

Di sebuah sudut masjid selepas Ashar, suara terbata-bata terdengar lirih.
“Alif… lam… mim…”
Suara itu bukan milik anak kecil yang baru belajar mengeja huruf hijaiyah. Yang duduk di hadapan mushaf itu adalah seorang kakek berusia lebih dari 60 tahun. Tangannya sedikit gemetar ketika menunjuk huruf demi huruf. Sesekali ia tersenyum malu ketika salah membaca, lalu mengulanginya kembali dengan penuh kesabaran.
“Dulu saya sibuk bekerja. Sekarang baru sempat belajar,” ujarnya pelan.
Pemandangan seperti ini semakin sering terlihat di berbagai masjid, majelis taklim, hingga rumah-rumah Qur’an. Banyak orang yang baru mulai belajar membaca Al-Qur’an ketika usia sudah tidak muda lagi.
Bagi mereka, belajar mengaji bukan lagi sekadar kemampuan membaca. Ia adalah perjalanan pulang.
Ketika Hati Tersentuh di Ujung Usia
Bagi sebagian orang, usia senja sering menjadi masa perenungan. Anak-anak telah dewasa, pekerjaan mulai ditinggalkan, dan waktu terasa berjalan lebih lambat.
Di saat itulah banyak orang mulai bertanya kepada dirinya sendiri:
Sudahkah aku dekat dengan Al-Qur’an?
Perasaan itu yang dialami Pak Hasan, seorang pensiunan sopir truk. Selama puluhan tahun hidupnya dihabiskan di jalanan, mengangkut barang dari kota ke kota.
“Saya bisa bekerja keras, tapi membaca Qur’an saja belum lancar. Rasanya malu sekali,” katanya.
Namun rasa malu itu akhirnya berubah menjadi tekad. Ia mulai belajar dari nol bersama beberapa teman sebayanya di masjid kampung.
Bagi mereka, mengeja huruf hijaiyah seperti membuka pintu yang selama ini tertutup.
Al-Qur’an: Penyejuk Hati dan Penuntun Hidup
Para ulama sejak dahulu menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan. Ia adalah sumber ketenangan jiwa. Allah SWT berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Banyak orang yang baru merasakan kedalaman ayat-ayat Al-Qur’an ketika usia sudah matang. Setiap huruf yang dibaca seolah menjadi pengingat perjalanan hidup yang telah dilalui.
Bahkan Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi orang yang belajar Al-Qur’an meski terbata-bata.
وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa sulit, maka baginya dua pahala.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi para lansia yang baru belajar mengaji, hadis ini sering menjadi sumber semangat.
Mengaji di Usia Senja, Menguatkan Otak dan Jiwa
Menariknya, belajar membaca Al-Qur’an di usia lanjut juga memiliki manfaat kesehatan.
Sejumlah penelitian dalam bidang neurosains menunjukkan bahwa aktivitas membaca dan menghafal dapat merangsang kerja otak dan membantu menjaga daya ingat pada lansia.
Ahli saraf dari Universitas Indonesia, dr. Taruna Ikrar, pernah menjelaskan bahwa aktivitas membaca Al-Qur’an melibatkan konsentrasi, pengulangan, serta pemrosesan bahasa yang dapat membantu menjaga fungsi kognitif.
“Ketika seseorang membaca Al-Qur’an secara rutin, otak dilatih untuk tetap aktif. Ini baik untuk menjaga memori dan kesehatan mental,” ujarnya dalam beberapa kesempatan kajian ilmiah tentang kesehatan otak.
Selain itu, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an juga terbukti memberikan efek relaksasi yang membantu menurunkan stres dan kecemasan.
Tidak heran jika banyak orang merasa lebih tenang setelah membaca atau mendengarkan Al-Qur’an.
Tak Ada Kata Terlambat
Di banyak majelis Qur’an, sering ditemukan kisah yang menyentuh hati.
Seorang nenek berusia 70 tahun yang baru bisa membaca Al-Qur’an setelah tiga tahun belajar.
Seorang kakek yang menangis ketika pertama kali berhasil menyelesaikan satu halaman mushaf tanpa kesalahan.
Tangis itu bukan tangis kesedihan.
Ia adalah tangis syukur.
Karena pada akhirnya mereka menyadari satu hal:
Tidak ada kata terlambat untuk mendekat kepada Al-Qur’an.
Cahaya yang Menemani Perjalanan Pulang
Usia senja sering disebut sebagai masa kembali kepada Allah. Dalam perjalanan pulang itu, Al-Qur’an menjadi teman yang paling setia.
Setiap huruf yang dibaca bernilai pahala.
Setiap ayat yang direnungkan menjadi cahaya.
Mungkin dulu kita sibuk bekerja, mengejar dunia, atau menunda belajar membaca Al-Qur’an.
Namun pintu itu masih terbuka.
Selama nafas masih berhembus, selama hati masih ingin mendekat kepada Allah, selalu ada kesempatan untuk memulai.
Karena pada akhirnya, banyak orang baru menyadari bahwa kebahagiaan yang paling menenangkan bukanlah harta atau jabatan.
Melainkan ketika hati mampu berkata dengan penuh haru: “Hari ini aku kembali membaca kitab Tuhanku.”
—000—
*Dewan Redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan