
Yogyakarta (Trigger.id) – Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia. Dari Aceh hingga Papua, kopi Nusantara telah menembus pasar global dengan berbagai karakter rasa yang khas. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa sepanjang 2021–2025 Indonesia menghasilkan rata-rata sekitar 782 ribu ton kopi per tahun dengan tren produksi yang terus meningkat di berbagai daerah.
Kinerja ekspor pun menunjukkan perkembangan positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kopi Indonesia pada 2025 mencapai US$1,87 miliar, melonjak lebih dari 81 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor dengan porsi sekitar 18,77 persen, disusul Mesir, Malaysia, dan Belgia.
Momentum ini terasa semakin istimewa karena setiap 11 Maret diperingati sebagai Hari Kopi Nasional, sebuah peringatan untuk menghargai para petani sekaligus mempromosikan kekayaan kopi Nusantara.
Namun di balik tingginya permintaan pasar, kesejahteraan petani kopi belum sepenuhnya meningkat. Guru Besar Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Supriyadi, menyebut produktivitas perkebunan kopi masih menjadi tantangan utama.
Menurutnya, hanya sekitar 75 persen lahan perkebunan kopi yang memiliki potensi peningkatan produksi, sementara sebagian lainnya mengalami penurunan kualitas bahkan kerusakan. Selain itu, pola panen yang terlalu mengejar kecepatan juga kerap memengaruhi mutu biji kopi.
Untuk mengatasi hal tersebut, Supriyadi menilai petani perlu mendapat pendampingan yang konsisten, terutama dalam proses pengolahan seperti fermentasi. Dengan metode yang tepat, kualitas kopi dapat meningkat secara signifikan.
Ia juga mendorong adanya inovasi dalam dunia kopi, salah satunya melalui teknik blending, yaitu mencampur beberapa jenis kopi untuk menghasilkan cita rasa baru. Bahkan ada inovasi unik seperti Kopi Tahlil dari Pekalongan, yang memadukan kopi dengan sebelas jenis rempah.
Di sisi lain, tren minum kopi di kota-kota besar turut mendorong pertumbuhan ribuan kedai kopi di Indonesia. Dalam beberapa tahun ke depan, jumlahnya diperkirakan bisa menembus lebih dari 11 ribu kedai, membuka peluang besar bagi industri kopi nasional.
Bagi Supriyadi, masa depan kopi Indonesia tidak hanya soal ekspor atau tren kafe, tetapi juga tentang bagaimana petani dapat merasakan manfaat dari berkembangnya industri ini.
“Inovasi dan promosi harus terus dilakukan agar kopi Indonesia semakin dikenal dan kesejahteraan petani ikut meningkat,” ujarnya. (ian)
Sumber: ugm dan diolah denagn bantuan AI



Tinggalkan Balasan