
Surabaya (Trigger.id) — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kian memanas setelah China memberi sinyal kuat akan memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang membuka peluang penggunaan kekuatan militer di Selat Hormuz.
Rancangan resolusi yang diusulkan Bahrain itu bertujuan mengamankan jalur pelayaran komersial di salah satu rute minyak paling vital di dunia. Namun Beijing menilai pendekatan militer justru berisiko memperburuk situasi.
Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, menegaskan bahwa pemberian mandat penggunaan kekuatan bersenjata dapat melegitimasi tindakan yang melanggar hukum internasional dan memicu eskalasi konflik yang lebih luas.
Menurutnya, langkah tersebut bukan solusi, melainkan berpotensi menimbulkan konsekuensi serius yang sulit dikendalikan.
Dalam mekanisme DK PBB, sebuah resolusi harus memperoleh sedikitnya sembilan suara setuju tanpa veto dari lima anggota tetap, yakni China, Amerika Serikat, Rusia, Inggris, dan Prancis. Sinyal veto dari China membuat peluang lolosnya resolusi tersebut menjadi kian tipis.
Sebelumnya, DK PBB dijadwalkan menggelar pemungutan suara terhadap draf resolusi itu. Namun, pertemuan yang melibatkan 15 anggota dewan disebut mengalami penjadwalan ulang.
Draf yang disusun Bahrain diketahui memberikan kewenangan penggunaan “segala langkah defensif yang diperlukan”, termasuk opsi militer, untuk menjamin keamanan pelayaran selama sedikitnya enam bulan.
Upaya ini mendapat dukungan dari sejumlah negara Teluk dan Amerika Serikat. Liga Arab juga menyatakan dukungan terhadap langkah Bahrain tersebut.
Di sisi lain, Inggris turut menggalang dukungan internasional dengan menggelar pertemuan yang dihadiri lebih dari 40 negara guna membahas keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Konflik tersebut berdampak langsung pada terganggunya jalur pelayaran global dan memicu lonjakan harga minyak dunia.
Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan akan melanjutkan serangan, meski belum merinci langkah konkret untuk membuka kembali akses Selat Hormuz.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas pasokan energi dunia. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sebagian besar distribusi minyak global, sehingga setiap eskalasi konflik di kawasan ini berpotensi berdampak luas terhadap ekonomi internasional. (ori)



Tinggalkan Balasan