
Surabaya (Trigger.id) – Ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar energi global setelah Iran menyatakan akan terus memblokir jalur pelayaran di Strait of Hormuz. Jalur laut sempit ini merupakan salah satu koridor energi paling penting di dunia.
Selat Hormuz berada di antara Iran di sebelah utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan. Meski lebarnya hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempit, selat ini menjadi jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk menuju pasar global.
Menurut data U.S. Energy Information Administration, sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Minyak tersebut berasal dari negara-negara produsen utama seperti Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Iran.
Ancaman terhadap kapal tanker di kawasan tersebut membuat banyak perusahaan pelayaran menunda perjalanan. Tanpa blokade fisik sekalipun, risiko serangan drone atau rudal sudah cukup membuat jalur ini nyaris lumpuh.
Akibatnya, harga minyak dunia melonjak tajam dan biaya pengiriman energi ikut meningkat. Tarif sewa kapal tanker bahkan dilaporkan hampir dua kali lipat dalam waktu singkat.
Bagi Indonesia, situasi ini berpotensi berdampak pada kenaikan harga minyak impor, meningkatnya biaya transportasi, serta tekanan terhadap inflasi dan anggaran energi.
Karena itu, ketegangan di Selat Hormuz tidak hanya menjadi persoalan geopolitik regional, tetapi juga ancaman bagi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. (ian)



Tinggalkan Balasan