
Surabaya (Trigger.id) – Ketua Umum ICMI, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., mengajak seluruh cendekiawan Muslim untuk memperkuat budaya riset, analisis data, dan integritas dalam menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, organisasi intelektual tidak cukup hanya melahirkan gagasan, tetapi juga harus mampu menghasilkan solusi yang berbasis ilmu pengetahuan.
Pesan tersebut disampaikan Arif Satria saat memberikan sambutan pada pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) ICMI Organisasi Wilayah Jawa Timur di Plaza Airlangga, Kampus C Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Sabtu (4/7/2026).
Untuk menggambarkan pentingnya riset dan analisis data, Arif menyinggung kekalahan telak Brasil 1-7 dari Jerman pada semifinal Piala Dunia 2014. Menurutnya, kemenangan Jerman bukan semata karena kualitas individu para pemainnya, melainkan karena mereka telah mempelajari pola permainan Brasil secara mendalam melalui analisis statistik.
“Apapun yang dilakukan pemain-pemain Brasil saat itu telah dipelajari dan dianalisis secara statistik oleh Jerman. Ini menjadi pelajaran bahwa data dan riset mampu menghasilkan strategi yang efektif,” ujarnya.
Ia juga mengajak para intelektual mengambil pelajaran dari Jepang yang dinilai memiliki budaya masyarakat yang dekat dengan ilmu pengetahuan. Tayangan televisi di negara tersebut banyak menghadirkan program edukatif, mulai dari fenomena alam, dunia satwa, hingga berbagai penelitian yang menumbuhkan rasa ingin tahu masyarakat.
Karena itu, Arif menegaskan ICMI harus melihat setiap persoalan dari perspektif research and development (R&D) dengan menjadikan data, statistik, dan kajian ilmiah sebagai landasan dalam merumuskan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
Di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di titik persilangan geografis, peradaban, dan perdagangan dunia. Potensi tersebut, menurut Arif, harus dimanfaatkan untuk membangun kembali peradaban Indonesia yang maju tanpa kehilangan arah perjuangan.
“ICMI jangan kehilangan pijakan dan konten perjuangan. Nurani harus terus diasah agar ilmu yang kita hasilkan benar-benar memberi manfaat bagi umat,” katanya.
Dalam sambutannya, Rektor IPB University itu juga mengajak peserta merenungkan berbagai fenomena alam. Burung mampu bermigrasi ribuan kilometer tanpa tersesat meski tidak menggunakan teknologi navigasi, sementara paus terkadang terdampar karena kehilangan orientasi.
“Fenomena-fenomena itu mengajarkan bahwa ketika keseimbangan hilang, akan muncul berbagai persoalan. Karena itu, keseimbangan ilmu, moral, dan nurani harus terus dijaga,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Arif menegaskan bahwa integritas merupakan modal utama organisasi intelektual. Kehilangan integritas, katanya, akan menghilangkan kepercayaan publik terhadap ICMI.
Ia pun mengajak seluruh anggota ICMI untuk membangun karakter, life skill, dan integritas sejak usia dini, bahkan mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), sebagai fondasi dalam membangun generasi yang mampu membawa Indonesia menuju peradaban yang lebih maju, inklusif, dan bermartabat. (Ian)



Tinggalkan Balasan