
Jakarta (Trigger.id) – Di tengah dinamika harga energi global yang terus bergejolak, kabar kenaikan harga avtur hingga 30 persen sempat menimbulkan kekhawatiran. Bagi banyak calon jamaah, lonjakan ini berpotensi memicu kenaikan biaya perjalanan ibadah haji—sebuah perjalanan spiritual yang telah lama dinantikan.
Namun, pemerintah memastikan satu hal penting: jamaah tidak akan menanggung beban tambahan tersebut.
Kepala Biro Humas Kementerian Haji dan Umrah, Hasan Affandi, mengakui bahwa kenaikan harga bahan bakar pesawat memang berdampak pada biaya operasional maskapai. Meski demikian, pemerintah tengah merancang berbagai langkah agar dampak tersebut tidak berujung pada kenaikan biaya yang harus dibayar jamaah.
“Potensi kenaikan itu ada, tapi pemerintah berupaya keras agar tidak dibebankan kepada jamaah,” ujarnya.
Langkah mitigasi pun disiapkan secara menyeluruh. Pemerintah tidak hanya fokus pada aspek transportasi udara, tetapi juga memastikan seluruh komponen penyelenggaraan haji tetap berjalan optimal di tengah tekanan biaya.
Hal senada disampaikan Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak. Ia menegaskan bahwa fluktuasi harga energi global, termasuk avtur, telah diantisipasi sejak awal. Pemerintah Indonesia, menurutnya, terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga stabilitas biaya haji.
Pernyataan itu disampaikan usai pertemuan bilateral dengan Wakil Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Abdulfattah bin Sulaiman Mashat, di Madinah. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas kesiapan penyelenggaraan haji 2026, termasuk dampak kondisi global terhadap layanan jamaah.
Tak hanya soal transportasi, perhatian juga diarahkan pada aspek logistik, khususnya ketersediaan pangan. Pemerintah Arab Saudi memastikan bahwa pasokan makanan bagi jamaah tetap aman selama musim haji mendatang.
Kenaikan harga avtur sendiri merupakan imbas dari situasi energi global yang tidak menentu. Dalam industri penerbangan, avtur menjadi salah satu komponen biaya terbesar, sehingga setiap kenaikan akan berdampak signifikan.
Meski demikian, pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga keterjangkauan biaya haji. Berbagai skema efisiensi dan koordinasi lintas sektor terus diupayakan, agar ibadah haji tetap dapat dijalankan dengan tenang, tanpa tambahan beban finansial bagi jamaah.
Di tengah tantangan global, harapan itu tetap dijaga: perjalanan suci ke Tanah Suci harus tetap menjadi ibadah yang khusyuk, bukan kekhawatiran biaya. (ian)



Tinggalkan Balasan