
Probolinggo (Trigger.id) – Kabut tipis masih menyelimuti kawasan Gunung Bromo ketika ribuan warga Suku Tengger mulai bergerak menuju bibir kawah, Senin (1/6/2026). Dengan mengenakan busana adat khas Tengger, mereka membawa beragam hasil bumi, mulai dari sayuran, buah-buahan, hingga hasil ternak untuk dipersembahkan dalam Upacara Yadnya Kasada, tradisi sakral yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.
Satu per satu warga menaiki anak tangga menuju kawah Bromo. Di tengah udara dingin pegunungan dan aroma belerang yang khas, sesaji kemudian dilemparkan ke dalam kawah gunung yang oleh masyarakat Tengger dianggap sebagai tempat suci. Persembahan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas berkah kehidupan, hasil panen, kesehatan, dan keselamatan yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi Wasa.
Bagi masyarakat Tengger, Yadnya Kasada bukan sekadar ritual adat, melainkan bagian dari identitas budaya dan spiritual yang terus dijaga lintas generasi. Tradisi ini berakar pada legenda Roro Anteng dan Joko Seger, pasangan yang dipercaya menjadi leluhur Suku Tengger. Dalam kisah tersebut, keduanya memperoleh keturunan setelah berjanji akan mempersembahkan anak bungsunya kepada para dewa. Janji itulah yang kemudian dikenang melalui ritual persembahan Kasada setiap tahun.
Di sepanjang prosesi, suasana khidmat begitu terasa. Doa-doa dipanjatkan oleh para dukun adat dan tokoh masyarakat sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar kehidupan masyarakat Tengger senantiasa diberkahi. Ritual tersebut juga menjadi momentum mempererat hubungan sosial antarwarga yang datang dari berbagai desa di kawasan Tengger, baik di Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, maupun Malang.
Menariknya, di tengah perkembangan zaman, Upacara Yadnya Kasada tetap mampu mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya. Ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara yang hadir setiap tahun menjadi saksi bagaimana masyarakat Tengger menjaga harmoni antara manusia, alam, dan keyakinan spiritual. Tradisi ini sekaligus menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya hidup dalam cerita, tetapi juga terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi warga Tengger, hasil bumi yang dilemparkan ke kawah bukanlah bentuk kehilangan, melainkan simbol ketulusan untuk berbagi dan bersyukur. Mereka meyakini bahwa apa yang dipersembahkan akan kembali dalam bentuk berkah yang lebih besar bagi kehidupan dan alam yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Saat matahari mulai meninggi dan kabut perlahan menghilang dari puncak Bromo, prosesi Yadnya Kasada pun berakhir. Namun makna yang terkandung di dalamnya tetap hidup: sebuah pengingat bahwa rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, dan keseimbangan dengan alam merupakan nilai-nilai yang terus dijaga oleh masyarakat Tengger di tengah arus modernitas. (ian)



Tinggalkan Balasan