

Ada satu kegelisahan yang hampir dimiliki setiap manusia: takut tidak cukup rezeki.
Karena takut itulah seseorang bekerja lebih lama, menambah jam lembur, membuka usaha sampingan, mengejar proyek tambahan, bahkan terkadang mengorbankan waktu bersama keluarga. Tidak sedikit pula yang merasa cemas ketika melihat orang lain lebih sukses, lebih cepat kaya, atau tampak lebih beruntung dalam hidup.
Padahal, jauh sebelum kita lahir ke dunia, Allah telah menetapkan jatah rezeki setiap hamba-Nya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidak ada satu jiwa pun yang akan meninggal hingga ia menyempurnakan rezekinya dan menyempurnakan ajalnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menghadirkan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada seorang pun yang meninggal karena belum kebagian rezekinya. Tidak ada pula yang dapat mengambil jatah rezeki orang lain.
Apa yang menjadi milik kita akan datang pada waktunya. Apa yang bukan milik kita, sekeras apa pun dikejar, tidak akan pernah benar-benar menjadi milik kita.
Sering kali manusia mengira bahwa hasil sepenuhnya ditentukan oleh usaha. Padahal usaha hanyalah sebab, sedangkan hasil adalah kehendak Allah.
Ada orang yang bekerja siang malam tetapi hasilnya biasa saja. Ada yang terlihat bekerja lebih santai namun pintu rezekinya terbuka dari berbagai arah. Ada yang sudah menyiapkan segala sesuatu dengan sempurna tetapi peluang itu jatuh ke tangan orang lain. Ada pula yang nyaris menyerah, lalu pertolongan Allah datang dari arah yang sama sekali tidak disangka.
Allah SWT berfirman:
“Dan di langit terdapat rezekimu dan terdapat pula apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)
Ayat ini seolah mengingatkan bahwa sumber rezeki bukanlah kantor, pasar, pelanggan, jabatan, atau relasi. Semua itu hanya perantara. Pemberi rezeki yang sesungguhnya adalah Allah.
Kesadaran ini bukan berarti mengajarkan seseorang untuk bermalas-malasan. Justru Islam memerintahkan umatnya bekerja, berusaha, dan menjemput karunia Allah dengan sungguh-sungguh.
Namun ada perbedaan besar antara bekerja karena tawakal dan bekerja karena kecemasan.
Orang yang bekerja karena kecemasan selalu merasa kurang. Setelah mendapatkan satu target, ia takut kehilangan. Setelah memperoleh keuntungan, ia khawatir tidak mendapatkannya lagi. Hidupnya dipenuhi rasa gelisah.
Sebaliknya, orang yang bekerja dengan tawakal memahami bahwa tugasnya adalah berikhtiar sebaik mungkin. Adapun hasilnya, ia serahkan kepada Allah. Jika berhasil, ia bersyukur. Jika belum berhasil, ia bersabar dan memperbaiki usaha.
Ia tahu bahwa yang tertulis untuknya tidak akan meleset.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Perhatikan burung dalam hadis tersebut. Ia tetap terbang mencari makan. Ia tidak berdiam di sarang sambil menunggu makanan jatuh dari langit. Namun ia juga tidak membawa kegelisahan berlebihan tentang esok hari.
Ia bergerak, lalu percaya.
Mungkin itulah pelajaran yang sering terlupakan oleh manusia modern. Kita diajarkan bekerja keras, tetapi kadang lupa percaya kepada Allah. Kita diajarkan membuat rencana, tetapi kadang lupa bahwa ada takdir yang bekerja di atas semua rencana.
Karena itu, ketika sebuah peluang hilang, jangan terlalu bersedih. Ketika usaha belum membuahkan hasil, jangan terlalu putus asa. Ketika melihat orang lain memperoleh apa yang kita inginkan, jangan iri.
Boleh jadi Allah sedang menyimpan sesuatu yang lebih baik. Boleh jadi waktu yang tepat belum tiba. Dan boleh jadi apa yang kita kejar sebenarnya bukan bagian rezeki yang ditetapkan untuk kita.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat mengumpulkan harta. Hidup adalah perjalanan untuk menjemput rezeki yang sudah Allah tetapkan dengan cara yang halal, penuh syukur, dan hati yang tenang.
Sebab tidak ada satu pun manusia yang akan meninggalkan dunia ini sebelum seluruh rezekinya disempurnakan oleh Allah.
Tidak kurang.
Tidak lebih.
Dan tidak pernah tertukar.
—000—
*Pemimpin redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan