• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Komodo di Ujung Ancaman, Ketika Habitat Menyusut dan Perburuan Mengintai

10 Maret 2026 by admin Tinggalkan Komentar

Komodo di Ujung Ancaman, Ketika Habitat Menyusut dan Perburuan Mengintai. Foto: Arsip

Flores, NTT (Trigger.id) – Di savana kering Nusa Tenggara Timur, seekor komodo berjalan perlahan di antara semak dan batuan. Reptil raksasa yang dikenal sebagai kadal terbesar di dunia itu tampak perkasa, namun di balik kekuatannya, masa depan satwa endemik Indonesia ini sebenarnya berada dalam ancaman yang semakin nyata.

Saat ini populasi komodo diperkirakan hanya sekitar 3.319 ekor di alam liar. Jumlah tersebut tersebar di Pulau Komodo, Pulau Rinca, beberapa pulau kecil di sekitarnya, serta sebagian wilayah daratan Pulau Flores. Meski masih bertahan, berbagai tekanan membuat keberadaan spesies langka ini semakin rentan.

Ancaman itu datang dari berbagai arah, mulai dari perburuan liar, degradasi habitat, hingga perubahan iklim yang memengaruhi ekosistem tempat mereka hidup.

Habitat yang Kian Terdesak

Salah satu persoalan terbesar adalah penyusutan habitat. Data menunjukkan sekitar 58 persen habitat komodo berada di Area Penggunaan Lain (APL) atau wilayah di luar kawasan hutan yang dilindungi. Kondisi ini membuat habitat komodo lebih rentan terhadap aktivitas manusia.

Dosen Biologi Universitas Gadjah Mada sekaligus pemerhati satwa liar, Donan Satria Yudha, menjelaskan bahwa keberadaan Taman Nasional Komodo sebenarnya telah menjadi benteng penting bagi kelangsungan hidup satwa ini.

Namun, masalahnya komodo tidak hanya hidup di dalam kawasan taman nasional. Populasi mereka juga terdapat di wilayah daratan Flores bagian utara yang justru menghadapi tekanan besar akibat perubahan penggunaan lahan.

“Tekanan akibat habitat yang terdegradasi terutama terjadi di mainland Flores bagian utara,” ujar Donan dalam keterangannya di Kampus UGM, Selasa (10/3).

Ketika habitat menyusut, ruang jelajah komodo semakin terbatas. Kondisi ini dapat memicu konflik dengan manusia sekaligus mengganggu keseimbangan ekosistem.

Perburuan Liar Masih Mengintai

Selain habitat yang tertekan, perburuan liar juga menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup komodo. Permintaan dari kolektor satwa langka sering kali mendorong praktik perdagangan ilegal.

Menurut Donan, salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menekan perburuan adalah memperkuat pengawasan di lapangan. Penambahan jumlah polisi hutan (polhut) dan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), terutama di wilayah Flores utara, dinilai sangat penting.

Ia juga menekankan perlunya penegakan hukum yang tegas, tidak hanya terhadap pemburu tetapi juga terhadap pihak yang membeli satwa hasil perburuan.

Program Penangkaran sebagai Alternatif

Donan juga mengusulkan adanya program penangkaran atau breeding resmi yang dikelola pemerintah melalui Kementerian Kehutanan atau BKSDA. Program ini dapat menjadi salah satu solusi untuk menekan perdagangan ilegal.

Melalui mekanisme yang diawasi ketat dan sesuai aturan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), hasil penangkaran dapat diperjualbelikan secara terbatas dengan sertifikat resmi.

Dengan adanya jalur legal tersebut, para kolektor diharapkan memilih cara resmi dibandingkan mengambil satwa langsung dari alam.

Kesejahteraan Warga Jadi Kunci

Faktor sosial ekonomi juga memainkan peran penting dalam konservasi komodo. Sebagian masyarakat di Pulau Rinca dan Pulau Komodo masih menghadapi keterbatasan ekonomi, yang kadang mendorong praktik perburuan.

Donan menilai bahwa peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal justru dapat menjadi kekuatan utama dalam menjaga kelestarian komodo.

“Jika masyarakat sejahtera, mereka akan dengan senang hati membantu pemerintah menjaga komodo,” ujarnya.

Masyarakat yang tinggal di sekitar habitat komodo sebenarnya menjadi pihak yang paling cepat mengetahui jika ada aktivitas mencurigakan. Dengan dukungan ekonomi yang baik, mereka dapat menjadi penjaga pertama bagi kelestarian satwa tersebut.

Masa Depan Komodo

Menurut Donan, upaya konservasi yang dilakukan pemerintah melalui Taman Nasional Komodo sudah berjalan cukup baik. Namun, langkah tersebut perlu diperluas, terutama di wilayah daratan Flores.

