
Washington (Trigger.id) – Presiden Donald Trump dilaporkan meminta Israel untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi milik Iran, menyusul meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Teluk.
Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa sebelumnya Trump sempat memberikan persetujuan atas serangan Israel ke ladang gas South Pars. Langkah tersebut disebut sebagai respons terhadap tindakan Iran yang menutup Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.
Namun situasi berubah setelah Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar fasilitas energi di sejumlah negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Bahrain. Serangan ini menandai eskalasi signifikan yang berpotensi mengganggu stabilitas energi global.
Salah satu serangan terjadi di kawasan industri Ras Laffan, Qatar, yang dikenal sebagai pusat produksi gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Media Al Jazeera melaporkan fasilitas tersebut mengalami kebakaran hebat dan kerusakan serius akibat hantaman rudal.
Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan bahwa serangan Iran melibatkan lima rudal balistik. Sistem pertahanan udara berhasil mencegat sebagian besar rudal, namun satu di antaranya tetap menghantam kawasan industri tersebut dan memicu kebakaran. Tim tanggap darurat langsung dikerahkan untuk mengendalikan situasi, sementara laporan awal memastikan tidak ada korban jiwa.
Perusahaan energi nasional, QatarEnergy, juga mengonfirmasi kerusakan signifikan di lokasi tersebut, meski operasional penanganan darurat berjalan cepat.
Ketegangan semakin meningkat mengingat Qatar merupakan lokasi Pangkalan Udara Al Udeid, instalasi militer terbesar Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Pangkalan ini menjadi pusat operasi udara dan intelijen utama Washington di wilayah tersebut.
Hingga kini, Amerika Serikat disebut masih menunggu langkah lanjutan Iran, terutama terkait kebijakan strategis di Selat Hormuz, yang berperan penting dalam jalur distribusi energi global. (ian)



Tinggalkan Balasan