
Pasuruan (Trigger.id) – Di tengah meningkatnya perhatian terhadap perlindungan anak di berbagai lembaga pendidikan, pesantren terus berupaya memperkuat perannya sebagai tempat belajar yang tidak hanya mencetak generasi berilmu, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang aman dan nyaman bagi para santri. Semangat inilah yang mewarnai peluncuran Gerakan Nasional Pesantrenku Aman Ramah Anak yang digagas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Satuan Anti Kekerasan (Saka) Pesantren.
Pondok Pesantren Al Yasini di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menjadi titik awal perjalanan gerakan tersebut. Selama dua hari, para pengasuh pesantren, ustaz, ustazah, musyrif, musyrifah, hingga para santri berkumpul dalam serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperkuat pemahaman tentang perlindungan anak dan pencegahan kekerasan di lingkungan pesantren.
Bagi Ketua Saka Pesantren PBNU, Alissa Wahid, gerakan ini lahir dari kebutuhan nyata untuk memperkuat sistem perlindungan santri. Menurutnya, pesantren harus terus menjadi ruang yang aman dan ramah bagi setiap anak yang menuntut ilmu. Karena itu, kegiatan tidak hanya berisi sosialisasi, tetapi juga pelatihan praktis yang membekali peserta dengan pemahaman mengenai pendidikan seksual, literasi media, serta pola pengasuhan yang berorientasi pada perlindungan anak.
Suasana dialog juga terasa dalam Halaqah Pengasuh Pesantren yang mempertemukan para kiai, pengasuh, dan narasumber ahli. Dalam forum tersebut, berbagai pengalaman dan gagasan dibahas untuk mencari model perlindungan anak yang efektif, namun tetap selaras dengan karakter, budaya, dan nilai-nilai yang hidup di lingkungan pesantren.
Lebih dari sekadar kampanye, gerakan ini mendorong setiap pesantren membangun mekanisme internal yang mampu mendeteksi, menangani, dan melaporkan berbagai bentuk kekerasan secara cepat dan tepat. Harapannya, setiap santri dapat tumbuh dan belajar dalam suasana yang mendukung perkembangan intelektual, emosional, dan spiritual mereka.
Gaung gerakan ini tidak berhenti di Jawa Timur. PBNU berencana membawa program serupa ke Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Tengah dengan melibatkan ribuan peserta dari berbagai pesantren. Langkah tersebut menunjukkan bahwa isu perlindungan anak telah menjadi perhatian bersama yang melampaui batas wilayah dan jenis lembaga pendidikan.
Pada akhirnya, Gerakan Nasional Pesantrenku Aman Ramah Anak merupakan ikhtiar kolektif untuk menjaga marwah pesantren sebagai rumah pembelajaran yang bermartabat. Melalui deklarasi bersama dan komitmen yang akan diteguhkan dalam rangkaian kegiatan ini, pesantren diharapkan semakin kokoh menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh kasih bagi generasi penerus bangsa dalam menimba ilmu dan membangun masa depan. (ian)



Tinggalkan Balasan