
Surabaya (Trigger.id) — Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan perannya sebagai salah satu penggerak utama transformasi industri hasil hutan nasional melalui penyelenggaraan Indo Wood Expo 2026 yang resmi dibuka di Surabaya, Kamis.
Pameran berskala internasional tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kehutanan, Kementerian Ekonomi Kreatif, pelaku industri kehutanan dan furnitur, investor, pembeli mancanegara, akademisi, hingga berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri.
Dalam sambutan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang dibacakan Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur, Dr. Ir. Jumadi, M.MT, ditegaskan bahwa Indo Wood Expo 2026 bukan sekadar ajang promosi produk kayu, melainkan wadah strategis untuk memperkuat investasi, inovasi, dan kolaborasi dalam membangun industri kehutanan yang berkelanjutan.
Menurut Khofifah, dinamika ekonomi global, perubahan geopolitik, serta meningkatnya tuntutan terhadap produk ramah lingkungan justru membuka peluang baru bagi industri hasil hutan Indonesia.
“Dunia saat ini tidak hanya membutuhkan produk kayu berkualitas tinggi, tetapi juga produk yang diproses secara berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi, sekaligus berdampak sosial bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam rantai pasok industri kehutanan nasional. Provinsi ini tercatat memiliki sekitar 1.332 unit industri pengolahan kayu yang menghasilkan beragam produk mulai dari plywood, furnitur, moulding, engineered wood hingga produk kreatif berbasis kayu.
Produk-produk tersebut telah menembus berbagai pasar internasional, termasuk Amerika Serikat, kawasan Eropa, Timur Tengah, Jepang, dan Korea Selatan. Nilai ekspor industri kayu Jawa Timur saat ini mencapai sekitar 2,5 miliar dolar AS dan menjadi salah satu kontributor penting bagi perekonomian daerah maupun nasional.
Dari sisi pasokan bahan baku, Jawa Timur didukung produksi kayu rakyat mencapai 3,5 hingga 4 juta meter kubik per tahun yang diperkuat dukungan Perhutani dan program perhutanan sosial. Keunggulan tersebut semakin lengkap dengan ketersediaan tenaga kerja terampil, infrastruktur pelabuhan internasional, lembaga pendidikan, pusat inovasi, serta jaringan perdagangan global yang kuat.
Untuk memperkuat daya saing industri hasil hutan Indonesia di pasar internasional, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan empat agenda utama. Pertama, mempercepat hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah produk di dalam negeri. Kedua, memperkuat pengelolaan hutan berkelanjutan melalui sinergi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan perguruan tinggi.
Ketiga, memperluas akses pasar global melalui peningkatan kualitas produk, sertifikasi keberlanjutan, serta inovasi desain. Keempat, mendorong percepatan ekonomi hijau yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Sebagai bagian dari upaya modernisasi tata kelola sektor kehutanan, Jawa Timur juga telah mengembangkan Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan Rakyat (SIPUHH-R). Platform ini memungkinkan ketelusuran asal-usul kayu rakyat sehingga mendukung transparansi dan pemenuhan standar sertifikasi keberlanjutan yang semakin dibutuhkan pasar dunia.
Menutup sambutannya, Khofifah mengajak seluruh pelaku industri memanfaatkan Indo Wood Expo 2026 sebagai momentum untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama industri kayu global.
“Dari Surabaya, kita menunjukkan kepada dunia bahwa industri kayu Indonesia tidak hanya mengikuti perubahan global, tetapi siap memimpin perubahan tersebut. Hutan bukan sekadar warisan yang harus dijaga, melainkan modal masa depan yang harus dikelola secara bijaksana demi kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Melalui penyelenggaraan Indo Wood Expo 2026, Jawa Timur berharap tercipta kemitraan yang semakin kuat antara pemerintah, dunia usaha, investor, masyarakat, dan pasar internasional guna mempercepat transformasi industri kehutanan yang produktif, inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. (ian)



Tinggalkan Balasan