
Surabaya – Industri mebel dan kerajinan Indonesia menghadapi perubahan besar dalam peta persaingan global. Jika pada masa lalu keunggulan harga menjadi faktor utama untuk memenangkan pasar, kini konsumen dan pembeli internasional menuntut lebih dari sekadar produk yang murah. Desain, keberlanjutan, kualitas, dan nilai cerita di balik sebuah produk menjadi faktor yang semakin menentukan.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menjelang pelaksanaan Indo Wood Expo 2026 yang berlangsung di Grand City Surabaya, 4–6 Juni 2026.
Menurut Abdul Sobur, industri furnitur nasional saat ini berada dalam fase transisi. Ketidakpastian ekonomi global, tingginya suku bunga di sejumlah negara tujuan ekspor, serta perubahan rantai pasok internasional membuat pelaku industri harus beradaptasi dengan cepat.
“Kondisi pasar dunia sedang berubah. Pembeli semakin selektif dan berhati-hati dalam melakukan pemesanan. Mereka tidak lagi hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kualitas, desain, keberlanjutan, serta identitas produk yang ditawarkan,” ujarnya.
Dalam satu hingga dua tahun terakhir, HIMKI mencermati perubahan perilaku pembeli global. Banyak importir kini mengurangi stok dan memilih melakukan pemesanan dalam jumlah lebih kecil dengan frekuensi yang lebih sering. Di saat yang sama, permintaan terhadap produk yang memiliki nilai tambah terus meningkat.
Menurut Sobur, tren tersebut menjadi sinyal bahwa Indonesia harus segera mengubah strategi persaingan.
“Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan harga murah. Masa depan industri furnitur Indonesia ditentukan oleh kemampuan menghadirkan produk yang kreatif, inovatif, dan memiliki diferensiasi yang kuat di pasar global,” katanya.
Tiga Tren Besar Industri Furnitur Dunia
Abdul Sobur menjelaskan, setidaknya ada tiga tren utama yang saat ini membentuk arah industri furnitur global.
Pertama, meningkatnya tuntutan terhadap praktik keberlanjutan dan penggunaan bahan baku yang bertanggung jawab. Konsumen dunia semakin memperhatikan asal-usul bahan, legalitas kayu, hingga jejak lingkungan dari produk yang mereka beli.
Kedua, meningkatnya kebutuhan terhadap inovasi desain dan produk yang lebih personal. Pasar global kini menginginkan furnitur yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki karakter dan identitas yang kuat.
Ketiga, kebutuhan akan rantai pasok yang lebih tangguh dan fleksibel. Banyak negara dan perusahaan berupaya melakukan diversifikasi sumber pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara atau kawasan tertentu.
Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat produksi furnitur dunia.
Modal Besar yang Dimiliki Indonesia
Sobur menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara pesaing.
Selain didukung sumber daya alam yang melimpah seperti kayu, rotan, bambu, dan berbagai material alami lainnya, Indonesia juga memiliki tradisi kerajinan yang telah berkembang selama ratusan tahun.
Keunggulan lain terletak pada kekayaan budaya yang menjadi sumber inspirasi desain. Ribuan motif, bentuk, dan filosofi lokal dapat diterjemahkan menjadi produk furnitur dan kerajinan yang unik serta bernilai tinggi.
“Indonesia memiliki kekuatan pada kreativitas dan budaya. Ini merupakan keunggulan yang sulit ditiru negara lain,” katanya.
Meski demikian, Sobur mengingatkan bahwa persaingan regional semakin ketat. Vietnam, misalnya, mampu tumbuh pesat berkat ekosistem manufaktur yang terintegrasi, produktivitas yang tinggi, dan kecepatan dalam pengambilan keputusan bisnis. Sementara Malaysia memiliki sistem industri yang relatif matang dan iklim investasi yang kompetitif.
Karena itu, Indonesia harus membangun keunggulan baru yang berbasis pada desain, inovasi, dan nilai tambah.
Teknologi Menjadi Kunci
Selain kreativitas, teknologi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri.
Menurut HIMKI, otomatisasi, digitalisasi, dan teknologi manufaktur modern kini menjadi kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi produksi, menjaga kualitas, mempercepat proses kerja, serta memperkuat hubungan dengan pembeli internasional.
Namun demikian, penerapan teknologi tidak dimaksudkan untuk mengurangi peran tenaga kerja.
“Yang kita bangun adalah smart manufacturing, yaitu perpaduan antara teknologi dan sumber daya manusia yang terampil. Teknologi harus menjadi alat untuk meningkatkan kemampuan manusia, bukan menggantikannya,” ujar Sobur.
Optimistis Menatap Masa Depan
Di tengah berbagai tantangan, HIMKI tetap optimistis terhadap prospek industri furnitur nasional. Pasar furnitur global diperkirakan terus berkembang dalam jangka panjang, sementara Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat manufaktur sekaligus pusat desain furnitur yang diperhitungkan dunia.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan dukungan berbagai pihak melalui konsistensi regulasi, peningkatan infrastruktur logistik, perluasan akses pembiayaan, peningkatan produktivitas industri, serta investasi yang lebih besar pada teknologi dan pengembangan sumber daya manusia.
Melalui penyelenggaraan Indo Wood Expo 2026, HIMKI berharap industri mebel dan kerajinan Indonesia semakin siap menghadapi perubahan pasar global dan mampu naik kelas dalam rantai nilai internasional.
“Ambisi kita bukan hanya meningkatkan ekspor furnitur. Yang ingin kita ekspor adalah kreativitas, budaya, dan nilai tambah Indonesia kepada dunia. Di situlah masa depan industri ini berada,” tutur Abdul Sobur. (wah)



Tinggalkan Balasan