
Surabaya (Trigger.id) – Air yang mengalir di sungai sering kali membawa cerita panjang tentang kehidupan kota. Namun, selama bertahun-tahun, sebagian sungai di Surabaya juga membawa persoalan yang sama: tumpukan sampah plastik yang terbawa arus menuju laut.
Kini, cerita itu perlahan berubah.
Di tengah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Surabaya dipercaya menjadi lokasi peluncuran perdana program Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution, sebuah kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Norwegia yang bertujuan menekan pencemaran sampah plastik di sungai sebelum mencapai lautan.
Pemilihan Surabaya bukan tanpa alasan. Kota Pahlawan dinilai memiliki komitmen kuat dalam pengelolaan sampah dan terus menghadirkan berbagai inovasi lingkungan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Di Kali Tebu dan Kali Merutu, dua lokasi percontohan program tersebut, perubahan mulai terlihat. Sungai yang sebelumnya kerap dipenuhi sampah kini perlahan menunjukkan wajah yang lebih bersih. Setiap hari, sekitar satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari kedua aliran sungai tersebut melalui kerja sama pemerintah, komunitas lingkungan, dan warga sekitar.
Namun bagi Pemerintah Kota Surabaya, membersihkan sungai hanyalah satu bagian dari solusi. Yang lebih penting adalah mengubah perilaku masyarakat agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, M. Fikser, menilai edukasi menjadi fondasi utama keberhasilan program. Kesadaran warga untuk memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah dianggap sebagai langkah paling efektif untuk menghentikan aliran sampah menuju sungai.
Perubahan tersebut mulai memberikan dampak nyata. Sampah yang berhasil dikumpulkan tidak lagi dianggap sebagai limbah semata. Melalui proses pemilahan dan pengemasan, sebagian sampah dapat dijual kembali dan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat sekitar.
Dengan demikian, program ini tidak hanya memperbaiki kualitas lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pendekatan ekonomi sirkular yang memanfaatkan kembali material yang sebelumnya terbuang.
Di sisi lain, Surabaya terus memperkuat berbagai gerakan pengurangan sampah dari tingkat masyarakat. Program Kampung Zero Waste dan Kampung Program Iklim (Proklim) menjadi bagian dari strategi besar kota untuk menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Tantangan yang dihadapi memang tidak kecil. Setiap hari, Surabaya menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah. Sebagian telah berhasil dimanfaatkan kembali melalui fasilitas TPS 3R, aktivitas pemulung, maupun teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik. Namun masih ada ratusan ton sampah yang harus ditangani agar tidak berakhir di landfill.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah pusat menunjuk Surabaya sebagai salah satu lokasi pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik. Lahan seluas 5,8 hektare telah disiapkan dan pembangunan fasilitas tersebut ditargetkan dimulai pada akhir tahun ini.
Ke depan, fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya melayani kebutuhan Surabaya, tetapi juga membantu mengelola sampah dari wilayah aglomerasi seperti Sidoarjo, Gresik, dan Lamongan.
Bagi para pemangku kepentingan, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari berapa ton sampah yang berhasil diangkat dari sungai. Ukuran sesungguhnya adalah ketika masyarakat semakin sadar untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya dan menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari budaya sehari-hari.
Karena itu, edukasi dan perubahan perilaku menjadi jantung dari seluruh program yang dijalankan. Pemerintah, lembaga internasional, komunitas, dan warga didorong untuk bergerak bersama menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Sebagai kota pertama yang meluncurkan program kerja sama Indonesia–Norwegia ini, Surabaya kini memikul peran lebih besar. Bukan hanya membersihkan sungainya sendiri, tetapi juga menjadi contoh bagaimana kolaborasi, inovasi, dan partisipasi masyarakat dapat menjadi kunci untuk menghentikan sampah plastik sebelum mencapai laut.
Dari tepian Kali Tebu dan Kali Merutu, sebuah harapan sedang dibangun: bahwa sungai yang bersih bukan sekadar impian, melainkan masa depan yang dapat diwujudkan bersama. (ori)



Tinggalkan Balasan