
Jakarta (Trigger.id) – Musim mudik selalu menghadirkan cerita yang sama: jutaan kendaraan bergerak meninggalkan kota menuju kampung halaman. Di tengah arus besar itu, ada satu ancaman yang kerap menjadi perhatian petugas—truk dengan muatan berlebih dan dimensi tidak sesuai aturan.
Pada masa Operasi Ketupat 2026, aparat kepolisian memastikan kendaraan logistik jenis ini tidak akan dibiarkan bebas melintas di jalur mudik. Upaya tersebut dilakukan demi menjaga keselamatan pemudik sekaligus kelancaran arus lalu lintas.
Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Irjen Pol Agus Suryonugroho, mengatakan pengawasan dilakukan secara ketat melalui berbagai cara, mulai dari pemantauan kamera CCTV hingga patroli langsung di lapangan. Dari hasil pemantauan di pusat kendali lalu lintas Jasa Marga Traffic Management Center (JMTC) di Jatiasih, Bekasi, petugas masih menemukan beberapa kendaraan dengan dimensi tidak sesuai yang mencoba melintas di jalur utama mudik.
Temuan tersebut membuat aparat tidak hanya melakukan sosialisasi kepada pelaku usaha logistik, tetapi juga menyiapkan langkah penindakan tegas.
Truk dengan muatan berlebih atau kendaraan logistik dengan tiga sumbu diimbau tidak beroperasi selama masa pengamanan arus mudik. Jika imbauan tersebut diabaikan, aparat telah menyiapkan berbagai tindakan.
Mulai dari penilangan, mengeluarkan kendaraan dari jalur mudik, hingga menahan kendaraan agar tidak kembali beroperasi. Semua langkah itu mengacu pada aturan dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang pengaturan lalu lintas selama masa Lebaran.
Langkah tegas tersebut bukan tanpa alasan. Kendaraan over dimension dan over load kerap menjadi penyebab kemacetan panjang, bahkan berpotensi menimbulkan kecelakaan serius di jalan tol maupun jalur arteri.
Pengawasan dilakukan di berbagai titik jalur mudik yang menghubungkan Jakarta dengan daerah-daerah di Pulau Jawa. Kamera pemantau lalu lintas, pos pengawasan, hingga patroli petugas menjadi bagian dari strategi untuk memastikan kendaraan yang melintas benar-benar memenuhi standar keselamatan.
Namun Operasi Ketupat tidak hanya berfokus pada lalu lintas. Operasi berskala nasional ini juga mencakup pengamanan berbagai aktivitas masyarakat selama Ramadhan hingga Idul Fitri, termasuk perayaan Hari Raya Nyepi.
Karena itu, pengamanan juga disiapkan di berbagai lokasi keramaian seperti tempat ibadah, kawasan wisata, pelabuhan penyeberangan, hingga bandara. Berbagai skenario telah disusun untuk menghadapi kondisi normal maupun situasi darurat.
Untuk menjalankan operasi besar ini, Polri melibatkan sekitar 180 ribu personel bersama berbagai unsur pemangku kepentingan di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, pemantauan arus kendaraan pada hari pertama Operasi Ketupat menunjukkan kondisi lalu lintas masih relatif terkendali. Meski volume kendaraan mulai meningkat, arus mudik masih berada dalam batas normal dan belum memerlukan rekayasa lalu lintas khusus.
Data dari operator jalan tol menunjukkan sekitar 285 ribu kendaraan telah meninggalkan Jakarta pada hari pertama pengamatan. Angka tersebut baru sekitar 14 persen dari proyeksi total 3,5 juta kendaraan yang diperkirakan akan keluar dari ibu kota selama masa mudik.
Mayoritas kendaraan bergerak menuju jalur Tol Trans Jawa—jalur utama yang setiap tahun menjadi nadi perjalanan jutaan pemudik.
Di tengah arus besar itu, petugas berupaya memastikan satu hal penting: jalur mudik harus tetap aman. Dan salah satu caranya adalah dengan menertibkan “truk raksasa” yang kerap membawa muatan berlebih di jalan raya. (ian)



Tinggalkan Balasan