
Surabaya (Trigger.id) – Di era ketika gawai hampir selalu berada di tangan anak-anak, peran orang tua—terutama ibu—tak lagi sekadar memastikan anak makan tepat waktu atau belajar dengan baik. Kini, ibu juga menjadi penjaga pertama yang harus mampu melindungi anak dari ancaman dunia digital.
Kesadaran inilah yang mendorong Tim Penggerak (TP) PKK Surabaya memperkuat gerakan literasi digital bagi para ibu. Ketua TP PKK Surabaya, Rini Indriyani, menilai bahwa pemahaman digital orang tua menjadi kunci penting untuk membentengi anak dari berbagai risiko di internet, mulai dari konten negatif, judi online, pinjaman online, hingga perundungan di dunia maya.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat pola pengasuhan ikut berubah. Orang tua tidak cukup hanya mengawasi anak di dunia nyata, tetapi juga perlu memahami ruang digital tempat anak-anak kini banyak berinteraksi.
“Literasi digital itu bagian dari kepedulian ibu kepada anak dan keluarganya. Orang tua harus tahu bagaimana anak menggunakan gadget sesuai usia dan kemampuannya,” ujarnya.
Untuk memperkuat upaya tersebut, TP PKK Surabaya menggandeng berbagai perangkat daerah, salah satunya Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3APPKB). Melalui kolaborasi ini, berbagai program edukasi parenting digelar hingga tingkat kelurahan dan RW.
Salah satunya melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga). Program ini menghadirkan kelas-kelas parenting yang memberi pemahaman kepada orang tua tentang bahaya yang kerap tersembunyi di balik layar ponsel—termasuk judi online dan pinjaman online yang kian marak.
Tak berhenti di sana, TP PKK Surabaya juga menjalankan program KILAS (Keluarga Indonesia Lindungi Anak dari Kekerasan Seksual). Program ini memberi pendampingan bagi anak sekaligus membekali keluarga agar lebih peka terhadap berbagai bentuk kekerasan, termasuk yang terjadi melalui media digital.
Bagi orang tua yang memiliki anak usia dini, tersedia pula Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH). Di kelas ini, orang tua mendapatkan panduan bagaimana mengenalkan dan mengatur penggunaan gadget bagi anak usia 0 hingga 6 tahun secara sehat dan aman.
Gerakan literasi digital ini ternyata telah menjangkau ribuan warga. Rini menyebutkan, program edukasi tersebut sudah hadir di sekitar 2.400 RW di Surabaya.
Baginya, upaya melindungi anak di era digital tidak bisa hanya menyasar anak-anak saja. Orang tua justru menjadi pihak yang paling penting untuk diberi pemahaman.
“Sekarang yang perlu diedukasi bukan hanya anaknya, tapi orang tuanya juga,” katanya.
Kesadaran serupa juga mendorong lahirnya program KEMANGI (Kelas Remaja-Orang Tua Tangguh, Kreatif, dan Mandiri). Program ini ditujukan bagi keluarga dengan anak remaja, dengan tujuan memperkuat komunikasi antara orang tua dan anak dalam menghadapi berbagai tantangan dunia digital.
Melalui kelas ini, orang tua belajar bagaimana mendampingi remaja menggunakan media sosial, bermain gim, hingga mengelola waktu penggunaan gadget secara bijak.
Ancaman terhadap anak saat ini memang semakin kompleks. Kekerasan tidak selalu terjadi secara fisik atau verbal di lingkungan sekitar. Banyak kasus perundungan kini terjadi secara senyap melalui media sosial atau ruang digital lainnya.
Karena itu, edukasi kepada orang tua menjadi semakin penting. Apalagi, konten berbahaya sering muncul tanpa disadari—misalnya melalui iklan atau sponsor yang tiba-tiba muncul di dalam gim yang dimainkan anak.
Hal-hal kecil seperti inilah yang sering luput dari perhatian orang tua.
“Kadang anak sedang bermain gim, lalu muncul iklan yang memuat kekerasan atau konten tidak layak. Hal-hal seperti ini yang perlu dipahami orang tua,” jelasnya.
Melalui berbagai program tersebut, TP PKK Surabaya berharap para ibu tidak hanya menjadi pengasuh di rumah, tetapi juga menjadi pelindung digital bagi anak-anak mereka. Sebab di era teknologi, perhatian orang tua bukan lagi hanya soal apa yang dilakukan anak di luar rumah—tetapi juga apa yang mereka temui di layar kecil di genggaman mereka. (ian)



Tinggalkan Balasan