
Surabaya (Trigger.id)– Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Henri Subiakto, Drs., S.H., M.Si., menegaskan bahwa ilmu komunikasi memiliki peran sangat vital dalam menentukan arah baik dan buruknya peradaban bangsa.
Hal tersebut disampaikan dalam kajian saat acara Halal bi Halal dan Silaturahmi Perhumas dan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI Jatim) yang digelar di Kampus Stikosa AWS Surabaya, Sabtu (4/4/2026).
Menurut Henri, komunikasi tidak lagi sekadar alat menyampaikan pesan, tetapi telah menjadi kekuatan besar yang mampu membentuk realitas sosial, bahkan menentukan arah kepemimpinan suatu bangsa.
“Ilmu komunikasi memegang peran sangat vital dalam menentukan arah baik dan buruknya peradaban,” ujarnya.
Ia menekankan, para ahli komunikasi tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab moral, terutama dalam konteks politik dan kekuasaan. “Ahli komunikasi juga harus bertanggung jawab atas terpilihnya orang-orang yang bermasalah, karena ada peran konsultan komunikasi dalam membentuk persepsi publik saat kampanye,” tegasnya.
Henri mengingatkan, praktik komunikasi yang hanya berorientasi pada pencitraan berpotensi menyesatkan publik. Teknik seperti framing, propaganda, hingga disinformasi kerap digunakan untuk memoles figur yang sebenarnya tidak layak menjadi terlihat baik di mata masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti lemahnya critical thinking dalam pembelajaran ilmu komunikasi selama ini. “Kita banyak belajar ilmu komunikasi, tetapi minim keberanian untuk berpikir kritis terhadap asal-usul, kepentingan, dan ideologi di balik ilmu tersebut,” ungkapnya.
Henri menjelaskan, banyak teori komunikasi modern lahir dari pemikiran para ilmuwan Barat, seperti Harold Lasswell, Kurt Lewin, dan Paul Lazarsfeld.
Menurutnya, karya-karya tersebut tetap penting dipelajari, namun harus dikaji secara kritis karena setiap ilmu tidak pernah lepas dari konteks kepentingan tertentu. “Ilmu itu tidak selalu netral. Bisa saja dikembangkan untuk kepentingan ekonomi, politik, atau ideologi tertentu. Karena itu, kita harus memahami bukan hanya cara menggunakan ilmu, tetapi juga untuk siapa dan untuk apa ilmu itu digunakan,” jelasnya.
Henri menegaskan, tantangan terbesar para ahli komunikasi saat ini adalah menjaga integritas di tengah derasnya arus informasi dan tekanan kepentingan.
“Yang kita butuhkan hari ini adalah ahli komunikasi yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga memiliki keberanian berpikir kritis dan tanggung jawab moral,” katanya.
Ia pun mengingatkan, tanpa critical thinking, ilmu komunikasi berpotensi kehilangan arah dan justru menjadi alat legitimasi keburukan. “Jangan sampai kita hanya menjadi tukang framing. Komunikasi harus menjadi sarana pencerahan, bukan alat manipulasi,” pungkasnya. (ori)



Tinggalkan Balasan