
Surabaya (Trigger.id)- Mahasiswa Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan Futechi Farm, inovasi kandang ayam petelur berbasis Internet of Things (IoT) yang mengintegrasikan otomatisasi peternakan untuk meningkatkan produktivitas, menekan biaya operasional, dan mendukung ketahanan pangan nasional.
Inovasi yang dikembangkan sejak Januari 2026 ini digagas tujuh mahasiswa S1 dan S2 Teknik Mesin ITS, yakni Muhammad Samsuddin, Khoerunnisa Utami, Yusran Ardian Hamissy, Risky Firmansyah, Muhammad Tabranie, Osama Ilham Prasetya Putra, dan Achmad Rizky Tri Wibowo.Ketua tim, Muhammad Samsuddin, menjelaskan Futechi Farm hadir untuk mengatasi ketergantungan peternak pada tenaga manusia dalam kegiatan operasional sehari-hari.
Sistem ini dilengkapi fitur pemberian pakan otomatis dan terjadwal, pemantauan suhu, pengumpulan telur, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi indikasi penyakit ayam. Pengoperasiannya dapat dilakukan melalui panel kontrol maupun ponsel pintar.Futechi Farm juga menyediakan pengaturan jadwal vaksinasi dan sterilisasi guna mendukung kesehatan ayam serta sanitasi kandang.
Berbeda dari kandang konvensional berbahan bambu, inovasi ini menggunakan material weld mesh yang memungkinkan kotoran langsung jatuh ke bagian bawah kandang sehingga mempermudah pembersihan. “Pengelolaan kotoran juga diintegrasikan dengan kolam lele,” ujar Muhammad Samsuddin dikutip dari laman ITS.Tak hanya berfokus pada teknologi, Futechi Farm dirancang untuk menjangkau peternak skala kecil dan menengah.
Inovasi ini telah mencatatkan penjualan dua unit platform senilai total Rp 70 juta ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, serta satu unit senilai Rp 35 juta ke Papua.Pengembangan bisnis ini mendapat dukungan pendanaan Asian Development Bank (ADB) dan ITS melalui program HETI, serta pendampingan Inkubator dan Layanan Bisnis Inovatif (ILBI), Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) ITS.Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati menegaskan kampus terus mendorong hasil riset mahasiswa agar tidak berhenti sebagai konsep akademik, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Ke depan, tim berencana mengembangkan Futechi Farm menjadi ekosistem digital peternakan yang mencakup pencatatan produksi telur otomatis melalui sensor pada conveyor, distribusi pakan dari gudang ke kandang.Kemudian pendampingan pemeliharaan sesuai usia ayam, hingga pengembangan pakan berbasis mikroalga bersama Departemen Biologi ITS. “Platform pemasaran yang menghubungkan peternak dengan distributor dan pembeli berskala besar juga menjadi sasaran pengembangan,” ungkap rektor.
Inovasi ini sekaligus mendukung pencapaian _Sustainable Development Goals_ (SDGs),_ khususnya tujuan ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, tujuan ke-9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur, serta tujuan ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. (wah)



Tinggalkan Balasan