
Surabaya (Trigger.id) – Pemerintah Kota Surabaya tengah menyiapkan program Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami) khusus generasi Z sebagai solusi hunian terjangkau di tengah keterbatasan lahan dan melonjaknya harga properti perkotaan. Program ini menyasar pasangan muda, terutama yang baru menikah, agar tetap bisa memiliki tempat tinggal layak di kota sendiri.
Wali Kota Eri Cahyadi menjelaskan rusunami ini akan dibangun di tiga kawasan strategis, yakni Tambak Wedi, Rungkut, dan Ngagel. Berbeda dari konsep rusun sebelumnya, setiap unit akan dirancang dengan dua kamar tidur untuk mendukung kenyamanan keluarga kecil.
“Konsep dua kamar ini kami siapkan agar penghuni tetap nyaman meskipun sudah memiliki anak. Kami ingin generasi muda tidak hanya punya tempat tinggal, tetapi juga hunian yang layak,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Pemkot menargetkan rusunami ini berada di bawah Rp 500 juta, bahkan sebagian unit diproyeksikan mulai Rp100 juta hingga Rp200 juta, tergantung tipe dan lokasi. Skema pembiayaan juga dibuat ringan melalui kerja sama dengan perbankan, termasuk bank daerah dan BPR, dengan bunga sekitar 5 persen dan tenor hingga 20 tahun.
Guna menekan harga, pembangunan akan memanfaatkan lahan milik pemerintah kota dengan skema Hak Guna Bangunan (HGB) di atas Hak Pengelolaan Lahan (HPL). Dengan model ini, masyarakat tetap dapat memiliki unit hunian dengan kepastian hukum, sementara lahan tetap dikelola pemerintah.
Eri juga menegaskan Rusunami berbeda dengan Rusunawa. Jika Rusunawa bersifat sewa bagi masyarakat berpenghasilan rendah, maka Rusunami menjadi tahap lanjutan bagi warga yang mulai mandiri secara ekonomi. Pemkot bahkan mendorong mobilitas sosial, di mana penghuni Rusunawa dapat beralih ke Rusunami saat kondisi ekonomi membaik.
Selain itu, hunian ini dirancang terintegrasi dengan transportasi umum untuk meningkatkan efisiensi mobilitas dan produktivitas warga. Program ini juga diprioritaskan bagi warga Surabaya, pasangan muda, serta pekerja seperti ASN, petugas kebersihan, dan tenaga lapangan yang belum memiliki rumah.
Pakar perencanaan wilayah dan kota dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Dr. Ir. Budi Santoso, ST., MT., menilai program ini sebagai langkah progresif dalam menjawab tantangan urbanisasi. Konsep rusunami dengan dua kamar merupakan inovasi penting karena menyesuaikan kebutuhan keluarga muda masa kini.
“Selama ini banyak hunian vertikal kurang adaptif terhadap perkembangan keluarga. Konsep dua kamar ini lebih realistis dan berorientasi jangka panjang,” jelasnya.
Ia menambahkan penggunaan lahan pemerintah melalui skema HGB di atas HPL merupakan strategi tepat untuk menjaga harga tetap terjangkau tanpa mengorbankan legalitas.
Namun, Budi mengingatkan pentingnya integrasi transportasi dan fasilitas publik. “Kunci keberhasilan bukan hanya pada harga, tetapi juga aksesibilitas, konektivitas, serta keberadaan ruang terbuka dan layanan dasar,” tegasnya.
Sejumlah generasi muda menyambut positif rencana ini. Dinda (27), pekerja swasta di Surabaya, berharap program ini benar-benar terealisasi dan tepat sasaran. “Harga segitu sangat membantu kami yang baru mulai kerja. Selama ini rasanya sulit sekali punya rumah di Surabaya,” ujarnya. (wah)



Tinggalkan Balasan