
Surabaya (Trigger.id) – Selama ini, penyakit jantung kerap dianggap sebagai ancaman bagi usia lanjut, terutama laki-laki. Namun, temuan terbaru justru mengungkap fakta yang mengejutkan: perempuan muda kini semakin rentan terhadap dampak mematikan dari tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Sebuah riset yang dipresentasikan dalam forum ilmiah kardiologi internasional menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 1999 hingga 2023, angka kematian akibat penyakit jantung yang dipicu hipertensi pada perempuan usia 25–44 tahun meningkat lebih dari empat kali lipat. Kenaikan ini menjadi alarm serius bagi dunia kesehatan, karena kelompok ini sebelumnya dianggap berisiko rendah.
Kelompok yang Selama Ini Terabaikan
Hipertensi dikenal sebagai “silent killer” karena sering tidak menunjukkan gejala. Kondisi ini terjadi ketika tekanan darah terhadap dinding arteri terlalu tinggi secara terus-menerus, sehingga memaksa jantung bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan penebalan dan pelemahan otot jantung.
Sayangnya, perempuan—terutama yang masih muda—selama bertahun-tahun kurang mendapatkan perhatian dalam penelitian kardiovaskular. Akibatnya, risiko yang mereka hadapi sering kali tidak terdeteksi sejak dini.
Data yang Mengkhawatirkan
Analisis terhadap data kematian menunjukkan bahwa angka kematian akibat penyakit jantung hipertensif pada perempuan muda meningkat dari sekitar 1,1 per 100.000 pada tahun 1999 menjadi 4,8 per 100.000 pada tahun 2023.
Kelompok perempuan kulit hitam non-Hispanik tercatat memiliki risiko tertinggi, disusul perempuan kulit putih dan Hispanik. Selain itu, faktor wilayah juga berpengaruh, di mana perempuan yang tinggal di daerah tertentu menghadapi risiko lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.
Faktor sosial seperti keterbatasan akses layanan kesehatan, tekanan ekonomi, dan kondisi lingkungan yang kurang mendukung turut memperparah situasi ini.
Apa Penyebabnya?
Peningkatan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Beberapa faktor gaya hidup modern berkontribusi besar, seperti:
- Meningkatnya angka obesitas dan sindrom metabolik
- Kurangnya aktivitas fisik
- Pola makan tidak sehat, tinggi garam dan lemak
- Kualitas tidur yang buruk
- Tingkat stres yang lebih tinggi
Khusus pada perempuan muda, kurang tidur dan tekanan psikologis dilaporkan lebih tinggi dibanding kelompok lain, yang turut memperburuk risiko hipertensi.
Di sisi lain, para ahli juga menilai bahwa peningkatan angka ini sebagian disebabkan oleh diagnosis yang kini lebih akurat. Kasus-kasus yang sebelumnya tidak teridentifikasi kini mulai tercatat dengan lebih baik.
Faktor Risiko Khusus Perempuan
Selain faktor umum, perempuan memiliki risiko tambahan yang perlu diwaspadai, seperti:
- Riwayat tekanan darah tinggi saat kehamilan
- Penggunaan kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen
- Perubahan hormonal yang memengaruhi tekanan darah
Sayangnya, faktor-faktor ini belum selalu dibahas secara terbuka antara pasien dan tenaga medis, terutama pada perempuan usia muda.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Meski angka kematian meningkat, risiko ini sebenarnya dapat ditekan dengan langkah pencegahan yang tepat. Beberapa upaya yang disarankan antara lain:
- Mengonsumsi makanan sehat rendah garam, seperti pola makan Mediterania atau DASH
- Rutin berolahraga, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau jogging
- Mengelola stres dengan baik
- Menjaga kualitas tidur
- Melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala
Yang tak kalah penting, perempuan muda tidak boleh menganggap usia sebagai “tameng” dari penyakit. Tekanan darah tinggi bisa menyerang siapa saja, kapan saja, terutama jika faktor risikonya sudah ada.
Fenomena meningkatnya kematian akibat hipertensi pada perempuan muda menjadi pengingat bahwa kesehatan jantung bukan hanya isu orang tua. Kesadaran, deteksi dini, dan perubahan gaya hidup menjadi kunci utama untuk mencegah risiko yang lebih besar di masa depan. (ian)
Sumber: Health.com



Tinggalkan Balasan