
Surabaya (Trigger.id) – Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa vitamin D berpotensi membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2 pada kelompok tertentu, terutama mereka yang memiliki variasi genetik tertentu. Temuan ini membuka peluang baru dalam pendekatan kesehatan yang lebih personal berbasis genetika.
Prediabetes saat ini menjadi masalah kesehatan yang cukup besar. Kondisi ini terjadi ketika kadar gula darah berada di atas normal, namun belum masuk kategori diabetes. Jika tidak ditangani, prediabetes dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal JAMA Network Open, peneliti menganalisis kembali data penelitian D2d tahun 2019 yang melibatkan lebih dari 2.000 peserta dengan prediabetes. Saat itu, peserta mengonsumsi 4.000 IU vitamin D3 setiap hari selama empat tahun.
Hasil awal penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D secara umum tidak memberikan penurunan risiko diabetes yang signifikan dibandingkan plasebo. Namun, analisis terbaru menemukan fakta menarik: sebagian peserta dengan variasi gen tertentu ternyata mendapatkan manfaat lebih besar.
Peneliti menemukan bahwa peserta yang memiliki variasi gen reseptor vitamin D tipe AC atau CC mengalami penurunan risiko diabetes tipe 2 hingga 19 persen. Sementara itu, peserta dengan variasi gen AA tidak menunjukkan perubahan berarti.
Reseptor vitamin D sendiri berfungsi membantu tubuh menggunakan vitamin D secara optimal. Reseptor ini terdapat di berbagai organ tubuh, termasuk sel beta pankreas yang memproduksi insulin. Jika fungsi vitamin D berjalan baik, maka produksi dan kerja insulin diyakini dapat lebih terjaga.
Meski hasil penelitian ini dinilai menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa vitamin D bukan solusi tunggal untuk mencegah diabetes. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan pengaruh faktor genetik tersebut pada berbagai kelompok ras dan etnis.
Selain itu, konsumsi vitamin D juga tidak boleh berlebihan. Karena vitamin D larut dalam lemak, kelebihannya dapat menumpuk di tubuh dan memicu hiperkalsemia, yaitu kondisi kadar kalsium darah terlalu tinggi. Gejalanya bisa berupa mual, lemas, kebingungan, hingga batu ginjal.
Para ahli merekomendasikan asupan vitamin D sekitar 600 IU per hari untuk orang dewasa hingga usia 70 tahun dan 800 IU untuk usia di atas 70 tahun. Batas aman konsumsi harian maksimal berada di angka 4.000 IU.
Untuk mencegah diabetes tipe 2, pola hidup sehat tetap menjadi langkah utama. Mengonsumsi makanan rendah karbohidrat dan tinggi serat, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, serta memeriksakan kesehatan secara berkala tetap menjadi kunci penting.
Olahraga aerobik dan latihan kekuatan juga dianjurkan karena otot mampu membantu metabolisme gula darah lebih baik dibandingkan lemak tubuh. Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat merekomendasikan obat seperti metformin atau terapi lain guna menekan risiko diabetes. (ian)
Sumber: Health.com



Tinggalkan Balasan