
Jakarta (Trigger.id) – Kementerian Haji dan Umrah terus memperkuat transformasi digital dalam penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi guna meningkatkan kualitas pelayanan dan perlindungan jemaah Indonesia di Tanah Suci.
Digitalisasi tersebut difokuskan pada sistem pelaporan, pengawasan layanan, serta percepatan penanganan berbagai persoalan yang dihadapi jemaah selama menjalankan ibadah haji.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengatakan hingga hari ke-22 operasional haji, seluruh proses layanan berjalan relatif lancar mulai dari keberangkatan di Tanah Air hingga pelayanan di Arab Saudi.
Menurut Maria, layanan akomodasi, transportasi, konsumsi, pembinaan ibadah, serta pendampingan petugas di berbagai titik layanan terus berjalan secara terkoordinasi dan terpantau.
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 359 kelompok terbang (kloter) dengan total 138.879 jemaah serta 1.433 petugas telah diberangkatkan menuju Arab Saudi.
Sementara itu, proses pergerakan jemaah dari Madinah menuju Makkah juga berlangsung bertahap. Hingga kini tercatat 273 kloter yang membawa 105.360 jemaah dan 1.092 petugas telah tiba di Kota Makkah.
Untuk kedatangan gelombang kedua melalui Bandara Internasional King Abdulaziz, sebanyak 84 kloter dengan 32.009 jemaah dan 337 petugas telah memasuki Arab Saudi dan mulai menjalani tahapan layanan haji sesuai jadwal operasional.
Selain jemaah reguler, sebanyak 6.018 jemaah haji khusus juga telah berada di Tanah Suci.
Dalam mendukung penguatan layanan berbasis teknologi, Kemenhaj mengoptimalkan penggunaan platform digital “Kawal Haji”. Aplikasi tersebut memungkinkan jemaah maupun petugas menyampaikan laporan, informasi, hingga kendala layanan secara langsung selama berada di Arab Saudi.
Maria menjelaskan setiap laporan yang masuk melalui sistem akan dipantau dan diteruskan secara cepat kepada petugas sesuai bidang kewenangan masing-masing sehingga penanganan masalah dapat dilakukan lebih responsif.
Selain Kawal Haji, Kemenhaj juga memperkuat fungsi Command Center Haji 2026 sebagai pusat kendali utama penyelenggaraan ibadah haji.
Pusat kendali tersebut digunakan untuk memantau berbagai aspek layanan secara terintegrasi, mulai dari data kloter, pergerakan jemaah, sektor pelayanan, transportasi, akomodasi, konsumsi, hingga laporan lapangan yang membutuhkan penanganan segera.
Dengan sistem berbasis data tersebut, pengawasan operasional haji tidak lagi sepenuhnya dilakukan secara manual, melainkan melalui pemantauan digital yang memungkinkan respons lebih cepat dan terukur.
Menjelang fase puncak ibadah haji, Kemenhaj juga mengimbau jemaah untuk menjaga kondisi fisik, mengatur pola makan, memperbanyak istirahat, serta mematuhi arahan petugas demi menjaga kesehatan selama menjalankan rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Kemenhaj turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas haji Indonesia yang terus bekerja memberikan pelayanan kepada jemaah baik di Tanah Air maupun di Arab Saudi.
Transformasi digital yang terus dikembangkan tersebut diharapkan mampu menghadirkan layanan haji yang lebih cepat, transparan, responsif, dan semakin berpihak kepada kebutuhan jemaah Indonesia. (ian)



Tinggalkan Balasan