Perlu ada kebijakan baru yang memperluas kawasan konservasi sekaligus menetapkan habitat tambahan bagi komodo di Flores utara. Langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan populasi sekaligus mempertahankan keragaman genetik antara populasi komodo di pulau-pulau dan daratan utama.

Di tengah berbagai ancaman yang ada, masa depan komodo sangat bergantung pada kolaborasi banyak pihak—pemerintah, peneliti, masyarakat lokal, hingga dunia internasional.

Bagi Indonesia, komodo bukan sekadar satwa langka. Ia adalah simbol kekayaan hayati Nusantara yang telah bertahan selama jutaan tahun. Menjaga kelangsungan hidupnya berarti juga menjaga warisan alam yang tak ternilai bagi generasi mendatang. (ori)

Share This :

Ditempatkan di bawah: ekonomi pariwisata, nusantara, update Ditag dengan:Ancaman, Habitat, Komodo, Mengintai, Menyusut, Perburuan, Ujung

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Inter Milan Bidik Djed Spence Gantikan Dumfries

17 Juli 2026 By zam

Sedekah: Investasi Abadi yang Tak Pernah Merugi

17 Juli 2026 By zam

Belajar ADEM di Jawa Timur, Mengabdi untuk Papua

12 Juli 2026 By admin

Festival Muharram LAZIS Nurul Falah Asah Hafalan dan Kreativitas Ratusan Santri

12 Juli 2026 By wah

Jatim Siap Perkuat Rantai Pasok Biodiesel B50, Khofifah Dukung Transformasi Energi Nasional

11 Juli 2026 By zam

De La Fuente Optimistis Spanyol Mampu Singkirkan Prancis di Semifinal Piala Dunia 2026

11 Juli 2026 By wah

Ariana Grande Mundur dari American Horror Story 13, Tur Dunia Jadi Prioritas

11 Juli 2026 By zam

Intelektual Mengisi Jarak antara Teori dan Praktik

5 Juli 2026 By admin

Empat Tanda Calon Penghuni Surga yang Mulai Tampak Sejak di Dunia

5 Juli 2026 By admin

Jejak Kolaborasi Jatim Tekan Stunting: Penghargaan Persagi untuk Kepemimpinan Khofifah

5 Juli 2026 By admin

Arif Satria: ICMI Harus Bangun Peradaban Berbasis Data dan Integritas

4 Juli 2026 By zam

KNVB Ajukan Pengaduan Resmi atas Ujaran Rasis terhadap Tiga Pemain Belanda

4 Juli 2026 By zam

Portugal Lolos Dramatis, Ronaldo Torehkan Sejarah di Piala Dunia

3 Juli 2026 By zam

Real Madrid Bidik Bastoni untuk Perkuat Pertahanan

3 Juli 2026 By wah

Disabilitas Tak Tampak: Yang Tak Terlihat, yang Terabaikan

2 Juli 2026 By wah

Saat Camilan Menjadi Penjaga Kesehatan Mental

2 Juli 2026 By zam

Sensus Ekonomi 2026, Penentu Arah Pembangunan Jawa Timur

1 Juli 2026 By wah

Seluruh Penerbangan Umrah dan Haji Khusus di Soetta Dipusatkan ke Terminal 2F

1 Juli 2026 By wah

Mbappe Bersinar, Prancis Melaju ke 16 Besar

1 Juli 2026 By zam

Kemendikdasmen-BPOM budayakan hidup sehat lewat edukasi pangan aman

30 Juni 2026 By admin

DPD RI Apresiasi Haji 2026, Kemenhaj Berkomitmen Sempurnakan Tata Kelola

30 Juni 2026 By zam

Paraguay dan Maroko Buat Kejutan, Singkirkan Jerman dan Belanda untuk Melaju ke 16 Besar Piala Dunia 2026

30 Juni 2026 By wah

Kemenhaj: Sekitar 90 Persen Jemaah Haji Indonesia Sudah Kembali ke Tanah Air

29 Juni 2026 By zam

Khofifah Tinjau SPBU di Malang, Pastikan Pasokan Biosolar di Jawa Timur Tetap Aman

29 Juni 2026 By admin

AS dan Iran Sepakat Redakan Ketegangan, Bahas Selat Hormuz dalam Pertemuan di Qatar

29 Juni 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Agustus 2026
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
« Jul    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • UWKS Perkuat Budaya Literasi melalui Seminar Nasional dan Peluncuran Buku Kredo Kewijayakusumaan
  • Khofifah: Data BPS Jadi Fondasi Pembangunan Presisi dan Kebijakan Tepat Sasaran
  • MUI Ingatkan AI Tak Boleh Mengikis Tradisi Sanad Keilmuan Islam
  • Survei: Mayoritas Warga AS Berpandangan Negatif terhadap Netanyahu
  • Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Program MBG Turun Tajam

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.