
Tulung Agung (Trigger.id ) – Keterlibatan seorang siswa kelas 5 SD di Tulungagung dalam grup media sosial yang diduga mengarah pada paham radikalisme menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Anak tersebut diketahui sempat terpapar narasi menyimpang melalui aktivitas game online dan interaksi digital, sehingga mendapat pendampingan intensif dari UPT Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Tulungagung.
Kepala UPT Dinas KBPPPA Tulungagung, Dwi Yanuarti mengatakan pendampingan dilakukan secara berkala bersama psikolog untuk memastikan kondisi mental dan sosial anak tetap terjaga serta tidak berkembang pada proses doktrinasi yang lebih jauh.
Menurut Dwi, pendekatan yang diterapkan lebih mengedepankan sisi humanis dibanding tindakan keras. Anak tersebut dinilai memiliki kemampuan akademik yang baik serta bakat di bidang digital dan bahasa Inggris sehingga perlu diarahkan ke aktivitas yang lebih positif.
“Anak ini sebenarnya memiliki potensi besar. Karena itu kami memilih pendekatan persuasif agar kemampuan yang dimiliki berkembang di lingkungan yang sehat dan edukatif,” ujar Dwi seperti dikutip LKBN Antara, Senin (18/6).
Hasil pemeriksaan psikologis menunjukkan tidak ditemukan indikasi kuat bahwa siswa tersebut telah memahami atau meyakini paham radikal secara mendalam. Keterlibatannya dalam grup media sosial menyimpang lebih dipengaruhi rasa ingin tahu, pencarian identitas diri, dan kebutuhan mendapatkan pengakuan dari lingkungan pergaulan digital.
Meski demikian, pihak UPT tetap melakukan intervensi dini karena aktivitas digital semacam itu dinilai berpotensi menjadi tahap awal penyebaran doktrin ekstrem kepada anak-anak.
Psikolog anak dari Universitas Negeri Malang, Dr. Rina Safitri, menjelaskan anak usia sekolah dasar memang rentan terpengaruh konten digital karena belum memiliki kemampuan menyaring informasi secara matang.
“Anak-anak cenderung tertarik pada kelompok yang memberi perhatian dan rasa diterima. Tanpa pendampingan, mereka bisa terseret narasi ekstrem tanpa memahami konsekuensinya,” kata Rina.
Ia mengingatkan orang tua agar tidak langsung memarahi atau menyita gawai anak secara sepihak ketika menemukan aktivitas digital yang mencurigakan. Sikap keras justru dapat membuat anak semakin tertutup dan mencari pelarian di ruang digital lain yang lebih berisiko.
Menurutnya, komunikasi terbuka menjadi langkah paling penting dalam pencegahan paparan radikalisme digital pada anak. Orang tua disarankan aktif berdiskusi mengenai permainan yang dimainkan anak, akun media sosial yang diikuti, hingga teman-teman yang sering berinteraksi secara daring.
Selain keluarga, guru juga diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa di sekolah, seperti menjadi pendiam, mudah marah, menarik diri dari lingkungan sosial, atau menunjukkan ketertarikan berlebihan pada konten kekerasan dan intoleransi. “Sekolah dan keluarga harus menjadi ruang aman bagi anak untuk bercerita tanpa takut dihakimi,” ujarnya.
UPT Dinas KBPPPA Tulungagung pun terus memantau perkembangan anak melalui pendampingan langsung dan komunikasi rutin dengan keluarga guna memastikan proses pemulihan berjalan optimal.
Saat ini kondisi siswa sudah mulai membaik, kembali aktif belajar, lebih terbuka kepada keluarga, dan mulai terlibat dalam aktivitas sosial yang positif. ( wah )



Tinggalkan Balasan