

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman, Islam, dan kemampuan untuk berbicara serta menyampaikan pikiran melalui tulisan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang mengikuti petunjuk beliau hingga akhir zaman.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Lisan adalah salah satu nikmat Allah yang sangat besar. Melalui lisan, seseorang dapat menyampaikan kebenaran, menasihati dalam kebaikan, menghibur orang yang bersedih, serta mengajak sesama manusia menuju jalan Allah. Demikian pula tulisan. Dengan tulisan, ilmu dapat disebarluaskan, nasihat dapat menjangkau banyak orang, dan kebaikan dapat terus mengalir meskipun penulisnya telah tiada.
Namun, lisan dan tulisan juga dapat menjadi sumber keburukan apabila tidak dikendalikan. Keduanya bisa melukai hati, merusak kehormatan, memecah persaudaraan, menyebarkan kebencian, bahkan menimbulkan permusuhan yang berkepanjangan.Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tajamnya lisan dan tulisan terkadang melebihi tajamnya pedang. Luka akibat pedang mungkin dapat sembuh seiring berjalannya waktu, tetapi luka akibat perkataan dan tulisan yang menyakitkan terkadang menetap lama di dalam hati seseorang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa kualitas keislaman seseorang tidak cukup diukur dari banyaknya ibadah yang tampak, tetapi juga dari sejauh mana orang lain merasa aman dari gangguan lisan dan perbuatannya.
Pada zaman sekarang, makna menjaga lisan juga perlu diperluas pada aktivitas menulis, berkomentar, membagikan berita, dan berinteraksi melalui media sosial. Sebab, apa yang dahulu hanya terdengar oleh beberapa orang kini dapat tersebar kepada ribuan bahkan jutaan manusia hanya dalam hitungan detik.
Karena itu, setiap Muslim hendaknya menyadari bahwa perkataan dan tulisan bukan perkara sepele. Semuanya berada dalam pengawasan Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Qaf ayat 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa setiap ucapan berada dalam catatan Allah. Pesan yang sama patut kita renungkan ketika jari-jari kita mengetik sebuah kalimat, menuliskan komentar, atau menyebarkan suatu informasi. Apa yang kita tulis mungkin dapat dihapus dari layar, tetapi akibatnya belum tentu terhapus dari hati orang yang terluka.
Bahaya Lisan dan Tulisan
1. Ghibah: Membicarakan Keburukan Orang Lain.
Ghibah sering kali bermula dari prasangka buruk. Seseorang mulai mencurigai orang lain, mencari-cari kesalahannya, kemudian merasa bahwa dirinya berhak menceritakan keburukan tersebut kepada orang lain.
Padahal, belum tentu kita mengetahui keseluruhan keadaan seseorang. Kita mungkin melihat kekurangannya, tetapi tidak mengetahui perjuangannya. Kita mengetahui kesalahannya, tetapi tidak mengetahui penyesalannya dan upayanya untuk memperbaiki diri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan perumpamaan yang sangat keras tentang ghibah dalam QS. Al-Hujurat ayat 12, yaitu seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal dunia.
Perumpamaan ini seharusnya membuat kita merasa jijik terhadap perbuatan ghibah, sebagaimana kita merasa jijik terhadap gambaran tersebut.
Sebelum membicarakan keburukan seseorang, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah pembicaraan ini benar-benar diperlukan? Apakah ada manfaat yang nyata? Ataukah kita hanya sedang memuaskan keinginan untuk merendahkan orang lain?
Menjaga kehormatan saudara kita merupakan bagian dari menjaga kehormatan diri sendiri.
2. Fitnah dan Dusta: Merusak Kebenaran dan Kehormatan
Fitnah, tuduhan palsu, dan penyebaran berita yang tidak benar merupakan bahaya besar bagi kehidupan bermasyarakat. Satu kabar yang belum terverifikasi dapat menghancurkan nama baik seseorang, meretakkan hubungan keluarga, merusak persahabatan, bahkan menimbulkan konflik di tengah masyarakat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum beriman untuk melakukan tabayyun atau memeriksa kebenaran berita sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6.
Perintah ini sangat relevan pada era media sosial. Jangan sampai kita menjadi penyebar kebohongan hanya karena tergesa-gesa menekan tombol bagikan. Jangan pula kita mudah mempercayai tuduhan hanya karena informasi tersebut sesuai dengan prasangka atau ketidaksukaan kita terhadap seseorang.
Perlu kita pahami bahwa tidak semua informasi yang viral adalah benar. Tidak semua tuduhan yang disampaikan dengan penuh keyakinan memiliki bukti. Dan tidak semua hal yang kita dengar layak untuk kita sebarkan.
Dalam urusan kehormatan manusia, kehati-hatian merupakan kewajiban moral yang tidak boleh diabaikan.
3. Perkataan dan Tulisan yang Sia-sia
Tidak semua yang dapat kita ucapkan harus kita ucapkan. Tidak semua yang dapat kita tulis harus kita publikasikan. Ada perkataan yang tidak mendatangkan manfaat, perdebatan yang tidak menghasilkan kebenaran, serta komentar yang hanya bertujuan mempermalukan atau menjatuhkan orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 114 bahwa tidak banyak kebaikan dalam pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan yang mengajak kepada sedekah, kebaikan, atau perdamaian di antara manusia.
Ayat ini mengajarkan bahwa pembicaraan yang baik semestinya memiliki arah dan manfaat yang jelas.
Karena itu, sebelum berbicara atau menulis, hendaknya kita mempertimbangkan apakah perkataan tersebut membawa manfaat, memperbaiki keadaan, atau justru memperkeruh suasana.
Jangan sampai waktu kita habis untuk berdebat tentang hal yang tidak penting, sementara kesempatan untuk berdzikir, menuntut ilmu, membantu sesama, dan memperbaiki diri justru terabaikan.
4. Fenomena Muflis: Bangkrut di Akhirat
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,Salah satu peringatan paling menggetarkan tentang bahaya lisan adalah hadis mengenai orang yang bangkrut atau muflis di akhirat.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang bangkrut bukan sekadar orang yang tidak memiliki harta benda. Orang yang benar-benar bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi semasa hidupnya pernah mencaci orang lain, menuduh tanpa hak, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, atau memukul orang lain.
Akibat kezaliman tersebut, pahala kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Apabila pahala itu telah habis sebelum seluruh tanggungannya selesai, dosa orang-orang yang dizaliminya dapat dibebankan kepadanya. Demikianlah gambaran kerugian yang sangat besar sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim.
Hadis ini mengajak kita melakukan introspeksi. Jangan sampai kita bersungguh-sungguh memperbanyak ibadah, tetapi pada saat yang sama meremehkan hak orang lain melalui ucapan dan tulisan.
Jangan sampai kita rajin membaca Al-Qur’an, tetapi juga rajin menyebarkan aib sesama. Jangan sampai kita bersemangat berdakwah, tetapi melukai kehormatan orang lain dengan hinaan, caci maki, dan tuduhan yang tidak berdasar.
Ibadah kepada Allah harus berjalan seiring dengan upaya menjaga hak dan kehormatan sesama manusia.
—000—
- Pembina Yayasan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dan Komunikasi Islam (STIDKI) Ar Rahma Surabaya.



Tinggalkan Balasan