

Sabtu, 4 Juli 2026, ICMI Orwil Jawa Timur menggelar Seminar Nasional bertema “Mengembalikan Peran Intelektual sebagai Pemandu Peradaban yang Inklusif dan Transformatif.” Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jawa Timur Dr. Ramlyanto, ekonom senior Bank Jatim Dr. Sunarsip, Prof. M. Nafik dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, serta Ketua Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Jawa Timur Dr. Ir. Daniel Rohi, M.Eng.Sc., IPU. Diskusi dipandu Prof. Hesti Amirwulan dari Fakultas Hukum Universitas Surabaya, sementara pidato kunci disampaikan Ketua Umum ICMI Prof. Dr. Arif Satria.
Dalam paparannya, Ramlyanto menyoroti masih lemahnya proses knowledge translation into policy and impactful action, yakni kemampuan menerjemahkan hasil penelitian menjadi kebijakan publik dan aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, kondisi tersebut memerlukan pembangunan sebuah ekosistem kolaboratif yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dan media dalam satu ruang kerja bersama.
Ia juga mengkritisi masih kurang kuatnya advokasi dan kegigihan kalangan akademisi dalam mengawal hasil riset hingga benar-benar diimplementasikan. Di sisi lain, dunia kampus dinilai masih menghadapi gejala the curse of expertise, ketika kepakaran justru menciptakan jarak antara teori dengan praktik terbaik di lapangan.
Sementara itu, Dr. Sunarsip memaparkan perubahan lanskap ekonomi global yang kini bergeser ke kawasan Asia dengan meningkatnya pengaruh Tiongkok. Peran kelompok BRICSI juga semakin menguat sehingga ketergantungan Asia terhadap Amerika Serikat dan Eropa mulai mengalami perubahan.
Menurutnya, pemerintahan Presiden Prabowo mengambil arah pembangunan yang lebih menekankan kemandirian di sektor pangan dan energi sebagai upaya memperkuat fondasi ekonomi nasional serta mengurangi kerentanan rupiah terhadap tekanan pasar global. Pendekatan yang ia sebut sebagai Prabowonomics dinilai mengadopsi sebagian strategi pembangunan Tiongkok yang mampu mencatat pertumbuhan tinggi secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, ekonomi Jawa Timur yang bertumpu pada kekuatan sumber daya lokal terbukti memiliki daya tahan menghadapi dinamika geoekonomi dunia.
Dr. Daniel Rohi mengingatkan kembali pandangan Bung Hatta bahwa kaum intelektual harus menjadi “garam masyarakat”, yakni menghadirkan manfaat tanpa kehilangan jati dirinya. Di tengah keberagaman bangsa Indonesia, pembangunan yang transformatif, menurutnya, hanya akan berhasil apabila dilaksanakan secara inklusif sehingga seluruh potensi nasional dapat diberdayakan secara optimal.
Ia juga menekankan pentingnya integritas sebagai fondasi utama seorang intelektual. Keilmuan harus selalu berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan yang beradab, sedangkan kolaborasi dalam proses translasi pengetahuan merupakan pengejawantahan semangat gotong royong sebagai inti nilai Pancasila.
Senada dengan itu, Prof. M. Nafik menegaskan bahwa karya intelektual tidak semestinya berhenti sebagai publikasi ilmiah di jurnal bereputasi internasional. Pengetahuan harus melampaui batas kampus dan hadir sebagai praktik terbaik yang mampu memperkuat UMKM, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong hilirisasi berbagai potensi agro-maritim Indonesia menjadi nilai tambah yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam perspektif keislaman, Ustadz Taufiq mengingatkan bahwa seluruh karya intelektual perlu berlandaskan nilai-nilai ilahiah agar benar-benar menghadirkan kemaslahatan. Integritas, yakni kesatuan antara ucapan dan tindakan serta keselarasan antara teori dan praktik, menjadi ciri utama intelektual yang beriman. Sebaliknya, kesombongan intelektual justru dapat menghambat kolaborasi sekaligus menghalangi proses penerjemahan ilmu menjadi kebijakan maupun praktik terbaik.
Pada pidato kuncinya, Prof. Arif Satria memperluas perspektif peserta dengan mengingatkan bahwa Indonesia memiliki warisan intelektual yang sangat tua, bahkan mendahului banyak peradaban dunia. Menurutnya, bangsa-bangsa penjajah pada masa lalu tidak hanya membawa pulang rempah-rempah dan kekayaan alam Nusantara, tetapi juga berbagai naskah serta karya ilmiah para empu dan pujangga yang menjadi bagian dari khazanah ilmu pengetahuan bangsa.
Karena itu, ia menegaskan bahwa para intelektual Indonesia, khususnya cendekiawan Muslim di perguruan tinggi, tidak memiliki alasan untuk merasa inferior dalam percakapan intelektual di tingkat global. Bangsa ini memiliki modal sejarah, tradisi keilmuan, dan kekayaan intelektual yang patut dibanggakan sekaligus dikembangkan.
Seminar tersebut akhirnya mengerucut pada satu pemahaman bersama bahwa amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum merupakan tanggung jawab para intelektual organik. Mereka tidak cukup hanya berkarya di laboratorium atau menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat, di pasar, di desa, di kawasan pesisir, serta di ruang-ruang kehidupan lainnya untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan menjadi solusi nyata.
Semangat knowledge translation sesungguhnya telah memiliki pijakan kuat dalam Pembukaan UUD 1945 yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai instrumen perjuangan bangsa untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk penjajahan. Dalam konteks Indonesia hari ini, perjuangan tersebut diterjemahkan sebagai transformasi menuju bangsa yang berdaulat, mandiri, dan mampu berdiri sejajar di tengah persaingan global tanpa kehilangan jati diri maupun semangat gotong royong sebagai kekuatan utama bangsa.
—000—
*Dewan Pakar ICMI Orwil Jatim



Tinggalkan Balasan