
Surabaya (Trigger.id)- Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bersama Rumah Sakit Universitas Airlangga dan sejumlah organisasi mitra menggelar edukasi kesehatan bertajuk “Santri Siaga Stroke” di Kantor PC Nahdlatul Ulama Surabaya, Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan dalam rangka memperingati _World Stroke Day_ 2026 ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya komunitas pesantren, terhadap pencegahan dan pengenalan dini gejala stroke.
Mengusung tema _“Revitalisasi Poskestren Berbasis Metode FAST sebagai Upaya Pencegahan Stroke”_ , program ini mendorong penguatan peran Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) sebagai pusat edukasi kesehatan, deteksi dini, dan pemberdayaan masyarakat di lingkungan pesantren.
Salah satu upaya penting mengurangi dampak stroke adalah mengenali gejalanya sedini mungkin. Melalui metode FAST (Face, Arms, Speech, Time), masyarakat diajak memperhatikan empat hal, yakni perubahan atau ketidaksimetrisan wajah, kelemahan pada salah satu lengan, gangguan bicara, serta pentingnya segera mencari pertolongan medis ketika gejala muncul.
Gejala stroke dapat muncul secara mendadak, termasuk wajah menurun pada satu sisi, tangan atau kaki melemah sebelah, bicara pelo, kesulitan memahami pembicaraan, hingga gangguan penglihatan atau keseimbangan.
Jika gejala tersebut ditemukan, masyarakat tidak dianjurkan menunggu gejala mereda atau mencoba mengobatinya sendiri. Segera hubungi layanan kegawatdaruratan atau bawa pasien ke rumah sakit, serta catat waktu saat gejala pertama kali muncul.
Dalam kegiatan tersebut, tiga narasumber menyampaikan materi mengenai faktor risiko, rehabilitasi pascastroke, serta peran nutrisi dalam pemulihan dan pencegahan stroke berulang.Dr. dr. Abdulloh Machin, Sp.N, Subsp. NKI(K) membahas faktor risiko stroke dan pentingnya pencegahan sejak dini.
Sejumlah faktor yang perlu diwaspadai antara lain tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, serta obesitas. “Risiko juga dapat meningkat akibat gangguan irama jantung tertentu dan faktor usia,” jelas Dr dr Abdulloh Machin SpN dikutip dari laman PCNU Surabaya.
Dijelaskan, pengendalian faktor-faktor tersebut dapat dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan berkala, menjaga tekanan darah dan kadar gula serta kolesterol tetap terkendali, menerapkan pola makan seimbang, berolahraga secara teratur, menjaga berat badan, dan menghindari rokok.
“Langkah pencegahan ini penting karena stroke tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada orang yang lebih muda,” tuturnya.
Materi berikutnya disampaikan dr. Nanda Aulya Ramadhan, M.Kes, M.Ked.Klin, Sp.KFR, AIFO-K mengenai rehabilitasi pascastroke. Rehabilitasi berperan membantu penyintas memulihkan kemampuan fungsional yang terganggu, mulai dari bergerak, berjalan, berbicara, menelan, hingga melakukan aktivitas sehari-hari.
Program rehabilitasi perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap pasien serta dilakukan secara bertahap di bawah pendampingan tenaga kesehatan.
“Dukungan keluarga dan lingkungan juga berperan penting dalam menjaga motivasi, meningkatkan kemandirian, dan membantu penyintas beradaptasi dengan perubahan setelah mengalami stroke,” kata dr Nanda.
Sementara , dr. Nurul Azizah, Sp.N, FMIN, Dipl of Pain, DFIDN menyampaikan materi mengenai nutrisi untuk mendukung pemulihan dan mencegah stroke berulang. Pola makan seimbang dengan memperbanyak sayur, buah, sumber protein yang baik, serta membatasi konsumsi garam, gula, dan lemak jenuh merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan pembuluh darah dan mengendalikan faktor risiko.
“Kebutuhan nutrisi penyintas stroke juga perlu disesuaikan. Pasien yang mengalami gangguan menelan, misalnya, membutuhkan penilaian tenaga kesehatan agar makanan dan minuman yang diberikan aman serta kebutuhan gizinya tetap terpenuhi,” tutur dr Nurul.Selain penyampaian materi, kegiatan “Santri Siaga Stroke” mencakup pemeriksaan fisik dan skrining stroke.
Langkah ini diharapkan membantu peserta memahami kondisi kesehatannya serta meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pemeriksaan rutin dan deteksi dini.
Melalui revitalisasi Poskestren berbasis metode FAST, santri diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat berperan sebagai penggerak edukasi kesehatan di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitarnya.
Pengetahuan mengenai gejala stroke, faktor risiko, pola hidup sehat, dan pentingnya akses pelayanan medis diharapkan dapat disebarluaskan secara berkelanjutan. (wah)



Tinggalkan Balasan