
Makkah (Trigger.id) – Di tengah padatnya musim haji dan jutaan jemaah yang memadati Kota Makkah, perhatian terhadap kenyamanan jemaah lanjut usia menjadi salah satu fokus utama Pemerintah Indonesia. Tahun ini, upaya menghadirkan layanan haji yang lebih inklusif tampak nyata melalui berbagai fasilitas khusus yang disiapkan bagi lansia dan penyandang disabilitas.
Di kawasan Sektor 2 Daerah Kerja Makkah, para petugas haji Indonesia tidak hanya memastikan kelancaran ibadah, tetapi juga menghadirkan suasana yang lebih aman, manusiawi, dan penuh kepedulian bagi para jemaah yang membutuhkan perhatian ekstra.
Salah satu perubahan yang paling terasa terlihat di kamar-kamar hotel tempat jemaah menginap. Di sisi tempat tidur hingga area kamar mandi, kini terpasang pegangan besi khusus yang dirancang untuk membantu lansia bergerak lebih aman. Pegangan tersebut dapat diatur posisi dan ketinggiannya sehingga lebih fleksibel digunakan sesuai kebutuhan jemaah.
Bagi jemaah lanjut usia, fasilitas sederhana seperti ini memiliki arti besar. Aktivitas sehari-hari seperti berdiri, berjalan menuju kamar mandi, hingga berpindah tempat menjadi jauh lebih mudah dan minim risiko jatuh.
Tak hanya itu, aksesibilitas hotel juga diperhatikan secara serius. Jalur landai untuk kursi roda disiapkan mulai dari area turun bus hingga pintu masuk hotel. Setiap hotel bahkan diwajibkan memiliki sedikitnya 10 kursi roda guna membantu mobilitas jemaah dengan keterbatasan fisik.
Namun pelayanan ramah lansia tidak berhenti pada fasilitas fisik semata. Tim layanan lansia dan disabilitas juga aktif melakukan kunjungan rutin ke hotel-hotel jemaah untuk memastikan kebutuhan mereka terpenuhi secara menyeluruh.
Para petugas memeriksa kondisi kesehatan, kebutuhan makanan, hingga kondisi psikologis jemaah. Untuk lansia yang tidak dapat mengonsumsi makanan biasa, petugas memastikan makanan khusus seperti bubur tersedia. Perlengkapan tambahan seperti popok dewasa, alas tidur medis, dan tisu basah juga disalurkan agar jemaah tetap nyaman selama berada di Tanah Suci.
Di sisi lain, perhatian emosional juga menjadi bagian penting dari pelayanan. Ketika ada jemaah yang mulai merasa rindu keluarga atau kehilangan semangat, petugas membantu mereka melakukan panggilan video dengan keluarga di Indonesia. Kehangatan komunikasi sederhana itu kerap menjadi penguat mental bagi para lansia yang menjalani perjalanan ibadah jauh dari rumah.
Interaksi sosial antarjemaah pun dijaga agar para lansia tidak merasa terasing. Petugas mendorong jemaah lain untuk saling membantu dan menciptakan suasana kebersamaan selama menjalankan ibadah.
Yang paling utama, seluruh layanan tersebut diarahkan agar para lansia tetap dapat menjalankan rangkaian ibadah wajib dengan aman dan tenang. Mulai dari umrah wajib hingga aktivitas harian di hotel, semuanya diupayakan agar para jemaah tetap mandiri dan merasa dihargai.
Di balik hiruk-pikuk penyelenggaraan ibadah haji, perhatian kecil seperti pegangan di samping tempat tidur atau bantuan video call ternyata menjadi bukti bahwa pelayanan terbaik sering kali hadir melalui sentuhan sederhana yang penuh empati. (ian)



Tinggalkan Balasan