
Magetan (Trigger.id) – Suasana halaman Kantor Perpustakaan Magetan, Kamis (17/9) malam, berubah menjadi ruang pertunjukan yang penuh warna. Warga dari berbagai kalangan berkumpul menikmati pentas Teater Kaki Lima Puchi Mari Mari.
Kehadiran kelompok seni asal Jepang ini bukan hanya menghadirkan hiburan namun sekaligus pengalaman pertukaran budaya secara langsung.Tak seperti pertunjukan teater pada umumnya yang identik dengan panggung dan tata cahaya megah, Puchi Mari Mari tampil dengan konsep sederhana dan dekat dengan penonton.
Para seniman berinteraksi langsung dengan warga, menghadirkan gerak, tarian, dan adegan yang membuat suasana pertunjukan terasa akrab.Penonton pun tidak hanya menjadi pihak yang menyaksikan dari kejauhan. Jarak yang dekat antara pemain dan warga membuat setiap gerakan dan ekspresi para seniman dapat dinikmati secara langsung.
Nuansa pertunjukan yang santai membuat halaman perpustakaan malam itu terasa seperti ruang perjumpaan budaya yang terbuka bagi siapa saja.Bagi sebagian warga Magetan, kehadiran seniman Jepang secara langsung menjadi pengalaman yang berbeda.
Lingga, salah seorang penonton, mengaku baru pertama kali menyaksikan pertunjukan pertukaran budaya yang berlangsung di tengah masyarakat dengan konsep yang begitu dekat.“Ini pengalaman pertama saya melihat pertukaran budaya seperti ini, di mana orang Jepang datang dan tampil langsung di tengah-tengah kita.
Rasanya berbeda ketika kita melihat kebudayaan Jepang hanya dari media,” ujar dia, dikutip dari laman LKBN Antara.Antusiasme warga juga mendapat apresiasi dari anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Diana Sasa. Ia menilai ramainya penonton menunjukkan bahwa kegiatan seni dan kebudayaan masih memiliki ruang di tengah masyarakat.
Pentas Puchi Mari Mari di Magetan menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan keliling kelompok teater tersebut di sejumlah wilayah Solo Raya dan eks-Keresidenan Madiun. Puchi Mari Mari sendiri dikenal sebagai kelompok teater Jepang yang mengedepankan kedekatan dan interaksi dengan masyarakat. Konsep pementasan tidak bergantung pada panggung besar, tata cahaya rumit, maupun perangkat pertunjukan yang kompleks. (wah)



Tinggalkan Balasan