
Kediri (Trigger.id) – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan sejumlah takjil yang dijual di pasar musiman menjelang berbuka puasa mengandung pewarna sintetis berbahaya yang dikenal dapat memicu kanker jika dikonsumsi secara terus-menerus.
Dari 56 sampel makanan dan minuman yang diuji di pasar takjil Kota Kediri, Jawa Timur, satu kerupuk terindikasi mengandung Rhodamin-B, yaitu zat pewarna buatan yang umumnya dipakai dalam industri tekstil, kertas, dan plastik — bukan untuk makanan.
Zat ini bersifat toksik dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius seperti kerusakan hati, ginjal, hingga iritasi pada kulit dan sistem pernapasan. Temuan ini menambah kekhawatiran atas keamanan pangan saat Ramadan, mendorong perlu pengawasan lebih ketat serta edukasi kepada pedagang dan konsumen agar berhati-hati memilih takjil yang aman dikonsumsi.
Efek Kesehatan Rhodamin-B Menurut Ahli Kesehatan dan Penelitian Ilmiah
1. Potensi Karsinogen (Pemicu Kanker)
- Rhodamin-B diklasifikasikan sebagai zat berpotensi karsinogenik (penyebab kanker), terutama bila terpapar secara kronis (jangka panjang).
- Studi toksikologi menunjukkan bahwa paparan jangka panjang dapat merusak DNA dan meningkatkan risiko mutasi genetik yang memicu kanker.
2. Kerusakan Organ Dalam (Hati & Ginjal)
- Paparan Rhodamin-B dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan nephrotoxicity (kerusakan ginjal).
- Organ–organ tubuh seperti hati dan ginjal bekerja keras memetabolisme zat ini, sehingga akumulasi dapat mengganggu fungsi normal dan menyebabkan peradangan atau kerusakan sel.
3. Toksisitas Sistem Saraf & Sel
- Senyawa ini diduga mampu menghasilkan stres oksidatif, peningkatan radikal bebas, dan kerusakan sel melalui gangguan membran sel serta apoptosis (kematian sel terprogram).
- Ketidaknormalan sel dapat memicu disfungsi berbagai sistem tubuh, termasuk kemungkinan gangguan sistem saraf.
4. Iritasi & Efek Akut
- Paparan akut terhadap Rhodamin-B (mis. kontak langsung atau inhalasi dalam penelitian kasus) menunjukkan gejala seperti iritasi mata, iritasi saluran pernapasan, batuk, dan sensasi perih – meskipun efek berat biasanya bersifat sementara.
Ini didapati pada paparan aerosol dalam studi klinis toksikologi.
*5. Gangguan Reproduksi & Sistem Endokrin (Perkembangan)
- Penelitian literatur menunjukan potensi efek pada sistem reproduksi, termasuk gangguan ovum atau fungsi hormon, meskipun sebagian besar data berasal dari model hewan dan belum sepenuhnya dipahami pada manusia.
6. Kerusakan Jaringan & Risiko Sistemik
- Rhodamin-B dapat terakumulasi dan berinteraksi dengan protein, lemak, dan DNA, yang berpotensi menyebabkan kerusakan multiorgan dan gangguan fungsi tubuh jika dikonsumsi berulang kali atau dalam jumlah besar.
Pendapat Ilmiah Terkait
Karena Rhodamin-B bukan pewarna makanan yang diizinkan, pendapat para ahli umumnya menyimpulkan:
✔ Ahli Toksikologi dan badan kesehatan seperti WHO dan FDA menyatakan bahwa Rhodamin-B bersifat berbahaya dan tidak boleh digunakan dalam makanan karena potensi toksisitas dan kemungkinan karsinogenik.
✔ Ahli kesehatan masyarakat memperingatkan bahwa konsumsi zat ini dalam jangka panjang dapat memicu gangguan sistem pencernaan, kerusakan organ, dan penyakit kronis seperti kanker.
✔ Ahli gizi dan keamanan pangan menegaskan bahwa konsumsi pewarna sintetis non-pangan seperti Rhodamin-B tidak memberikan manfaat nutrisi dan justru membahayakan.
Sampai sekarang tidak ada pernyataan langsung satu ahli kesehatan atau ahli gizi tertentu dalam sumber publik yang menyatakan dampak ini, tetapi temuan-temuan diatas berasal dari konsensus ilmu toksikologi yang dipublikasikan dalam literatur ilmiah dan panduan keselamatan pangan.
Rhodamin-B bila masuk ke tubuh manusia cenderung tidak aman karena bersifat toksik, dapat mengiritasi jaringan tubuh, merusak organ internal, menimbulkan kerusakan sel, serta memiliki potensi meningkatkan risiko kanker jika terpapar dalam jangka panjang atau dalam jumlah besar—itulah sebabnya zat ini dilarang untuk penggunaan dalam makanan.
Apakah Anda ingin saya menyusun kutipan pernyataan ahli kesehatan/kedokteran secara langsung dari sumber jurnal atau organisasi kesehatan internasional? (Mis. WHO, IARC, FDA) (ian)



Tinggalkan Balasan