah ketika ia berada di tempat yang sama. Bagi dirinya, pengalaman itu menjadi bagian dari rangkaian perjalanan spiritual yang tidak hanya berkaitan dengan ritual, tetapi juga tentang persaudaraan, doa, dan penghormatan terhadap jejak sejarah Islam.
Tiang Aisyah sendiri dikenal pula sebagai Tiang Al-Qur’ah. Pilar tersebut memiliki kaitan dengan riwayat Sayyidah Aisyah RA mengenai tempat salat yang memiliki kemuliaan di Masjid Nabawi.
Jejak sejarah itu membuat Raudhah terasa bukan hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai ruang untuk mengenang orang-orang yang memiliki peran besar dalam perjalanan Islam.
Menghidupkan Semangat Keilmuan
Bagi Khofifah, sosok Sayyidah Aisyah RA menghadirkan pelajaran yang relevan bagi umat Islam hingga kini: pentingnya ilmu, ketekunan belajar, dan keberanian menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat.
Sayyidah Aisyah tercatat sebagai salah satu perempuan yang memiliki peran penting dalam periwayatan hadis. Pengetahuan dan keterlibatannya dalam kehidupan Rasulullah SAW menjadikannya salah satu rujukan penting bagi generasi setelahnya.
Karena itu, perjalanan ke Raudhah bagi Khofifah menjadi momentum untuk kembali mengajak umat meneladani semangat keilmuan Sayyidah Aisyah.“Di sini kita juga belajar kembali meneladani Sayyidah Aisyah RA sebagai uswatun hasanah,” ungkapnya.
Di tengah suasana Masjid Nabawi yang dipenuhi jemaah dari berbagai penjuru dunia, refleksi itu menemukan maknanya sendiri. Perjalanan umrah bukan semata perjalanan menuju tempat-tempat suci, tetapi juga perjalanan untuk membaca kembali sejarah, mengenang keteladanan, dan memperbarui komitmen untuk membawa nilai-nilai kebaikan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Raudhah, Khofifah membawa pulang sebuah pesan: sebagaimana Sayyidah Aisyah RA mewariskan ilmu dan pengetahuan kepada umat, semangat untuk belajar, menjaga ilmu, dan membagikannya kepada sesama merupakan keteladanan yang tetap relevan lintas zaman. (ian)



Tinggalkan Balasan