
Surabaya (Trigger.id) – Mulai Juli 2026, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia akan mulai menggunakan bensin dengan campuran bioetanol lima persen atau yang dikenal sebagai E5. Kebijakan yang disiapkan pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral itu menjadi langkah baru dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Penerapan awal E5 akan dilakukan di beberapa daerah seperti Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, Bali, dan Lampung. Pemerintah menegaskan bahan baku etanol yang digunakan harus berasal dari dalam negeri, bukan impor.
Di balik kebijakan tersebut, muncul pertanyaan di kalangan masyarakat: mengapa pemerintah memilih etanol, dan apa dampaknya bagi konsumen bahan bakar?
Bioetanol sebenarnya bukan hal baru di dunia energi. Cairan berbasis alkohol yang umumnya dihasilkan dari tebu, jagung, atau singkong ini telah lama dipakai sebagai campuran bensin di sejumlah negara seperti Brasil dan Amerika Serikat. Campuran etanol dipercaya mampu menekan emisi karbon karena berasal dari sumber terbarukan berbasis tanaman.
Bagi Indonesia, penggunaan etanol dipandang sebagai salah satu jalan untuk mengurangi impor bahan bakar sekaligus membuka pasar baru bagi sektor pertanian dan industri bioenergi domestik. Pemerintah berharap langkah ini dapat memperkuat ketahanan energi nasional di tengah fluktuasi harga minyak dunia.
Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi menyebut pemerintah saat ini baru mengidentifikasi tiga perusahaan yang mampu memproduksi etanol fuel grade dengan total kapasitas sekitar 26 ribu kiloliter. Karena itulah penerapan E5 masih dilakukan secara bertahap.
Di sisi konsumen, penggunaan bensin campuran etanol sebenarnya memiliki beberapa keuntungan. Salah satunya adalah pembakaran bahan bakar yang lebih bersih. Etanol memiliki kadar oksigen lebih tinggi dibanding bensin murni sehingga proses pembakaran di mesin dapat berlangsung lebih sempurna dan menghasilkan emisi lebih rendah.
Selain itu, etanol juga memiliki angka oktan cukup tinggi. Campuran E5 berpotensi membantu meningkatkan performa pembakaran pada kendaraan tertentu dan membuat mesin lebih halus. Pada kendaraan modern, penggunaan E5 umumnya tidak membutuhkan modifikasi khusus karena kadar campurannya masih rendah.
Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satu kekhawatiran konsumen adalah soal efisiensi bahan bakar. Etanol memiliki kandungan energi lebih rendah dibanding bensin, sehingga dalam beberapa kondisi konsumsi BBM bisa sedikit lebih boros, meskipun selisihnya pada campuran lima persen diperkirakan tidak terlalu signifikan.
Tantangan lain berkaitan dengan kesiapan infrastruktur distribusi dan kualitas bahan bakar. Etanol bersifat mudah menyerap air sehingga membutuhkan sistem penyimpanan yang baik agar kualitas BBM tetap terjaga. Jika distribusi tidak dikontrol dengan baik, risiko kontaminasi dapat memengaruhi performa kendaraan.
Bagi pemilik kendaraan lama, terutama kendaraan dengan komponen berbahan karet tertentu, campuran etanol dalam jangka panjang juga dikhawatirkan mempercepat keausan apabila spesifikasi kendaraan belum mendukung biofuel. Meski demikian, untuk campuran rendah seperti E5, dampaknya relatif kecil dibanding campuran etanol dengan kadar lebih tinggi.
Di sisi ekonomi, kebijakan E5 juga bisa membawa dampak ganda. Jika produksi etanol dalam negeri berkembang, petani tebu, singkong, maupun industri bioenergi berpotensi mendapatkan pasar baru. Namun di saat bersamaan, pemerintah perlu memastikan pasokan bahan baku energi tidak mengganggu kebutuhan pangan.
Saat ini Pertamina disebut telah melakukan uji pasar E5 di berbagai titik distribusi. Pemerintah pun masih menunggu penyempurnaan regulasi, termasuk revisi aturan cukai dan penyederhanaan izin usaha biofuel sebelum kebijakan berlaku penuh.
Bagi konsumen, hadirnya E5 kemungkinan akan menjadi awal perubahan baru dalam pola konsumsi bahan bakar di Indonesia. Meski belum sepenuhnya bebas tantangan, pemerintah berharap langkah ini dapat menjadi jembatan menuju energi yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan. (iang)



Tinggalkan Balasan