• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Tangis dan Imunitas di Tengah Bencana

26 Desember 2025 by admin Tinggalkan Komentar

Oleh: Ari Baskoro*

Perbedaan persepsi sudah jamak terjadi. Publik memang majemuk. Mereka memandang suatu fakta, tergantung pada perspektifnya masing-masing. Sejatinya menangis adalah bagian integral dari suatu kehidupan. Sejak bayi ketika manusia dilahirkan, ditandai dengan tangis. Bagi seorang ibu yang melahirkan, itulah saat bersyukur diiringi  cucuran mata bahagia. Para ahli medis paham, tangis merupakan  fenomena fisiologi yang sangat manusiawi ! 

Banjir air mata seorang artis sinetron, tentu sangat berbeda dengan tangis   jurnalis. Meski sama-sama di depan kamera, keduanya memiliki hakikat yang berbeda. Apalagi deraian air mata seorang pemimpin. Sedu-sedan ratapan seorang artis, bisa jadi merupakan bukti “integritas profesionalitas” mereka. Artinya, air mata merupakan penggal penghayatan skenario yang telah digariskan. Tapi mengapa deraian air mata  ekspresi kesedihan di tengah bencana, memantik silang pendapat di ruang publik ? Kini muncul polemik di tengah masyarakat, imbas seorang jurnalis sebuah stasiun televisi terisak-isak ketika menyampaikan reportasenya. Berlatar belakang kerusakan lingkungan dampak bencana Aceh Tamiang, dengan suara terbata-bata Irine Wardhanie (IW) menyampaikan pandangan matanya. Sejatinya laporannya yang jujur, gamblang apa adanya, sangat diperlukan khalayak untuk menilai secara obyektif bencana yang terjadi. Imbas iba terhadap derita masyarakat terdampak bencana, pemirsa televisi ikut hanyut dalam perasaan duka. Tetapi oleh pihak-pihak tertentu, momen laporan mengharukan  itu  dianggap mendramatisasi peristiwa. Konon efeknya bergulir liar, memicu dugaan konspirasi dan framing negatif terkait mitigasi bencana. Sungguh memprihatinkan, kabarnya IW mengalami “serangan misinformasi”. Memang benar adanya, setiap profesi menyimpan suatu risiko. Bagi pihak yang “diuntungkan” akan menyampaikan apresiasi. Sebaliknya bagi yang merasa dirugikan, memantik friksi. 

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem, tak tahan melihat derita rakyatnya. Tangisnya pun pecah. Publik yang menyaksikan wawancaranya dengan Najwa Shihab, sang jurnalis senior, ikut terharu. Tidak ada narasi negatif tentang tangisan beliau. Masyarakat menganggapnya sebagai ekspresi duka yang sangat wajar. Sungguh-sungguh spontan dan alami. Bukan pula bagian dari suatu skenario. Padahal dalam lingkup sistem sosial patriarki, seorang laki-laki “tidak pantas” menangis. Pasalnya laki-laki telah “didoktrin” untuk bersikap tegar, mewakili otoritas moral dan pemimpin rumah tangga.  Apalagi ketika mendapat mandat sebagai  pemegang kekuasaan/jabatan. “Hebatnya”, Najwa Shihab tidak ikut larut dalam haru mendalam. Meski sebagai seorang perempuan sekaligus jurnalis, apakah dia lebih “tangguh” dari Mualem ? Tentu tidak bisa dijawab dengan narasi hitam-putih, untuk menyederhanakan masalah.

Jurnalis adalah profesi spesifik. Banyak rambu-rambu etika jurnalistik yang mengikat, saat mereka bertugas. Konon misinya harus memberikan informasi yang akurat pada publik. Mereka dituntut bersikap “datar” dan obyektif terhadap peristiwa yang diliputnya. Tidak ditambah, tidak dikurangi pula. Pokok masalah itu, sebagai  parameter sisi profesionalitas dan integritasnya. Persoalannya, tugas mulia meliput peristiwa menyedihkan, tidak selalu mudah dijalankan. Kadang harus bisa memisahkan diri antara mindset pribadinya dengan misi obyektif yang harus dijalankannya. Sikap independen itulah yang kini “digugat” pihak-pihak tertentu, karena dipandang memantik opini liar yang dianggap merugikannya. Mungkin topik “air mata jurnalis”, bisa menjadi bahan diskusi ahli terkait. 

Aspek medis air mata kesedihan   

Sebagai seorang immunologist, penulis memiliki perspektif spesifik terkait air mata. Ketika seseorang meluapkan tangisan kesedihannya, secara bijak berikanlah  kesempatan yang cukup. Reaksi emosional sesaat itu, perlu “difasilitasi”. Banyak manfaat di balik fakta menangis. Stres, depresi, merasa kehilangan, atau penyebab lainnya, sejatinya merupakan ekspresi lonjakan hormon stres. Kortisol, nama hormon tersebut, sangat perlu “disalurkan” untuk menuju suasana hati yang lebih damai. Ketegangan dan sistem keseimbangan (homeostasis) yang terjadi pada sistem saraf pusat (SSP), akan kembali menuju “titik nol”. 

Mengutip pendapat Robert Ader tentang efek learning process pada regulasi sistem imun, menangis sangat diperlukan. Ada interaksi timbal balik antara SSP, kondisi kejiwaan, imunitas, dan hormon (konsep psiko-neuro-endokrino-imunologi). Ketika tubuh terpapar suatu stressor, secara otomatis melalui berbagai tahapan akan menginduksi sekresi berbagai hormon stres. Mekanisme itu memicu efek domino,  menimbulkan efek modulasi pada sistem imun. Masalahnya, tidak semua orang mampu melepaskan stres secara “bijak”. Perlu pembelajaran dan adaptasi berkesinambungan, agar tidak merugikan diri sendiri. Stressor yang berlarut-larut tanpa mendapatkan solusi, berpotensi besar menekan imunitas. Dampak rentetannya berisiko menimbulkan berbagai manifestasi penyakit sistem imun. Bisa dalam wujud kerentanan terpapar   infeksi atau munculnya penyakit autoimun. Karena itu semua pihak mesti menaruh empati dan rela mengulurkan tangan pada korban bencana. 

Air mata adalah cara untuk berkata-kata tentang sesuatu yang tidak bisa terungkap oleh hati. Itulah wujud ekspresi empati yang paling jujur. Setiap tetes air mata adalah katalis sebuah pembelajaran, membuat seseorang lebih kuat dan bijaksana. Sistem imun pun “ditata kembali”, untuk menemukan jalannya menuju homeostasis baru yang fungsional. 

—–o—–

*Penulis :

  • Pengajar senior di :
    • Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam             FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya
    • Magister Ilmu Kesehatan Olahraga (IKESOR) Unair
  • Penulis buku :
    • Serial Kajian COVID-19 (tiga seri) 
    • Serba-serbi Obrolan Medis
    • Catatan Harian Seorang Dokter
    • Sisi Jurnalisme Seorang Dokter (dua jilid)
Share This :

Ditempatkan di bawah: Kesehatan Ditag dengan:Air Mata, banjir, bencana, Di Tengah, Imunitas, Tangis

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Pemerintah Siapkan Rp 31 T, Usia Diatas 17 Tahun Dapat Rekening Bank

5 Oktober 2026 By admin

Prabowo Resmikan 204 Satuan TNI dan 6 Kodam Baru

5 Oktober 2026 By admin

Logo HUT Ke-81 Jatim Tegaskan Arah Pembangunan Berkelanjutan

4 Oktober 2026 By admin

Kemkomdigi : Notifikasi Tak Cukup, Operator Harus Lindungi Sisa Kuota Pelanggan

4 Oktober 2026 By admin

KCL Singhasari Siapkan Dua Magister Baru, Fokus Perkuat Keamanan Siber

3 Oktober 2026 By admin

Dekananto Eko Purwono Dipercaya Jadi Kapolda Jatim

3 Oktober 2026 By admin

“Batik Berlayar” Merawat Tradisi Menggairahkan Ekonomi

2 Oktober 2026 By admin

Gubernur Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga 30 November 2026

2 Oktober 2026 By admin

Jelang Konferensi PWI Jatim, DPS Keluar, Masa Sanggah hingga 2 Oktober 2026

1 Oktober 2026 By admin

PBNU Umumkan 210 Pengurus Periode 2026-2031, Gus Kikin Tekankan Pemerataan Kader

1 Oktober 2026 By isa

BAZNAS Jatim-UNUSA Perkuat Sinergi, Dorong Beasiswa, Riset, dan Pemberdayaan UMKM

1 Oktober 2026 By admin

‘Apartemen’ Lapas Cibinong Tak Tercatat Aset Negara. Siapa Donaturnya ?

1 Oktober 2026 By admin

Kenali Influenza A pada Anak: Gejala dan Cara Cegah Penularan

30 September 2026 By admin

Sambut Allergy Awareness Day, Morinaga Soya Rayakan Beragam Potensi Anak di Surabaya dan Malang

30 September 2026 By zam

Jalan Tol Prosiwangi Segmen Gending-Paiton Dibuka Hari Ini, Gratis Selama 14 Hari

30 September 2026 By zam

Gaya Hidup Tak Sehat Picu Serangan Jantung Usia Muda

29 September 2026 By admin

Rumah Kaca Sekolah Bumi Shalawat Jadi Laboratorium Agrikultur Modern

29 September 2026 By admin

Tips Memilih Daging Sapi Aman dan Berkualitas

29 September 2026 By admin

Jelang Indonesia vs Malaysia, GBK Semarak Hiburan Suporter

28 September 2026 By admin

Syahrini 7 Tahun Setelah Jaga Anak dan Reino Barack

28 September 2026 By admin

Opera Kolosal “Merah Putih Bertanya” Refleksi Perobekan Bendera

27 September 2026 By admin

Manasik Haji 2027 Dimulai Lebih Awal

27 September 2026 By admin

Guruh Soekarnoputra, Merawat Warna Budaya Indonesia Sampai Akhir Hayat

26 September 2026 By admin

Beasiswa Khofifah ke Al Azhar, Santri Jatim Menorehkan Prestasi di Kairo

26 September 2026 By admin

Jatim Bidik Pasar Arab Saudi, Potensi Transaksi Misi Dagang Capai Rp 6,7 Triliun

25 September 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • 500 Undangan HUT ke-81 Jatim Ludes 31 Detik
  • TKD Tembus Rp 599,2 T Sampai September, Stimulus Daerah Diperkuat
  • Veda Pratama Ikut Kualifikasi Moto3 Mandalika
  • Cium Bau Gas LPG ? Jangan Nyalakan Sakelar, Ini Langkah Aman Mengatasinya
  • Biaya Haji 2027 Turun Rp 3,4 Juta, Pelunasan Jemaah Jadi Rp 23 Juta

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.