
Surabaya (Trigger.id)- Minat masyarakat Jawa Timur terhadap investasi pasar modal terus meningkat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah rekening investor di provinsi ini mencapai 3,5 juta hingga Agustus 2026, tumbuh 69,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Plt Kepala OJK Jatim Horas V. M. Tarihoran mengatakan, pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam investasi, seiring dengan kinerja sektor jasa keuangan yang tetap tumbuh dan resilien. “Kinerja sektor jasa keuangan di provinsi itu yang tetap tumbuh dan resilien,” kata Horas, Selasa (27/10).
Sejalan dengan peningkatan jumlah investor, nilai kepemilikan saham di Jawa Timur mencapai Rp 138,169 triliun atau tumbuh 25,6 persen. Sementara itu, penghimpunan dana melalui securities crowdfunding tercatat Rp69,83 miliar dengan melibatkan 37 penerbit.
Menurut Horas, perkembangan pasar modal perlu diimbangi dengan peningkatan literasi keuangan agar masyarakat mampu memahami manfaat, risiko, serta karakteristik instrumen investasi sebelum mengambil keputusan.
Di sektor perbankan, dana pihak ketiga (DPK) tercatat mencapai Rp 866 triliun, tumbuh 6,03 persen secara tahunan. Adapun penyaluran kredit mencapai Rp645 triliun atau meningkat 4,73 persen. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) net berada di level 1,67 persen, sedangkan NPL gross sebesar 3,80 persen.
Sektor keuangan lainnya juga menunjukkan perkembangan beragam. Premi asuransi mencapai Rp13,989 triliun atau tumbuh 31,74 persen, sementara investasi dana pensiun tercatat Rp4,476 triliun, meningkat 1,14 persen.Di sisi pembiayaan, piutang perusahaan pembiayaan mencapai Rp45,067 triliun, meski terkoreksi 1,39 persen.
Sebaliknya, pembiayaan modal ventura tumbuh 10,44 persen menjadi Rp 1,949 triliun dan pinjaman lembaga keuangan mikro meningkat 15,5 persen menjadi Rp 175,7 miliar.Pembiayaan berbasis teknologi finansial melalui layanan peer-to-peer lending juga tumbuh 13,26 persen menjadi Rp12,09 triliun. Namun, pinjaman sektor pergadaian mengalami kontraksi 29,15 persen menjadi Rp685,7 miliar.
Horas menegaskan, penguatan sektor jasa keuangan tidak cukup hanya ditopang oleh peningkatan transaksi dan penghimpunan dana. Pengelolaan risiko, perluasan akses pembiayaan, serta perlindungan konsumen juga menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
OJK berharap sektor jasa keuangan di Jawa Timur dapat terus mendukung kebutuhan pendanaan dunia usaha dan masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan demi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan. (wah)



Tinggalkan Balasan