

Pagi itu, suasana di Italia terasa berbeda. Bukan sekadar kecewa, tetapi campuran amarah, keterkejutan, dan keputusasaan menyelimuti negeri yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pusat kejayaan sepak bola dunia. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, tim nasional mereka kembali gagal menembus FIFA World Cup.
Kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina dalam laga playoff menjadi pukulan telak. Setelah bermain imbang 1-1, Italia harus menyerah lewat adu penalti dengan skor 4-1—sebuah akhir yang terasa pahit bagi para tifosi. Ini bukan sekadar kekalahan biasa, melainkan perpanjangan dari mimpi buruk yang telah menghantui sejak lebih dari satu dekade terakhir.
Media-media besar Italia pun tak mampu menyembunyikan kekecewaan. Istilah “kutukan Piala Dunia” mencuat, menggambarkan kondisi tim yang dulu begitu disegani, namun kini kesulitan bahkan untuk sekadar lolos ke putaran final. Padahal, negara ini pernah merajai dunia dengan empat gelar juara, terakhir pada 2006.
Di jalanan Roma, emosi para penggemar mencerminkan kegelisahan yang lebih luas. Banyak yang mempertanyakan kualitas permainan tim, pemilihan pemain, hingga strategi yang dinilai tidak jelas arah. Rasa kecewa bukan hanya karena hasil, tetapi juga karena harapan yang kembali pupus—untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Kekalahan ini semakin terasa ironis jika melihat sejarah panjang Italia. Sejak terakhir kali tampil di Piala Dunia pada 2014, Azzurri terus tersandung di fase yang sama: playoff. Nama-nama besar yang dahulu menghiasi skuad kini seolah hanya menjadi bayangan kejayaan masa lalu.
Situasi semakin memanas ketika Menteri Olahraga, Andrea Abodi, secara terbuka mendesak Ketua Federasi Sepak Bola Italia, Gabriele Gravina, untuk mundur. Ia menilai kegagalan beruntun ini sebagai tanda bahwa fondasi sepak bola Italia perlu dibangun ulang dari awal.
Namun Gravina menolak mundur. Ia justru menyinggung minimnya dukungan dari pemerintah terhadap sepak bola, bahkan memicu kontroversi dengan menyebut cabang olahraga lain sebagai “amatir.” Pernyataan ini menuai reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk atlet lintas cabang yang merasa diremehkan.
Ketegangan antara federasi dan pemerintah memperlihatkan bahwa masalah yang dihadapi Italia bukan hanya teknis di lapangan, tetapi juga struktural di luar pertandingan. Sepak bola, yang selama ini menjadi bagian dari identitas nasional, kini berada di persimpangan jalan.
Mantan Perdana Menteri Matteo Renzi menyebut kegagalan ini bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan cerminan kegagalan sistem. Di Italia, sepak bola bukan hanya hiburan—ia adalah kebanggaan, budaya, bahkan simbol persatuan.
Di tengah gemerlap prestasi olahraga lain—dari Olimpiade hingga tenis dengan bintang seperti Jannik Sinner—keterpurukan sepak bola terasa semakin kontras.
Kini, pertanyaan besar menggantung: apakah ini benar-benar “kutukan”, atau sekadar konsekuensi dari sistem yang tak lagi relevan?
Yang jelas, bagi Italia, jalan kembali menuju panggung dunia tidak lagi mudah. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, negara yang pernah begitu dominan itu harus belajar memulai dari nol—dengan harapan suatu hari bisa kembali bangkit dan menghapus luka panjang ini.
—000—
*Pemimpin Redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan