
Surabaya (Trigger.id) – Banyak orang masih menganggap serangan jantung dan jantung berhenti mendadak sebagai kondisi yang sama. Padahal, keduanya berbeda — baik dari penyebab, gejala, hingga cara penanganannya. Perbedaan ini menjadi penting dipahami, terutama karena kasus kolaps saat olahraga semakin sering terjadi dan kerap berujung fatal.
Menurut para ahli jantung, olahraga memang menyehatkan. Namun pada orang dengan faktor risiko tertentu, aktivitas fisik intensitas tinggi justru bisa memicu gangguan serius pada jantung.
Dua Kondisi Berbeda
Secara medis, serangan jantung (heart attack) terjadi ketika aliran darah menuju otot jantung tersumbat akibat penyempitan atau pecahnya plak pada pembuluh darah koroner. Akibatnya, otot jantung kekurangan oksigen dan mulai mengalami kerusakan.
Sementara itu, henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) terjadi ketika sistem kelistrikan jantung terganggu sehingga jantung tiba-tiba berhenti memompa darah. Kondisi ini biasanya dipicu gangguan irama jantung atau aritmia berat seperti fibrilasi ventrikel.
Pada serangan jantung, penderita umumnya masih sadar dan mengeluhkan nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, atau nyeri menjalar ke lengan dan rahang. Sedangkan pada henti jantung, korban biasanya langsung kolaps, tidak sadar, dan denyut nadi menghilang hanya dalam hitungan detik.
Dokter spesialis jantung Indonesia, Prof. Harry Suryapranata, pernah menegaskan bahwa serangan jantung sering sulit dikenali karena gejalanya mirip masuk angin atau sakit lambung. Banyak pasien justru terlambat datang ke rumah sakit karena salah mengira gejalanya ringan.
Mengapa Sering Terjadi Saat Olahraga?
Kasus kolaps mendadak saat olahraga biasanya lebih sering berkaitan dengan henti jantung mendadak dibanding serangan jantung biasa.
Saat seseorang berolahraga, denyut jantung meningkat drastis untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Pada orang yang memiliki kelainan irama jantung, penyakit jantung tersembunyi, atau penyempitan pembuluh darah koroner, peningkatan beban kerja jantung dapat memicu gangguan listrik fatal.
Pada usia muda dan atlet, penyebab tersering henti jantung saat olahraga adalah kelainan jantung bawaan yang sering tidak terdeteksi. Sementara pada usia di atas 35 tahun, pemicunya lebih banyak berasal dari penyakit jantung koroner akibat kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes, obesitas, dan kebiasaan merokok.
Penelitian internasional menyebut sudden cardiac arrest menjadi salah satu penyebab kematian utama pada atlet di berbagai kelompok usia.
Di Indonesia sendiri, risiko penyakit kardiovaskular terus meningkat. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan faktor risiko seperti kurang aktivitas fisik, obesitas sentral, dan dislipidemia masih sangat tinggi di masyarakat perkotaan. Bahkan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 93 persen warga yang mengikuti pemeriksaan kesehatan mengalami kurang aktivitas fisik.
Ironisnya, banyak orang langsung melakukan olahraga berat tanpa pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Padahal, jantung yang tidak terbiasa bekerja keras bisa mengalami stres mendadak saat dipaksa beraktivitas intens.
Henti Jantung Bisa Terjadi Tanpa Gejala
Berbeda dengan serangan jantung yang sering didahului nyeri dada, henti jantung mendadak kerap datang tanpa peringatan jelas. Dalam banyak kasus, korban terlihat sehat beberapa menit sebelumnya sebelum tiba-tiba terjatuh.
Kondisi ini sangat berbahaya karena otak mulai mengalami kerusakan hanya dalam beberapa menit ketika pasokan darah berhenti. Tanpa tindakan cepat berupa CPR (cardiopulmonary resuscitation) dan penggunaan AED (automated external defibrillator), peluang selamat korban menurun drastis.
Jangan Takut Olahraga, Tapi Kenali Risikonya
Para ahli jantung menegaskan olahraga tetap penting untuk menjaga kesehatan kardiovaskular. Namun, aktivitas fisik sebaiknya dilakukan sesuai kondisi tubuh dan diawali pemeriksaan kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, obesitas, kolesterol tinggi, atau keluarga dengan penyakit jantung.
Olahraga yang aman justru membantu menurunkan risiko serangan jantung dalam jangka panjang. Yang berbahaya adalah ketika tubuh dipaksa melakukan aktivitas berat tanpa mengetahui kondisi jantung sebenarnya.
Karena itu, memahami perbedaan serangan jantung dan henti jantung bukan sekadar pengetahuan medis, tetapi juga langkah penting untuk menyelamatkan nyawa — baik milik sendiri maupun orang lain di sekitar kita. (ian)



Tinggalkan Balasan