
Yogyakarta (Trigger.id) – Di balik hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, ada ancaman sunyi yang terus merenggut nyawa tanpa banyak disadari: tuberkulosis, atau TBC. Penyakit yang kerap dianggap “biasa” ini ternyata masih menjadi salah satu pembunuh terbesar di Indonesia. Dalam satu jam, sekitar belasan orang kehilangan nyawa karenanya. Dalam setahun, jumlah itu menjelma menjadi sekitar 125 ribu jiwa—angka yang bukan sekadar statistik, melainkan kisah kehilangan dari ribuan keluarga.
Indonesia bahkan menempati posisi kedua di dunia dalam jumlah kasus TBC, dengan lebih dari satu juta orang terdampak setiap tahunnya. Namun ironisnya, ancaman sebesar ini sering luput dari kewaspadaan. Tidak seperti pandemi yang datang tiba-tiba dan mengguncang, TBC bergerak perlahan—diam-diam, tapi pasti.
Seorang pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada mengingatkan bahwa TBC sejatinya tidak kalah berbahaya dibanding COVID-19. Hanya saja, karena sudah lama ada di tengah masyarakat, banyak orang menjadi lengah. Padahal, justru di situlah bahayanya: ketika ancaman besar terasa seperti hal biasa.
TBC bukan penyakit yang langsung menunjukkan gejalanya setelah penularan. Bakteri penyebabnya dapat “bersembunyi” dalam tubuh selama berminggu-minggu, bahkan hingga tiga bulan, sebelum akhirnya menampakkan diri. Saat gejala mulai terasa—batuk yang tak kunjung reda, tubuh melemah, berat badan menurun—sering kali kondisi sudah terlambat ditangani.
Lebih dari sekadar persoalan medis, TBC juga membawa beban sosial. Stigma masih melekat kuat. Banyak orang takut memeriksakan diri karena khawatir dicap negatif, bahkan kehilangan pekerjaan. Akibatnya, diagnosis tertunda, pengobatan terlambat, dan penularan terus berlangsung tanpa kendali.
Padahal, harapan itu nyata. TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan, selama ditangani dengan benar dan tuntas. Upaya penanggulangannya pun kini semakin diperkuat melalui pendekatan menyeluruh: menemukan kasus secara aktif, memberikan pengobatan hingga sembuh, serta mencegah penularan pada kelompok berisiko.
Berbagai inovasi mulai hadir untuk menjangkau mereka yang selama ini luput dari perhatian—mulai dari penggunaan rontgen portable hingga layanan skrining terpadu yang memudahkan masyarakat mengakses pemeriksaan kesehatan. Namun semua itu tidak akan cukup tanpa satu hal penting: kesadaran.
Kesadaran untuk tidak mengabaikan tubuh sendiri. Kesadaran untuk tidak takut memeriksakan diri. Dan kesadaran bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal diri sendiri, tetapi juga melindungi orang-orang di sekitar.
Karena terkadang, tanda paling sederhana—seperti batuk yang tak kunjung hilang selama lebih dari dua minggu—bisa menjadi pesan penting dari tubuh. Pesan yang, jika diabaikan, bisa berujung kehilangan. (ori)
Sumber: ugm



Tinggalkan Balasan