
Surabaya (Trigger.id) – Perayaan Iduladha 1447 Hijriah telah berlalu. Ribuan hewan kurban telah disembelih dan dagingnya didistribusikan kepada masyarakat di berbagai penjuru Kota Surabaya. Di balik lancarnya pelaksanaan ibadah kurban tersebut, Pemerintah Kota Surabaya memastikan satu hal penting: daging kurban yang diterima warga aman untuk dikonsumsi.
Kepastian itu disampaikan setelah Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya merampungkan evaluasi pengawasan kesehatan hewan kurban yang dilakukan selama masa Iduladha. Hasilnya menunjukkan bahwa sistem pengawasan berjalan efektif dalam mencegah organ hewan yang terindikasi penyakit masuk ke rantai distribusi pangan masyarakat.
Dari pemeriksaan yang dilakukan di ratusan lokasi pemotongan, petugas menemukan sekitar 20 kasus cacing hati serta satu kasus cacing pita atau yang kerap dikenal masyarakat sebagai cacing nasi. Temuan tersebut seluruhnya berhasil ditangani di lokasi dengan cara memisahkan dan mengafkirkan organ yang terinfeksi sehingga tidak sampai dikonsumsi warga.
Kepala DKPP Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan bahwa temuan tersebut merupakan hasil pengawasan aktif petugas di lapangan. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengecekan kesehatan hewan sebelum disembelih hingga pemeriksaan organ dan karkas setelah proses pemotongan selesai.
Selama pelaksanaan Iduladha, tim DKPP melakukan pengawasan di 31 kecamatan yang mencakup 296 titik pemotongan hewan kurban. Ribuan hewan diperiksa untuk memastikan kondisi kesehatannya memenuhi syarat sebelum daging didistribusikan kepada masyarakat.
Selain menemukan kasus cacing pada organ hati, petugas juga sempat mendapati seekor sapi yang terindikasi mengalami skabies saat pemeriksaan di lapak penjualan sebelum hari raya. Hewan tersebut segera diisolasi untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit. Sementara beberapa hewan lainnya mengalami kelelahan akibat perjalanan panjang dari daerah asal dan mendapatkan penanganan langsung dari petugas.
Menurut Nanik, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap temuan cacing hati pada hewan kurban. Sebab, infeksi tersebut umumnya hanya menyerang organ tertentu, terutama hati, dan tidak membuat seluruh daging menjadi tidak layak konsumsi. Yang terpenting adalah memastikan organ yang terinfeksi tidak dibagikan kepada penerima kurban.
Karena itu, edukasi kepada panitia kurban dan takmir masjid menjadi bagian penting dari pengawasan. Pemahaman mengenai cara mengenali organ yang tidak layak konsumsi dinilai sangat membantu dalam menjaga keamanan pangan di tingkat masyarakat.
Data evaluasi menunjukkan petugas melakukan pemeriksaan pascapemotongan terhadap 2.123 ekor sapi, 4.772 ekor kambing, dan 133 ekor domba. Sementara pada tahap pemeriksaan sebelum penyembelihan, sebanyak 4.890 ekor sapi, 11.142 ekor kambing, serta 452 ekor domba telah diperiksa kesehatannya di lapak-lapak penjualan.
Pasca-Iduladha, hasil evaluasi tersebut menjadi gambaran penting bahwa pengawasan kesehatan hewan kurban tidak hanya berfungsi mendeteksi penyakit, tetapi juga melindungi masyarakat dari risiko mengonsumsi pangan yang tidak memenuhi standar kesehatan. Dengan pengawasan berlapis dari lapak penjualan hingga lokasi pemotongan, Pemkot Surabaya memastikan semangat berbagi dalam ibadah kurban tetap berjalan seiring dengan terjaganya keamanan pangan bagi seluruh warga. (ian)



Tinggalkan Balasan