
Malang (Trigger.id) -Minat masyarakat di wilayah kerja Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, Jawa Timur, terhadap pasar modal terus menguat. Hingga akhir Juli 2026, jumlah investor tercatat mencapai 582.443 single investor identification (SID), tumbuh 78,49 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan tersebut tidak hanya terlihat dari bertambahnya jumlah investor, tetapi juga dari meningkatnya aktivitas perdagangan saham. Nilai transaksi saham pada Juli 2026 mencapai Rp7,2 triliun, naik 62,96 persen yoy. Frekuensi transaksi melonjak 85,35 persen yoy menjadi 16,8 juta, sedangkan volume transaksi tumbuh 76,03 persen yoy menjadi 1,7 juta.
Kepala OJK Malang Farid Faletehan mengatakan pertumbuhan investor menjadi salah satu perkembangan yang menonjol dalam kinerja pasar modal di wilayah kerjanya. “Peningkatan tertinggi berdasarkan jumlah SID ditunjukkan oleh SID S-INVEST yang mencapai 556.784 SID per 31 Juli 2026 atau tumbuh 80,91 persen yoy,” kata Farid dikutip dari laman LKBN Antara, Kamis (17/6).
Angka tersebut menarik karena S-INVEST bukan nama produk investasi, melainkan sistem elektronik yang digunakan untuk mendukung penyelesaian transaksi reksa dana dan produk investasi lain yang tercatat di dalamnya. Dengan demikian, lonjakan SID S-INVEST tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai lonjakan pembelian satu jenis instrumen tertentu.
Meski demikian, dominasi pertumbuhan SID S-INVEST memberikan petunjuk mengenai perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses investasi. Instrumen yang dapat diakses melalui kanal digital, termasuk reksa dana dan produk investasi lainnya, tampaknya semakin menjadi bagian dari ekosistem investasi masyarakat.
Tren tersebut juga berjalan bersamaan dengan semakin aktifnya perdagangan saham. Sebelumnya, pada Mei 2026, jumlah SID di wilayah kerja OJK Malang telah mencapai 536.083 atau tumbuh 72,04 persen yoy. Pada saat yang sama, SID S-INVEST mencapai 510.288 atau meningkat 73,42 persen yoy. Nilai transaksi saham juga saat itu tumbuh 137,38 persen yoy.
Pertumbuhan jumlah investor dan aktivitas transaksi secara bersamaan menjadi fenomena yang lebih menarik dibanding hanya melihat kenaikan SID.Jika jumlah investor bertambah sementara aktivitas transaksi juga meningkat, terdapat indikasi bahwa masyarakat tidak sekadar membuka rekening investasi, tetapi semakin aktif menggunakan pasar modal.
Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) M. Sri Wahyudi Suliswanto sebelumnya menilai pertumbuhan jumlah investor dan transaksi menunjukkan semakin kuatnya partisipasi masyarakat Malang dan sekitarnya di pasar modal.Menurut dia, pertumbuhan tersebut merupakan perkembangan positif dari sisi inklusi keuangan.
Namun, peningkatan jumlah investor tetap perlu dibarengi dengan literasi dan edukasi agar pertumbuhan tidak berhenti pada penambahan jumlah akun dan aktivitas transaksi, tetapi juga menghasilkan keputusan investasi yang sehat dan berkelanjutan.Hal ini penting karena kenaikan jumlah investor belum otomatis berarti kualitas investasi masyarakat ikut meningkat. Investor baru bisa saja masih dalam tahap mencoba instrumen investasi, melakukan transaksi jangka pendek, atau mengikuti tren pasar.
Karena itu, indikator yang perlu diamati berikutnya bukan hanya jumlah SID, melainkan juga pertumbuhan dana yang ditempatkan, jenis instrumen yang dipilih, nilai kepemilikan, pola transaksi, serta tingkat pemahaman investor terhadap risiko.
Data sektor perbankan, penyaluran kredit di wilayah kerja OJK Malang pada Juli 2026 mencapai Rp112,32 triliun atau tumbuh 3,62 persen yoy. Dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat 3,87 persen yoy menjadi Rp108,09 triliun.Farid menambahkan sektor jasa keuangan tetap relatif stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global.
Perkembangan pasar modal dan perbankan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas intermediasi keuangan di Malang tetap bergerak.Masyarakat tidak hanya menggunakan lembaga keuangan untuk menyimpan dana dan memperoleh kredit, tetapi juga semakin aktif masuk ke instrumen investasi pasar modal. (wah)



Tinggalkan Balasan