
Jakarta (Trigger.id) – Indonesia dan India memperkuat kolaborasi di sektor ekonomi kreatif melalui pembangunan Indonesia–India _Creative Tech Corridor_ di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari, Malang Jawa Timur.
Inisiatif ini diarahkan untuk mengembangkan kekayaan intelektual (intellectual property/IP) lokal dengan dukungan kecerdasan artifisial (AI) sekaligus memperluas jangkauan karya kreatif Indonesia ke pasar internasional.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, kolaborasi ini menjadi langkah konkret mempertemukan talenta dan karakter kreatif Indonesia dengan teknologi serta kemampuan produksi audiovisual India.
Menurutnya, kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, yang diharapkan tidak berhenti pada komitmen, tetapi menghasilkan kemitraan yang memberikan manfaat ekonomi nyata.
“IP karakter Indonesia memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh agar mampu menjangkau pasar internasional,” ujar Teuku Riefky dikutip dari laman LKBN Antara, Selasa (27/10)’Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Lokanima di KEK Singhasari dan sejumlah mitra industri dari kedua negara.
Ruang lingkupnya meliputi pengembangan teknologi kreatif, penerapan AI, penciptaan IP, hingga distribusi konten audiovisual ke pasar global.Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, perkembangan AI dan teknologi digital membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan. Selain meningkatkan kapasitas industri, pemanfaatan teknologi tersebut juga dapat melahirkan jenis pekerjaan dan keterampilan baru.
“AI bukan hanya substitusi pekerjaan, tetapi juga penciptaan pekerjaan dan keterampilan,” kata Airlangga.Ia turut menyoroti pentingnya penguatan kapasitas komputasi nasional, termasuk melalui pengembangan pusat data dan semikonduktor, untuk mendukung pemanfaatan teknologi AI.
Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar India untuk Indonesia, Bijay Selvaraj, menilai kekuatan narasi budaya Indonesia dapat dipadukan dengan ekosistem audiovisual dan teknologi India. Perpaduan tersebut diharapkan menghasilkan karya yang memiliki daya saing lebih luas di pasar internasional.
Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem kolaborasi, para pihak membentuk _Creative Tech Sandbox_ di KEK Singhasari. Fasilitas ini disiapkan sebagai ruang uji coba bagi kreator dan pelaku industri untuk mengeksplorasi penggunaan AI serta teknologi baru dalam proses produksi karya kreatif.
Kolaborasi Indonesia–India juga menargetkan penayangan perdana hasil karya bersama dalam World Audio Visual and Entertainment Summit (WAVES) 2027 di Mumbai, India.Sejumlah mitra yang terlibat dalam penandatanganan MoU antara lain kreator IP Fun Cican, Prodigi AI, LPP TVRI, Cinepolis, Xelta dari MatchBest Group, Galleri5 India, serta Collective Studios dari Collective Artists Network.
Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memanfaatkan potensi ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai 135 miliar dolar AS pada 2026 dan meningkat menjadi 366 miliar dolar AS pada 2030. Potensi ini ditopang oleh lebih dari 235 juta pengguna internet.
Untuk memperkuat pengembangan ekosistem digital, pemerintah juga menyusun Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional yang mencakup empat pilar utama, yakni infrastruktur digital, riset dan inovasi, pengembangan sumber daya manusia, serta tata kelola AI yang bertanggung jawab. (wah)



Tinggalkan Balasan