
Surabaya (Trigger.id) – Piala Dunia selalu menghadirkan mimpi dan kejutan. Di satu sisi, ia menjadi panggung kejayaan bagi tim-tim terbaik dunia. Namun di sisi lain, turnamen ini juga menyisakan cerita getir—tentang para raksasa yang gagal tampil, tersingkir oleh kerasnya kompetisi dan perubahan zaman.
Menuju Piala Dunia FIFA 2026, sejumlah nama besar justru harus menepi. Bukan karena mereka kehilangan sejarah, tetapi karena sepak bola modern menuntut lebih dari sekadar nama besar.
Yang paling menyita perhatian tentu Timnas Italia. Negara dengan empat gelar juara dunia ini kembali gagal lolos, bahkan setelah jumlah peserta diperluas menjadi 48 tim. Kekalahan telak dari Bosnia dan Herzegovina di babak playoff menjadi pukulan telak. Ini adalah kali ketiga beruntun Italia absen, setelah sebelumnya juga gagal tampil pada 2018 dan 2022. Sebuah ironi bagi tim yang pernah begitu disegani.
Cerita serupa datang dari Timnas Polandia. Dengan deretan pemain berkualitas seperti Robert Lewandowski, harapan sempat membumbung tinggi. Namun sepak bola tak selalu berpihak pada nama besar. Kekalahan dramatis dari Swedia di babak playoff memupus impian mereka untuk kembali tampil di panggung dunia.
Di Eropa Utara, Timnas Denmark juga harus menerima kenyataan pahit. Tim yang kerap menjadi “kuda hitam” di turnamen besar ini gagal melangkah setelah tumbang lewat adu penalti melawan Republik Ceko. Generasi pemain seperti Christian Eriksen dan Rasmus Højlund belum mampu menjaga konsistensi Denmark di level tertinggi.
Sementara itu dari Afrika, Timnas Nigeria mengalami nasib yang tak kalah tragis. Tim berjuluk Super Eagles ini tersingkir melalui adu penalti melawan Republik Demokratik Kongo. Padahal sejak 1994, Nigeria dikenal sebagai langganan Piala Dunia, dengan hanya satu kali absen sebelumnya. Kekalahan ini menjadi sinyal adanya tantangan serius dalam regenerasi dan stabilitas tim.
Dari Amerika Selatan, Timnas Chile melengkapi daftar tim besar yang harus menonton dari rumah. Dalam satu dekade terakhir, performa mereka terus menurun. Kegagalan kali ini menandai absennya Chile untuk ketiga kalinya secara beruntun sejak 2018—sebuah kontras tajam dengan masa kejayaan mereka saat menjuarai Copa América.
Absennya lima tim besar ini menegaskan satu hal: sepak bola tidak mengenal jaminan. Nama besar, sejarah panjang, bahkan pemain bintang sekalipun tidak cukup tanpa konsistensi, regenerasi, dan kesiapan menghadapi dinamika permainan modern.
Namun di balik ketiadaan mereka, selalu ada ruang bagi cerita baru. Tim-tim debutan dan kuda hitam siap mengisi panggung, membawa semangat segar dan kejutan yang menjadi jiwa sejati Piala Dunia. (ian)



Tinggalkan Balasan