

Dalam perjalanan sebuah organisasi, tantangan terbesar bukan sekadar bertahan, tetapi bagaimana tetap relevan dan memberi manfaat. Salah satu kelemahan yang kerap muncul adalah sikap tergesa-gesa—ingin segera terlihat hasil tanpa melalui proses yang matang. Padahal, dalam hukum kehidupan, sesuatu yang tidak memiliki nilai manfaat akan hilang dengan sendirinya.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ
“Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tinggal di bumi.”
(QS. Ar-Ra’d: 17)
Ayat ini menjadi prinsip dasar: kebermanfaatan adalah kunci keberlangsungan. Jika ICMI ingin tetap eksis dan berkontribusi di tengah masyarakat, maka orientasinya harus jelas—memberi manfaat nyata, bukan sekadar eksistensi simbolik. Tidak ada gunanya merawat sesuatu yang tidak memberi nilai bagi umat.
Dari Simpati Menuju Empati dan Aksi
Setiap manusia memiliki kisah dan perjuangannya masing-masing, termasuk dalam berorganisasi. Namun, kepedulian tidak cukup berhenti pada simpati. Ia harus naik derajat menjadi empati, lalu diwujudkan dalam tindakan nyata. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa meringankan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan meringankan kesulitannya di hari kiamat.”
(HR. Muslim)
Dalam riwayat lain:
“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa pertolongan kepada sesama bukan hanya berdampak sosial, tetapi juga menjadi investasi ukhrawi. Bahkan, menutupi aib orang lain pun termasuk bentuk kepedulian yang tinggi nilainya di sisi Allah.
Kepedulian sebagai Mindset
Kepedulian bukan sekadar tindakan sesaat, melainkan harus menjadi mindset—cara pandang hidup. Seorang yang benar-benar peduli akan selalu bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan untuk meringankan beban orang lain?”
Dalam Islam, kasih sayang adalah inti dari kepedulian. Rasulullah SAW bersabda:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit.”
(HR. Tirmidzi)
Dengan “kacamata kasih sayang”, seseorang tidak hanya melihat masalah, tetapi juga terdorong untuk menjadi bagian dari solusi. Bahkan, siapa saja yang membantu orang lain dengan penuh kasih sayang sejatinya sedang menapaki jalan para ulama—orang-orang yang membawa manfaat bagi kehidupan.
Empat Tahapan Menjadi Penolong yang Bermakna
Agar bantuan yang diberikan tidak sekadar emosional, tetapi benar-benar solutif, terdapat empat tahapan penting:
- Niat untuk menolong
Segala amal bergantung pada niat. Tanpa niat yang ikhlas, bantuan kehilangan nilai spiritualnya. - Memahami masalah secara mendalam
Tidak semua masalah tampak seperti yang terlihat di permukaan. Dibutuhkan pemahaman terhadap hakikat persoalan. - Belajar agar mampu membantu
Kompetensi adalah kunci. Niat baik tanpa ilmu bisa berujung pada kesalahan. - Memberi manfaat nyata
Bahkan ilmu yang sedikit, jika diajarkan dan diamalkan, akan menjadi sebab bertambahnya ilmu tersebut.
Allah SWT berfirman:
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
(QS. Thaha: 114)
Mengikis Ego, Menumbuhkan Adab
Dalam proses belajar dan membantu orang lain, ego harus disingkirkan. Keegoisan adalah penghalang utama ilmu dan kebermanfaatan.
Kisah Nabi Musa yang belajar kepada Nabi Khidir dalam QS. Al-Kahfi menjadi pelajaran besar: bahkan seorang nabi yang cerdas pun masih harus belajar dengan penuh kerendahan hati dan adab. Allah SWT mengisahkan:
“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”
(QS. Al-Kahfi: 66)
Ayat ini menegaskan pentingnya izin, etika, dan kerendahan hati dalam menuntut ilmu. Ironisnya, di era modern, fenomena seperti plagiarisme justru menunjukkan hilangnya adab dalam belajar—sesuatu yang seharusnya dijunjung tinggi, bahkan di tengah perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan.
Penutup: Organisasi yang Bertahan adalah yang Memberi Manfaat
Agama Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan memberi manfaat bagi sesama. Organisasi seperti ICMI memiliki peran strategis dalam mewujudkan nilai-nilai tersebut.
Keberlanjutan bukan ditentukan oleh usia organisasi, tetapi oleh sejauh mana ia memberi dampak. Jika kebermanfaatan menjadi ruh, maka organisasi akan tetap hidup, tumbuh, dan dicintai.
Akhirnya, marilah kita menanamkan dalam diri:
- Belajar tanpa henti
- Menolong tanpa pamrih
- Berkarya dengan kasih sayang
Karena sejatinya, yang akan bertahan bukanlah yang terlihat besar, tetapi yang benar-benar bermanfaat bagi manusia.
—000—
*Ketua Dewan Pakar ICMI Jatim



Tinggalkan Balasan