

Pukul 03.27 WIB. Di sebuah kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di kawasan Wonokromo, Surabaya, Ardi (23) terbangun oleh alarm ponselnya. Tak ada suara ibu yang mengetuk pintu. Tak ada aroma sayur bening atau telur dadar yang biasa tersaji di meja makan rumahnya di Lamongan. Yang ada hanya mi instan, sebotol air mineral, dan sepi.
Di kota sebesar Surabaya, kisah seperti Ardi bukanlah cerita tunggal. Ribuan perantau—mahasiswa, pekerja toko, karyawan pabrik, ojek daring—menjalani sahur dalam sunyi. Mereka datang dengan mimpi, tapi Ramadhan membuat rindu terasa lebih nyata.
Kota yang Tak Pernah Benar-Benar Tidur
Surabaya tetap menyala menjelang sahur. Di pinggir Jalan Ahmad Yani, beberapa warung 24 jam ramai oleh wajah-wajah mengantuk. Ada yang menyendok nasi goreng dengan mata setengah terpejam. Ada yang sekadar membeli teh hangat sebelum kembali ke kos.
Rani (26), karyawan ritel asal Banyuwangi, mengaku sahur adalah momen paling berat selama Ramadhan.
“Kalau buka puasa masih bisa ramai-ramai sama teman. Tapi sahur itu sepi sekali. Kadang cuma minum air dan roti,” katanya lirih.
Bagi sebagian perantau, sahur bukan lagi soal menu, melainkan soal suasana. Di rumah, sahur adalah kebersamaan. Di kota, sahur menjadi urusan bertahan.
Antara Mimpi dan Rindu
Perantau datang ke Surabaya membawa harapan: kuliah yang lebih baik, pekerjaan yang layak, masa depan yang lebih cerah. Namun Ramadhan menghadirkan ujian emosional yang berbeda.
Video call menjadi pengganti meja makan. Pesan suara ibu menjadi pengganti suara azan yang biasa terdengar dari musala kampung. Ada yang menahan air mata sebelum imsak, lalu bergegas bersiap bekerja.
Ardi mengaku, setiap sahur ia membuka kembali foto keluarganya.
“Supaya kuat. Saya ke sini kan juga buat bantu orang tua,” ujarnya.
Pandangan Tokoh Agama
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren di Surabaya, KH. Ahmad Syarif (nama disesuaikan), pengalaman sahur dalam kesendirian justru dapat menjadi ladang kedewasaan spiritual.
“Dalam Islam, puasa bukan hanya menahan lapar, tapi juga melatih kesabaran dan kemandirian. Perantau yang tetap bangun sahur meski sendiri, itu sedang melatih keteguhan niatnya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kesendirian tidak selalu berarti kehilangan makna.
“Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap amal tergantung niatnya. Ketika seorang anak merantau untuk memperbaiki nasib dan tetap menjaga ibadahnya, itu termasuk bentuk bakti kepada orang tua,” tuturnya.
KH. Ahmad juga mengingatkan pentingnya membangun komunitas di perantauan. “Masjid dan musala di kota besar harus menjadi rumah kedua. Jangan biarkan ada yang merasa sendirian di bulan suci.”
Sahur yang Menguatkan
Di beberapa sudut Surabaya, komunitas kecil mulai terbentuk. Ada kelompok mahasiswa yang sepakat sahur bersama di masjid kampus. Ada pula warga yang membuka dapur sahur gratis bagi pekerja malam.
Mungkin meja makan tak lagi panjang dan penuh lauk. Mungkin tak ada suara ayah yang bercanda atau adik yang masih mengantuk. Namun di kota ini, sahur tetap menjadi ruang harapan.
Surabaya mengajarkan bahwa kedewasaan sering lahir dari kesunyian.
Dan di antara suara motor yang melintas serta azan Subuh yang menggema, para perantau belajar satu hal:
bahwa sahur tanpa meja makan pun tetap bisa penuh makna—selama ada niat, doa, dan keyakinan bahwa rindu suatu hari akan terbayar ketika mereka pulang membawa cerita keberhasilan.
—000—
*Pemimpin Redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan